“Angin?”
“Dua pertiga geser kiri!”
"Persipitasi?"
"0.02 mm."
“Gravitasi?”
"Ah, perkirakan saja!"
"Sialan, sudah bosankah?"

Target yang sudah terkunci itu hilang sia-sia karena kebosanan yang melanda spotter (pembidik) yang begitu sangat memuncak. Kebosanan yang berasa di antara hidup dan mati. Detik itu, sniper dan spotter yang katanya sudah terlatih, berada di titik jenuhnya.  

Mata keduanya memerah. Sudah tak terkoreksi lagi pada ukuran idealnya, 20/20 vision. Bola-bola mata mereka terasa kering, sedikit kabur oleh selaput retinanya yang kusut dikucek-kucek oleh waktu dan pemaksaan itu. 

Sang spotter (pembidik) jatuh tertidur, sebelum hitungan gravitasi sampai pada eksekutor.

Malaikat mungkin juga akan bosan melakukan pekerjaan ini. Namun, mereka berdua tetap setia. Hari-harinya diisi dengan memincingkan mata-mata mereka di ujung teleskopnya yang bermerek Schmidt & Bender itu. 

Piranti-piranti yang mampu membesarkan dan mendekatkan bayangan objek hingga 25 kali itu. Harga teleskop itu selangit, uang rakyat.

Ujung bidikan mereka dipenuhi hilir-mudik bayangan objek nontarget yang terkadang terlalu seksi bagi mereka. Tampak bayangan nontarget itu sepertinya mengetahui kehadiran mereka berdua. Bayangan nontarget itu terlihat menyeringai di ujung lensa-lensa taktikal mereka.

Walau bukan sasaran utama, ia begitu mengganggu. Lagi-lagi kedua sniper itu disiplin, demi negara. 

Apalagi kalau malam hari, teleskop ber-night vision milik mereka berdua mampu melihat kuda kawin di halaman rumah target yang tak kunjung keluar itu. Begitu jelas sekali detil-detil percintaan hewan itu. Walau pada jarak 750 meter. 

Memang tak tanggung-tanggung misi mereka berdua. Negaranya membekali senapan Long Range Riffle seri L115A3 kaliber 8.59 mm yang berisi lima butir peluru itu. 

Perbutirnya mampu melubangi pantat target hingga jarak 1,5 kilometer. Tapi di manakah target itu? Apakah masih ada di dalam rumah sederhana di sebuah lembahan pegunungan itu? Dua Petembak runduk itu tak peduli siapa yang akan dihabisi. Yang penting tugas negara!

Berhari-hari sudah mereka betdua hanya tengkurap dengan kamuflase baju Ghillie motif rerumputan kering itu. 

Berteman setia dengan senapan yang seharga 90 juta rupiah itu. Tentunya dibeli dengan uang rakyat!

Setiap dengusan nafas keduanys adalah pemilihan jeda detak jantung yang menjadi pilihan sniper untuk membidik. Sedang sisanya adalah kepedihan misi yang diemban, membunuh!

Berdua yang merunduk itu selalu berharap dan tak putus asa agar target terkunci. Entah itu siapa targetnya, mungkin teman-teman kuliahnya dulu yang sama-sama turun ke jalan untuk demonstrasi, sebelum direkrut jadi sniper.  

Atau, mungkin juga tetangganya yang tampak alim itu. Persetan siapa mereka. Ynag penting, One Shot One God. Satu tembakan satu tuhan. Ya, tuhan-tuhan yang dianggap meresakan negara. Tuhan-tuhan yang berupa nalar-nalar pikir kebebasan yang sulit mengajak dialog moncong senapan yang siap menyalak itu.

Namun, target yang diintai kedua sniper itu tak kunjung muncul. Hanya terlihat beberapa nontarget yang lagi-lagi terlihat jelas di lensa mereka. Jari telunjuk sanag eksekutor serasa mati di pelatuk senapannya. Menahan agar siaga diletuskan atau sebaliknya kaku menunggu dan menunggu lagi. 

Sedang di sebelahnya, sang pengintip (spotter), persis sama keadaannya dengan eksrkutor. Terlihat masih saja menempelkan matanya di bantalan karet alat visinya, sembari terus mengalkulasi hitungan-hitungan balistik, arah angin, persipitasi, suhu, gravitasi, kelembaban dan rotasi bumi.

Hidung-hidung mereka juga terlatih. Super peka membau dan mengendus bak anjing dari apapun atau sesuatu yang khas dari target utama, bau badannya, parfumnya hingga kentutnya. Mereka adalah pengendus dan penjilat penguasa-penguasa yang membesarkannya, yang menggajinya, yang menugaskannya.

Sudah dua tahun ini Baskoro dan Bhirowo bertugas di satuan elit operator sniper kelas AA (double alpha), sebuah level sniper yang berjumlah dua orang atau empat orang, yang masing-masing ada eksekutor dan pengestimasi (spotter). 

Petembak-petembak runduk ini dioperasikan oleh negara untuk menyabut nyawa dalam berbagai tingkatan konflik dengan presisi tinggi yang dilakukan dalam jarak jauh. Targetnya, musuh negara yang bisa jadi adalah rakyatnya sendiri. 

Termasuk juga dalam misi patroli, penyergapan, operasi suburban, pengamanan demonstrasi, operasi kontrasniper, elemen observasi depan, operasi militer di wilayah urban, dan operasi senyap lainnya.

“Bas, kau tak dapat firasat?”
“Ndak, Bhi.”

“Mbah Bejo minta kambing 10 ekor dan sapi satu ekor.”
“Ah, kamu!”

“Si Baju Putih itu memang bangsat!”
“Apa lagi? Dari dulu, kan, memang begitu aturannya, biar kamu kebal peluru!”

Tragis memang, banyak jimat bergelantungan di leher mereka agar kebal. Antaraa sains berlebur dengan mistik-mistik supranataural menghiasi dua sniper tersebut. 

Ini adalah hari ke-9 bagi midi pengintaian mereka. sungguh kacau. Kelebatan-kelebatan kenangan kenikmatan masa lalu dua sniper itu sepertinya sama, datang menghunjam konsentrasi mereka.

Apalagi keinginan untuk merokok yang sudah lama terkekang itu, tiba-tiba muncul tak terbendung lagi. 

Petembak runduk memang disyaratkan bukan seorang perokok atau pengguna tembakau yang dapat menimbulkan bebauan yang mudah terendus oleh antisniper atau kontrasniper. 

Hari itu, hari yang ke-9 itu, Baskoro berhasil menyelipkan dua batang rokok kretek sebelum turun medan. Dan, sekarang tampak dihisapnya denagn nikmat dan dalam-dalam sambil menemani pertentangan batin dan kenangan -kenanangan yang muncul dan bergejolak itu. 

Masih teringat oleh keduanya, ketika sore hari itu selesai mengeksekusi sebuah target, berdua melepas penat untuk berwisata lendir di sebuah kota dingin kaki gunung yang ramai oleh lokalisasi berbayar murah meriah itu. 

Pertemuan dengan para makelar-makelar yang hantam kromo itu begitu sangat membekas. Makelar yang tanpa bedakan mana lelaki penyuka kuliner lendir mana yang untuk urusan lain, tiada beda, semua ditawari sopan.

Benar-benar membekas bagi keduanya, saat menggendong tas besar berisi senapan, bersepatu but, celanannya yang multisaku, cukup simpel ditebak sebagai pendaki oleh para makelar yang lugu-lugu itu. 

Sebagaimana yang sudah-sudah, makelar itu juga menawari mereka yang jelas-jelas berkepentingan mendaki gunung. Ini celah ciamik yang bisa dimanfaatkan mereka, paa pendaki yang newbie dan malu-malu dalam menjajal kuliner lendir kenikmatan itu. 

Baskoro dan Bhirowo juga dianggap sebagai pendaki yang ingin meredahkan nyeri-nyeri ototnya dengan wisata lendir kenikmatan. Padahal, tanpa dianggap seperti itu, keduanya pasti melepas penat dengan lubang-lubang kenikmatan yang murah meria itu.

Itulah kelebihan makelar, memanfaatkan nilai probabilitas terkecil. Sihir statistika lapangan. Bisa jerat eksponen subordinat menjadi ordinat. Sopan santun mereka terlatih. 

Para makelar yang lihai membujuk dengan taktis siapa saja yang dianggap ingin mencicip daging-daging empuk nan nikmat itu. Si makelar sudah menghadang para calon penikmat wisata lendir dari pom bensin jauh di bawah sana.

Mareka itu selalu berkomplot di tikungan tajam dan tanjakan curam. Ketika pengendara bermotor memperlambat laju. Bisalah leluasa disopani dengan tawaran pakem seperti paket data. 

Upah dan bonus akan mengalir sesuai dengan banyaknya yang berhasil dibujuk. Makelar-makelar itu bebas, sembari menghirup sigaret kretek yang dibeli dari uangnya sendiri, bukan uang rakyat. 

“Mas, kamar?”
“Mas, villa?”

Para makelar itu penduduk kaki gunung lebih memilih pekerjaan ini karena lebih menggiurkan daripada pekerjaan berdingin-dingin di ladang sayur-mayur di lereng-lereng gunung. Bekerja keras sebagai petani lahan miring, dunia miring.

Dua perembak runduk itu juga ingat akan kontrasnya diri mereka dengan sebuah sopir mobil jip dobel gardan yang terseok berderit ditimpa beban muatan berkilo-kilo kentang segar. Sopirnya mirip koboi, ceria sambil menikmati sigaret filter tembakau Virginia itu hasil dari uang sendiri, bukan uang rakyat!

Sedang nun jauh di sana, masih saja lalu-lalang dengan gerobak modifikasi. Bentuknya kecil ramping beroda dua, berisi sayur-mayur segar hasil petik panen. Mereka tampak bersemangat mengais upah-upah yang tak seberapa jika dibandingkan dengan gaji mereka berdua. Tapi, biar kecil, bukan hasil membunuh. 

Petani-petani dan para pengangkut sayuran itu berkeringat segar tanpa paksaan yang menderas laksana wangi parfum kejantana, seksi. Tak sebagaimana mereka berdua, sniper yang Bercucur keringat saat bidikan meleset.  

Baskoro dan Bhirowo masih ingat tentang doktrin Spindrift (arah ulir peluru)-nya yang selalu ke kiri, sebagaimana instruksi Menteri Pertahanannya yang antilaten kiri.  Di hari ke-9 itu memang targetnya anak bangsa yang vokal dengan kekirian. 

"Target terlihat, positif"
“Angin?”
“satu pertiga geser kiri!”
“Gravitasi?”
"Emanuel Zacchini!"
'Hah!"

Mereka kacau dengan pertentangan batin masing-masing. Malah si manusia meriam, Emmanuel Zacchini jadi guyonan Bhirowo yang sebagai spotter itu. 

Sang eksekutor, Baskoro, yang jelas-jelas memintah konfirmasi gravitasi, malah dijawab dengan "Emanuel Zacchini". Jelas tak pahamlah si Baskoro, siapa itu Emanuel Zacchini.

Nyatanya, Emanuel Zachchini adalah pemain sirkus legendaris,  Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus, yang terkenal karena Emnuel berani ditembakkan dari sebuah meriam dengan kelajuan 24,0 m/s pada sudut 40o dari horizontal. 

Mungkin, Bhirowo meminta Baskoro, untuk menghitung sendiri gravitasi yang diminta dengan kode soal ala Emanuel Zachchini sebagai berikut:

Vx = 18,4 m/s
 ∆dx = 56,6 m
maka

Sebelum hasil hitungan itu dikalibrasi pada bidikan teleskopnya, dua peluru kontrasniper melesat menghantam keduanya. Terlambat menarik pelatuk. Blarrrr, hingga terbidik. 

Orang-orang sipil yang jadi target negara itu tak kalah pintarnya, mereka menyewa kontrasniper untuk melindungi jiwanya. Selamat datang di medan tempur 4.0, welcome mercenaries!