Pernahkah kamu menemukan orang yang memiliki sifat berbeda ketika mereka di dunia nyata dan di dunia maya? Seolah mereka memiliki kepribadian ganda? Mungkin seperti dua orang yang berbeda? Pernahkah kamu menemuinya? Atau mungkin, kamu seperti itu?

Misalnya ketika berinteraksi di media sosial, mereka tampak aktif dan terkesan sangat terbuka. Akan tetapi, ketika berinteraksi secara langsung di dunia nyata, mereka sangat pendiam dan tertutup. Dapat dikatakan ekstrover di dunia maya dan introver di dunia nyata. Mungkin juga sebaliknya. 

Fenomena tersebut dinamakan online disinhibition effect (ODE). Tapi tenang, efek disinhibition tidak semuanya berdampak negatif kok. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut.

Gambar oleh James Hummel di https://gallery.moovly.com/

Apa itu Online Disinhibition Effect?

Efek disinhibisi merupakan ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan perilaku, pikiran, dan perasaan ketika berada di dunia maya. Akibatnya, seseorang tampak memiliki kepribadian yang berbeda, di mana perilaku-perilaku tertentu ditampilkan di dunia maya, namun tidak ditampilkan di dunia nyata. Kesenjangan kepribadian menjadi ciri utamanya.

Gambar oleh Jonah Gravenstein di https://forums.eveonline.com/t/just-seeking-confirmation-this-person-has-been-banned-from-echoes/260551/32/

Apa Saja Penyebab Online Disinhibition Effect? 

Kita tentu pernah mengetahui atau mendengar mengenai istilah kepribadian ganda. Gangguan identitas tersebut merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda, yang dapat disebabkan oleh pengalaman traumatis berulang yang terjadi pada masa kecil. Berbeda dengan fenomena kepribadian ganda, ODE lebih disebabkan pada beberapa hal berikut.

1. Anonimitas Disosiatif (Dissociative Anonymity)

Seseorang dapat menyembunyikan jati dirinya di dunia maya karena tidak saling mengenal. Anonimitas atau ketidakjelasan identitas ini memberikan keberanian bagi seseorang untuk tampil menjadi dirinya yang lain, tanpa takut mendapat kritik atau merasa malu. Sehingga tidak jarang seseorang terlihat lebih ekspresif di media sosial.

2. Ketidakterlihatan (Invisibility)

Sama seperti anonimitas, alasan tidak terlihat juga menjadi dorongan bagi seseorang untuk menampilkan diri mereka dengan lebih leluasa. Hal ini mungkin tidak berlaku di dunia nyata, tetapi berlaku di dunia maya. Bahkan kadang hingga melewati batas yang tidak bisa mereka lampaui di dunia nyata.  

3. Asinkronitas (Asynchronicity)

Proses interaksi yang dilakukan melalui laman dunia maya, biasanya terjadi secara asinkronus atau tidak pada waktu yang bersamaan (Binar, 2017). Seperti ketika seseorang tidak langsung membalas pesan di media sosial atau memberikan komentar pada unggahan yang sudah lama dipublikasi.

Keadaan seperti ini memungkinkan seseorang untuk memutus interaksi kapan saja dan bersembunyi dengan mudah saat berhadapan dengan masalah ketika berhubungan online. Istilahnya disebut emotional hit and run (Suler, 2004).

4. Introjeksi Solipsistik (Solipsistic Introjection)

Media sosial tidak mensyaratkan terjadinya interaksi secara face to face. Sementara proses komunikasi terjadi melalui bahasa teks. Seseorang akan mulai membahasakan pesan teks dan memvisualisasikan dengan bahasa, suara, dan imajinasinya sendiri, tanpa pernah mengetahui bagaimana suara dan penampilan asli si pengirim pesan.

Orang akan mulai terbiasa menetapkan gambaran audio visual mengenai karakter orang lain sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Keadaan tersebut membuat seseorang seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Ketika hal itu terjadi, mereka akan mulai mengatakan hal-hal yang tidak mungkin mereka katakan pada orang lain.

5. Imjinasi Disosiatif (Dissociative Imagination)

Beberapa orang menganggap dunia maya sebagai sebuah permainan. Dengan karakter-karakter yang mereka ciptakan dari introjeksi solipsistik. Karakter imajinatif yang mereka ciptakan dari hasil interaksi maya.

Orang mungkin merasa bahwa karakter yang mereka buat dan peran yang mereka mainkan ada di dunia yang berbeda, merupakan khayalan, dan terpisah dari dunia nyata. Apa yang mereka lakukan di dunia maya tidak berpengaruh pada kehidupan nyata. Sehingga permainan dan identitas maya mereka dapat ditinggalkan.

6. Meminimalkan Otoritas (Minimizing Authority)

Konsep kesetaraan berperan dalam membentuk efek disinhibisi. Identitas dan status seseorang di media sosial tidak terlihat. Semua orang dianggap sama (Kurniasari, 2020). Sehingga mereka dapat berkomunikasi tanpa memperhatikan status, tata krama, maupun sopan santun.

7. Kelemahan Dalam Bersosialisasi

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dan membangun interaksi sosial. Beberapa orang cukup malu bahkan takut untuk berbicara. Faktor-faktor tersebut membuat orang lebih nyaman untuk berkomunikasi melalui bahasa tulisan di media komunikasi online.

Atau sebaliknya, bukan karena lemah dalam berbicara, namun karena seseorang lebih terampil dalam menggunakan kata-kata tertulis dalam berkomunikasi. Sehingga mereka lebih percaya diri untuk menulis daripada berbicara.

Gambar oleh Ruth Soukup di https://www.livingwellspendingless.com/

Mungkinkah Kamu Mengalaminya? 

Ketahui hal-hal berikut untuk memastikan apakah kamu salah satu penyintas fenomena ODE ini. Pertama, intesitas dalam menggunakan media sosial. Semakin tinggi intensitas berselancar di media sosial, semakin tinggi pula risiko terkena efek disinhibisi.

Kedua, terjadi ketimpangan cara berperilaku di dunia nyata dan di dunia maya. Seperti, seseorang yang terlihat ceria dan memiliki banyak teman di media sosial justru pemurung dan penyendiri di dunia nyata. Atau yang dikenal baik dan santun di dunia nyata justru sering menebar kebencian di media sosial.

Gambar oleh Alice E.M. Underwood di  https://www.grammarly.com/blog/affect-vs-effect/

Apa Pengaruh Online Disinhibition Effect?

Pada dasarnya, efek disinhibisi dibedakan menjadi dua, yaitu efek yang berkorelasi positif (benign disinhibition) dan yang berkorelasi negatif (toxic disinhibition).

Disinhibisi positif dapat timbul apabila ketidakmampuan mengendalikan perilaku, pikiran, dan perasaan mengarahkan pada aktivitas positif dan menguntungkan di dunia maya. Efek ini akan memberikan dorongan bagi seseorang untuk membangun diri dan menebar hal-hal baik melalui medsos.

Sebaliknya, disinhibisi negatif timbul apabila efek ini mengarahkan pada aktivitas toksik di dunia maya. Seperti berkomentar buruk dan menebarkan kebencian. Alih-alih menyampaikannya secara terang-terangan, mereka akan melakukannya sambil bersembunyi di balik keanoniman identitas maya mereka.

Gambar oleh Juan Pablo Serrano Arenas di  https://www.pexels.com/

Terlepas dari hal-hal di atas, memiliki kepribadian berbeda di dunia nyata dan maya tidak menjadi masalah. Karena  online disinhibition effect tidak selalu berdampak negatif. Seperti benign disinhibition yang berdampak positif. Selalu pastikan saja bahwa kamu tidak terjebak dalam aktivitas toksik dunia maya.

Nah, selain itu yang harus kamu lakukan adalah mengendalikan aktivitas selama bermedia sosial. Kontrol perilaku, pikiran, dan perasaan yang dibagikan ke publik. Dengan begitu kamu dapat memilih untuk tampil dengan kepribadian maya yang positif atau bersembunyi di balik topeng maya yang bersifat negatif.


                                                                                                                                                                                              

Referensi:

Suler, J. (2004). The Online Disinhibition Effect. CyberPsychology & Behavior. Vol. 7 No. 3:321-326. https://doi.org/10.1089/1094931041291295.

Kurniasari, F. (2020). Menilik Disinhibition Effect dalam Bermedia Sosial. Fresh Suaka Online.com. https://fresh.suakaonline.com/menilik-disinhibition-effect-dalam-bermedia-sosial/. (Diakses pada 23 November 2021)

Binar, R. (2017). Online disinhibition effect: Ketika Kepribadian media Sosial-Mu Berbeda. Binakarir. https://binakarir.com/online-disinhibition-effect-ketika-kepribadian-media-sosialmu-berbeda/. (Diakses pada 23 November 2021)