Menyimak berbagai jenis pertunjukan musik di Indonesia, sulit dimungkiri bahwa dangdut dapat menarik perhatian banyak kalangan (Setiawan, 2018). 

Hal itulah yang tampak ketika Nita Thalia tampil beberapa waktu silam (Biduanita Nusantara, 2018). Pengunjung yang menghadiri pertunjukan musik tersebut terbilang ramai. Apalagi sosok utama yang tampil ialah Nita Thalia, penyanyi dangdut yang sudah lama melintas di belantika musik Indonesia.

Musik adalah bahasa universal, yang dapat menjadi sarana berinteraksi antarbangsa lintas budaya (Setiawan, 2017). 

Di Indonesia, dangdut terbilang genre musik yang mudah menjamah masyarakat, khususnya buat yang sedang dalam kesulitan seiring larik lirik yang secara umum banyak memuat pergulatan pribadi dalam berjuang di tengah kehidupan sosial yang kadang timpang (Setiawan, 2018). Sementara Nita Thalia termasuk penyanyi yang mudah menarik kunjungan penonton sekaligus memiliki daya pikat kuat untuk membuat pengunjung larut dalam pertunjukan.

Nita Thalia, ketika tampil, seakan menghipnotis penikmat pertunjukan, yang kebanyakan lelaki, untuk menuruti kemauannya. Mulai dari mengusap keringat, menundukkan badan guna menjadi tumpangan kaki, sampai memberdayakan mata dengan suguhan pantatnya. Hal itulah yang tampak dalam aksi panggung tersebut.

Nita Thalia yang berpakaian serbamerah langsung menghentak penonton lewat lagu kesukaannya, Goyang Heboh. Tak ayal, ribuan penonton pun terhanyut dan berjoget di tengah dinginnya malam. Padahal beberapa waktu sebelumnya hujan deras melanda sekitar panggung.

Selain Goyang Heboh, penampilan Nita Thalia pada malam itu juga menyuguhkan Konco Mesra, yang diiringi dengan kebiasaannya melempar ‘kenang-kenangan mahal’ untuk penggemar, Arjuna Buaya, Sayang, Ditinggal Rabi, Juragan Empang, serta lagunya sendiri berjudul Aku Mau Lagi (Biduantita Nusantara, 2018).

Bicara tentang Nita Thalia, salah satu perubahan drastis yang dialami ialah bentuk wajahnya. Penyanyi yang sangat menyukai musik rock tersebut dulu dikenal memiliki wajah chubby. Namun, wajah chubby kini tak lagi identik dengan Nita. Pasalnya, operasi plastik (plastic surgery) yang dilakukan oleh Nita membuat wajahnya tampak seperti v-line.

“Operasi pertama dilakukan pada tanggal 7 Oktober tahun 2011 itu udah operasi hidung, 2 bulan kemudian pipi, diambil lemak pipi kiri-kanan gitu,” tutur Nita Thalia menceritakan proses operasi plastik yang dilakukan.

“Dan saya tidak potong rahang, gitu, karena orang bilang saya potong rahang, saya enggak potong rahang, rahang saya masih asli, jadi saya cuman... dokter cuma ngambil lemak di pipi, kiri dan kanan, setelah itu karena usia saya makin bertambah tua, kerutan di bagian mata juga udah banyak juga, kantung mata saya juga udah... 

eee apa namanya, udah aaa cukup besar kan kantung matanya, dan karena itu dokter menyarankan untuk pasang implan dagu supaya kelihatan bentuk wajahnya jadi v-line gitu, jadi kayak v gitu kan, kayak orang yang potong rahang gitu. Nah, tapi ternyata implan yang dipasang itu terlalu panjang, saya nggak begitu suka gitu kan, jadi senengnya tu pengennya tu yang natural, ini juga hidung pasang implannya natural, yang sekarang dagu juga natural juga, udah.” pungkasnya.

Operasi plastik tersebut memang mendapat banyak cibiran dari beberapa kalangan. Namun, Nita tak mempermasalahkan karena keluarga memberi sambutan hangat. Putrinya, Syandrina Salshabella yang lahir pada 28 September 2006, merasa senang dengan penampilan baru ibunyatersebut. Pun dengan suaminya, Nurdin Rudythia, yang dinikahi pada 27 Agustus 2000 silam.

“Dia (Syandrina, ars) seneng katanya, ih hidung bunda jadi bagus katanya, bunda aku jadi cantik, gitu dia seneng, ya suami juga seneng, aaa... mudah-mudahan senang selamanya, hehehe,” ucap Nita menyampaikan.

Selain keluarga, Nita juga tak mengalami masalah dengan pekerjaan setelah melakukan operasi plastik. Bahkan dirinya merasa lebih nyaman menjalani keseharian. 

“Ya alhamdulillah saya lebih nyaman, aa jalan ke mana pun gitu kan, aa lebih nyaman, lebih percaya diri, lebih apa ya mmm ya pokoknya merasa aa dengan melakukan plastic surgery ini merasa udah cukup lah gitu,” tukas Nita.

Walau begitu, penyanyi kelahiran Bandung 10 Oktober 1982 tersebut mengaku lebih berkomitmen untuk mengasuh anak ketimbang manggung

“Ya saya ambil hikmahnya dari semua ini, karena a berita tentang saya ini banyak tersebar ke beberapa media, alhamdulillah tawaran pekerjaan banyak sekali, sehingga tim manajemen juga hampir kebingungan untuk mengatur jadwal,” papar Nita, “cuman saya udah komitmen di dalam hati saya aaa saya ingin fokus ngurus anak, jadi kalaupun itu diambil harus pilih-pilih tempatnya jangan yang terlalu jauh-jauh banget.”

Bicara tentang operasi plastik, boleh dibilang akan mengangkat Korea Selatan ke dalam ruang obrolan, seiring peningkatan praktik bedah khusus di negeri gingseng tersebut (Setiawan, 2018b). 

Namun, dilihat dalam peta linikala peradaban manusia, operasi plastik sudah lama dilakukan. Perawatan untuk perbaikan plastik terhadap hidung yang rusak kali pertama disebutkan dalam Edwin Smith Papyrus, transkripsi teks medis Mesir Kuno, salah satu risalah bedah tertua yang diketahui, berasal dari Kerajaan Lama Mesir dari 3000 hingga 2500 SM (Melvin, 2015, hlm. 20; Mazzola & Mazzola, 2012, hlm. 11-2).

Dalam konteks kekinian, Harold Delf Gillies disepakati sebagai bapak operasi plastik modern. Harold Gillies adalah seorang otolaryngologist Selandia Baru yang bekerja di London. Otolaryngologist ialah subspesialisasi bedah dalam kedokteran yang berhubungan dengan kondisi telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dan struktur terkait kepala dan leher. 

Sebagai pelaku medis, Harold Gillies mendapat semat bapak operasi plastik modern karena mengembangkan banyak teknik bedah wajah modern dalam merawat tentara yang menderita cacat wajah selama Perang Dunia Pertama (Chambers, 2009).

Kehadiran operasi plastik di dunia medis turut mendapat sorotan dari beragam kalangan, termasuk dari pengkaji Islam (ulama’; scholar; cerdik-cendekia), keyakinan yang dianut oleh Nita Thalia.

Abu Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam bukunya Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, menjelaskan kebolehan operasi plastik (al-Bassam, 2003, hlm. 238) dengan tuturan berikut:

يَجُوزُ نَقْلُ الْعُضْوِ مِنْ مَكَانٍ مِنْ جِسْمِ الْإِنْسَانِ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ مِنْ جِسْمِهِ مَعَ مُرَاعَاةِ التَّأَكُّدِ مِنْ أَنَّ النَّفْعَ الْمُتَوَقَّعِ مِنْ هذِهِ الْعَمَلِيَّةِ أَرْجَحُ مِنَ الضَّرَرِ الْمُتَرَتَّبِ عَلَيْهَا وَبِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ ذلِكَ لِإِيجَادِ عُضْوٍ مَفْقُودٍ أَوْ لِإِعَادَةِ شَكْلِهِ أَوْ وَظِيْفَتِهِ الْمَعْهُودَةِ لَهُ أَوْ لِإِصْلَاحِ عَيْبٍ أَوْ إِزَالَةِ دَمَامَةٍ تُسَبِّبُ لِلشَّخْصِ أَذًى نَفْسِيٍّا أَوْ عُضْوِيًّا

“Boleh memindah anggota badan dari satu tempat di tubuh seseorang ke tempat lain di tubuhnya, disertai pertimbangan matang, manfaat yang diharapkan dari operasi semacam ini lebih unggul dibanding bahayanya. 

Disyaratkan pula operasi itu dilakukan untuk membentuk anggota badan yang hilang, untuk mengembalikannya ke bentuk semula, mengembalikan fungsinya, menghilangkan cacat, atau menghilangkan bentuk jelek yang membuat seseorang mengalami tekanan jiwa atau gangguan fisik.”

Kebolehan yang disampaikan al-Bassam selaras dengan Abdul Karim Zaidan yang menyampaikan pendapat serupa melalui bukunya Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah wa Baitil Muslim fi Syari'ati al-Islamiyyah (Zaidan, 1993, 410) melalui ungkapan berikut:

قَدْ تُصَابُ الْمَرْأَةُ بِشَيْءٍ مِنَ التَّشْوِيهِ فِي وَجْهِهَا أَوْ بِأَجْزَاءٍ ظَاهِرَةٍ مِنْ بَدَنِهَا نَتِيجَةَ حَرْقٍ أَوْ جَرْحٍ أَوْ مَرَضٍ وَهذَا التَّشْوِيهُ لَايُطَاقُ احْتِمَالُهُ لِمَا يُسَبِّبُهُ مِنْ أَدًى مَعْنَوِيٍّ لِلْمَرْأَةِ فَهَلْ يَجُوزُ إِجْرَاءُ عَمَلِيَّاتٍ جِرَاحِيَّةٍ لِإِزَالَةِ هَذَا التَّشْوِيهِ وَلَوْ أَدَّتْ هَذِهِ الْعَمَلِيَّاتُ إِلَى شَيْءٍ مِنَ التَّحْسِينِ وَالتَّجْمِيلِ لِأَنَّ الْقَصْدَ الْأَوَّلَ إِزَالَةُ التَّشْوِيهِ الَّذِي حَصَلَ وَحَتَّى لَوْ قَصَدَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ إِجْرَاءٍ مِنْ هذِهِ الْعَمَلِيَّاتِ تَحْصِيلُ شَيْءٍ مِنَ التَّحْسِينِ بِإِزَالَةِ هذَا التَّشْوِيهِ فَتَبْقَى هذِهِ الْعَمَلِيَّاتُ فِي دَائِرَةِ الْمُبَاحِ لِأَنَّ رَغْبَةَ الْمَرْأَةِ فِي تَحْسِينِ وَجْهِهَا جَائِزَةٌ جَاءَ فِي فِقْهِ الْحَنَابِلَةِ وَلَهَا حَلْقُ وَجْهٍ وَحَفِّهِ وَتَحْسِينِهِ وَتَحْمَيرِهِ

“Seorang perempuan terkadang mengalami suatu cacat di muka, atau anggota badannya yang luar, akibat luka bakar, luka robek, atau penyakit lain. Cacat ini tidak bisa dibiarkan oleh seorang perempuan karena menyebabkan tekanan batin baginya. 

Maka apakah ia boleh menempuh operasi untuk menghilangkannya? Operasi tersebut boleh ditempuhnya, meskipun akan mengarah pada mempercantik dan memperelok diri. Sebab, tujuan utamanya menghilangkan cacat. 

Bahkan, andaikata dengan operasi itu ia berniat untuk mempercantik diri dengan hilangnya cacat tersebut, maka operasi itu tetap dalam taraf diperbolehkan. Sebab kecenderungan perempuan mempercantik wajahnya diperbolehkan. Dalam fiqh madzhab Hanbali ada keterangan, ‘Bagi perempuan boleh mencukur (rambut) wajah, mengikisnya sampai habis, mempercantik dan memerahkannya.”

Saya rasa penjelasan tersebut cukup untuk mendukung operasi plastik yang dilakukan oleh Nita Thalia. Lalu ada dasar yang menjadi pegangan beberapa kalangan pencibir Nita Thalia?

Referensi

  • al-Bassam, Abu Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahman. (2003). Taudhihul ahkam min bulughil marom, vol 3, hlm. 238. Makkah: Al Asadiyyah Library.
  • Biduanita Nusantara. (2018, 21 Agustus). Nita Thalia — full concert. YouTube Biduanita Nusantara.
  • Chambers, James Alan, & Ray, Peter Damian (2009). Achieving growth and excellence in medicine. Annals of Plastic Surgery, 63 (5): 473–478.
  • Mazzola, Ricardo F. & Mazzola, Isabella C. (2012, 5 September). Plastic surgery: principles, hlm. 11–12. Amsterdam: Elsevier Health Sciences.
  • Setiawan, Adib Rifqi. (2017). Musik. adibrs.blogspot.com.
  • Setiawan, Adib Rifqi. (2018a, 1 Maret). Ki Oza Kioza. alobatnic.blogspot.com.
  • Setiawan, Adib Rifqi. (2018b, 28 Juni). Pengalaman Menikmati Drama Korea. selasar.com.
  • Shiffman, Melvin. (2012, 5 September). Cosmetic surgery: art and techniques, hlm. 20. Berlin: Springer.
  • Zaidan, Abdul Karim. (1993). Al-mufashshol fi ahkamil mar’ah wa baitil muslim fi syari'ati al-islamiyyah, vol 3, hlm. 410. Beirut: Risalah Foundation.