Kemarin saya dicecar oleh seorang teman karena ia melihat saya berhenti menulis. Aku paham maksudnya. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya bukan marah karena saya berhenti menulis, tetapi lebih kepada salah satu peristiwa masa lalu yang pernah saya ceritakan kepadanya.

Dulu, saya pernah membuat sebuah jurnal ilmiah. Jurnalnya belum bisa dibilang layak. Namun setelah jurnal ini selesai dikerjakan, hasilnya saya berikan kepada “seseorang”. Jurnal tersebut lalu diedit dan akhirnya rampung olehnya. Orang tersebut bilang, “Saya akan publish jurnal ini ke salah satu jurnal berbahasa inggris”. Tentu saya senang.

Setelah jurnal tersebut disubmit dan terbit, saya kaget karena dalam jurnal tersebut tidak tertera beta punya nama. Saya tidak yakin dan kemudian kembali membaca dengan teliti. Tetapi saya tetap tidak menemukan apa yang dicari. Empat nama yang tertera di halaman pertama adalah nama-nama yang tidak pernah saya kenal. Aneh juga, pikirku. Mungkin dia lupa mencantumkan nama saya.

“Masih ada jurnal selanjutnya, nanti nama kamu saya masukan di situ,” katanya lewat sebuah pesan singkat. Setelah itu, saya berhenti mencari-cari nama sendiri di halaman pertama jurnal tersebut.

Itulah alasan beta punya teman yang sebenarnya. Kawanku itu tidak suka apabila ia menemukan “orang” seperti cerita saya di atas. Buat tulisan biasa saja susah minta ampun apalagi riset ilmiah, katanya.

Kali ini saya mengikuti saran yang dia sampaikan via “cecar”. Saya mencoba untuk mulai menulis beberapa kalimat. Terhenti. Mungkin karena otak saya mulai beku, jarang digunakan jadinya kayak rantai motor yang tidak pernah diminyaki: susah berputar karena berkarat.

Saya mencoba mencari inspirasi, tetapi inspirasi tidak kunjung datang. Jalan satu-satunya adalah Internet, pikirku. Di Internet kan kita bisa menemukan segala sesuatunya. Bahan apa saja yang kita inginkan pasti dapat ditemukan dalam hitungan detik dengan hanya sekali enter. Internet sangat memudahkan orang, tetapi juga dengan cepat dapat menyesatkan orang.

Karena sekarang lagi hangat-hangatnya pembelajaran online, maka saya ingin menulis tentang hal-hal yang berbau pendidikan.

Saya mulai menulis kata kunci di Google “pendidikan di era pandemi Covid-19”. Banyak tautan yang muncul berhamburan. Saya lalu menyeleksi dan menemukan dua informasi menarik.

Pertama, berita dari salah satu media online nasional yang memuat tentang rencana menteri pendidikan untuk mematenkan pembelajaran online setelah pandemi Covid-19 usai (meski kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir). Kedua, kritik yang dilayangkan untuk menteri pendidikan karena berniat mematenkan pembelajaran online.

Bahan yang sangat berbobot untuk jadi topik tulisanku kali ini, pikirku. Tetapi saya belum puas juga. Semacam ada yang kurang. Rasanya belum cukup untuk menjadi sebuah tulisan. Pencarian pun berlanjut.

Saya kembali memasukkan kata kunci di Google. Kali ini berbahasa inggris (meski saya tidak paham-paham amat): online education and Covid-19 pendemic. Dan bingo, saya menemukan apa yang dicari-cari. Ini dia inspirasinya, batinku. Ada sebuah tulisan menarik dengan judul “New Business Opportunities Emerging in China Under COVID-19 Outbreak”.

Dalam berita pertama, saya tidak menemukan motivasi Mas Menteri sehingga dia harus mematenkan sistem pembelajaran online pasca pandemi. Apakah memang sudah saatnya kita belajar seperti itu? Saya juga tidak paham.

Yang jelas bagi saya adalah pembelajaran online tidak bisa dipukul rata untuk dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Indonesia. Soalnya, akses jaringan Internet dan listrik yang masih sangat-sangat terbatas.

Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada 2018 menemukan, meski 171 juta lebih rakyat sudah terhubung dengan Internet, lebih dari 55,7 persen akses Internet itu ada di Pulau Jawa. Di kalimantan hanya 6,6 persen; di Bali dan Nusa Tenggara Timur 5,2 persen; di Sulawesi, Maluku, dan Papua hanya 10,9 persen.

Survei lain, oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama masa pandemi, menemukan 95,4 persen responden menyatakan mengikuti proses pembelajaran hanya dengan memakai ponsel, 23,9 persen memanfaatkan komputer jinjing, dan 2,4 persen memakai komputer.

Di kampung saya sendiri jaringan telekomunikasi masih sangat lambat, hanya bisa untuk sms dan nelpon. Itu pun harus ke tepi pantai atau ke bukit-bukit di belakang kampung. Mungkin saja untuk wilayah perkotaan secara teknis agak masuk akal untuk direalisasikan, tetapi belum untuk daerah-daerah pesisir dan pedalaman.

Pendidikan itu setidaknya punya tiga komponen, yaitu pendidik, peserta didik dan realitas dunia. Itu menurut Paulo Freire. Ruang ekspresi pendidik tentu akan makin dibatasi oleh pembelajaran online.

Bahkan, pendidik akan kehilangan kemampuan untuk memahami perkembangan siswa karena pendidik hanya memantau hasil kerja peserta didik melalui jawaban-jawaban dari soal yang diberikan. Padahal pendidikan itu bukan sekedar angka-angka yang tertera di rapor dan transkrip nilai. Ia pembentuk kepribadian manusia bahkan kepribadian bangsa.

Peserta didik sudah pasti mengalami hal yang sama, yaitu pembatasan ruang gerak dan ekspresi. Saya tidak bisa membayangkan betapa bosannya bila dalam seharian kita hanya menatap layar komputer.

Sebenarnya, tidak seharian juga, setidaknya waktu kita disedot banyak oleh layar komputer Dan, apa yang terjadi dengan realitas dunia? Apakah dapat terakomodasi ketika pembelajaran sistem online diterapkan? Tentang ini saya juga tidak paham. Ruwet, kata Pak Presiden.

Berita kedua itu isinya tentang kritik terhadap rencana Mas Menteri. Saya sebenarnya sepakat dengan isi kritikan itu. Mungkin karena saya tinggal di daerah pesisir dengan kualitas jaringan Internet parah sehingga saya sepakat dengan kritik ini. Intinya, pembelajaran online tidak bisa begitu saja dipatenkan.

Mungkin suatu hari nanti akan bisa, namun pelaksanaannya harus bertahap. Bila tidak, mereka yang di depan akan semakin di depan dan kami yang di belakang akan semakin ditinggal jauh. Jangankan bicara kualitas Internet, handphone dan komputer saja masih menjadi barang mewah di daerah-daerah pedalaman dan pesisir. Barang mewah itu artinya mahal bagi kami dan tentu sulit untuk terjangkau.

Saya punya seorang kawan yang sudah dua tahun mengajar di salah satu universitas yang menerapkan sistem pembelajaran online.

“Kawan, di tempatmu ngajar apakah semua mata kuliah online?” tanyaku singkat.

“Yang bisa di-online-kan ya online, yang tidak bisa online ya offline. Tatap muka,” jawabnya santai.

“Soalnya orang-orang sekarang memahami kalau sudah online ya semuanya online. Tidak ada lagi tatap muka.”

“Matematika, fisika, kimia, biologi, dll. apa mungkin bisa di-online-kan? Tatap muka saja otak kita sudah ambyar, gimana kalau online?”

“Iya juga ya dan pasti akan lucu juga kalau mata mata pelajaran olahraga di-online-kan.”

“Kenapa emang?” ucap kawanku penasaran.

“Kan tidak lucu tuh kalau pas praktik lari, anak-anak disuruh bapak guru olahraga berlari sambil pegang hp untuk buat video.”

Tulisan ketiga ini sangat mengena, setidaknya untuk saya pribadi. Yaitu, sebuah tulisan, oleh Vivian Mao dan Betty Zhang, yang diposting China Briefing memaparkan beberapa kesempatan bisnis baru yang sedang meluas penggunaannya di China saat pandemi wabah Covid-19. Isinya memuat  peluang di bidang online medical care, medical supplies, pharmaceuticals, insurance, E-commerce, telecommuting related industries, dan online education. Poin yang menarik untuk dibicarakan, khususnya bagi saya, adalah poin terakhir ini.

Kok bisa ya pendidikan dijadikan sebagai lahan bisnis baru, pikirku. Apa salahnya? Mungkin tidak ada salahnya. Hanya saja saya merasa aneh.

Dalam poin online education di artikel tersebut tertulis: “As schools will start later, they have started to introduce online teaching and clock-in programs for students so as not to delay the teaching schedule.

“DingTalk, an office software developed by Alibaba group, is widely used by schools and students and has been installed 1.1 billion times during this special period. The technical team of Tencent Education also caught the opportunity. Tencent took Tencent Live Broadcast as the access entry and quickly developed an online education live port – Tencent Classroom, which timely supported the online demand of schools in Wuhan province. Data from February 10 shows that Tencent’s live streaming port carries about 81 percent of the platform’s users. In other words, 730,000 of the 900,000 primary and middle school students in Wuhan chose to learn online through Tencent’s live streaming port.”

Apakah nanti kita juga akan menganggap bahwa pendidikan itu adalah sebuah ladang bisnis? Atau mungkin lebih jauh, kita akan menjadikan ini menjadi sebuah lahan bisnis baru? Jangan-jangan yang berlangsung sekarang ini memang sudah pola bisnis? Semoga saja tidak dan tidak akan pernah terjadi.

Online education sesungguhnya bisa dimanfaatkan secara maksimal, misalnya, kita bisa meniru salah satu langkah positif yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Universitas-universitas besar di Amerika Serikat membuka akses gratis terhadap sekitar 500 mata kuliah online yang mereka selenggarakan bagi siapa pun di seluruh dunia.

Ada 8 universitas Ivy League yang berperan serta dalam program tersebut, yaitu Brown University, Columbia University, Cornell University, Dartmouth University, Harvard University, Penn University, Princeton University dan Yale University. Kedelapan universitas ini menawarkan 438 matakuliah online secara gratis dalam berbagai bidang, antara lain, kedokteran, ilmu komputer, sastra dan seni musik (“Free Online Ivy-League Courses” 2020).

Universitas dan penerbit besar di berbagai negara membagikan koleksi online buku-buku dan jurnal mereka. ANU Press dan Project MUSE, misalnya, membuka akses online buku-buku dan sejumlah jurnal terbitan mereka secara gratis (ANU Press 2020; Muse Publisher 2020).

Hal semacam ini dinamakan solidaritas sosial di dunia pendidikan. Bukan solidaritas di bidang bisnis. Sayangnya, kita belum sampai ke sana. Semoga saja suatu saat nanti.

“Apa tujuan pendidikan kita?” tanya seorang teman suatu ketika.

Tentu saya belum bisa menjawab saat itu, tetapi saya terprovokasi untuk mencari jawabannya.

Pasal 31 Ayat 3 Undang Undang Dasar yang telah diamandemen sebenarnya sudah sangat jelas menggambarkan tujuan dari sistem pendidikan kita: untuk pengembangan keseluruhan potensi manusia demi mencapai kehidupan sejahtera, baik secara fisik, mental dan spiritual.

Dan Pasal 33 Ayat 3 Undang Undang Dasar menjelaskan bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Sedangkan dalam Undang Undang Sisdiknas 2003, pendidikan bertujuan untuk “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Apakah semua ini bisa tercapai dengan sistem pendidikan online? Kalau iya, bagaimana caranya?