Idealitas mendasar agama pastilah selalu berkaitan dengan keyakinan akan nilai-nilai perdamaian: kerukunan, keadilan dan kesetaraan. Namun kenyataannya idealitas tersebut sering kali tidak sejalan dengan realitas sosialnya.

Dalam beberapa kasus, justru agama yang konon diyakini membawa misi-misi perdamaian malah menjadi pemicu utama “pengutak-atik” problem perdamaian tersebut. Ada semacam kesenjangan yang menganga, bagaimana seseorang mengekspresikan keagamaannya dan realitas sosial yang terjadi di lapangan.

Agama sebagai bagian dari produk kebudayaan, “dipaksa” untuk dapat terlibat dalam gerak sejarah yang profan. Pergumulan antara kesucian agama dan realitas sejarah menjadi keharusan, namun alih-alih agama tampil sebagai “ratu adil” justru malah yang terjadi sebaliknya agama kerap kali menjadi pemicu ketegangan sosial.

Ada semacam “keangkuhan” dalam diri agama, ia telanjur menganggap “kesucian” yang ada dalam dirinya tidak bisa diganggu gugat, walaupun realitas sosial menghendaki agama dibongkar sedemikian rupa. Agama tetap kukuh dengan keangkuhannya, menurutnya, dalam kondisi bagaimanapun kesakralan dan kesuciannya haruslah dipertahankan.

Meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla, ada upaya “Memonumenkan agama”. Biasanya, dalam kondisi ini dalil klasik seperti “Yang salah bukan agamanya, tetapi pemeluknya” akan sering kita dengar.

Belakangan, kegaduhan soal karikatur nabi Muhammad di Prancis menampilkan itu. Pengecaman yang dilakukan oleh beberapa kalangan agamawan terhadap pembuatan karikatur nabi Muhammad tidak diikuti dan cenderung abai dengan pembunuhan dan pemenggalan brutal yang dilakukan terhadap Samuel Paty (Guru yang mendemonstrasikan karikatur tersebut).

Baca Juga: Boikot Prancis

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kebanyakan orang melihat kasus karikatur Prancis dengan kacamata yang parsial? Mereka lebih memilih bersemangat mengecam Presiden Macron dan karikatur Nabi, daripada misalnya memberikan perhatian pada aksi kekerasannya? Hal ini malah semakin memperkokoh “keangkuhan” agama terhadap kesuciannya sendiri. Ada semacam standar ganda dalam nilai sakralitas agama.

Dalam kondisi semacam ini, pesan-pesan perdamaian agama tampak absurd. Di satu sisi dia menghendaki perdamaian tersebut sebagai dalil dasarnya, di sisi lain dia menghendaki kekerasan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kesuciannya.

Penting merefleksikan kembali pola ekspresi keagamaan kita. Secara retorik, tentu hanya dengan mengerjakan perintah tuhan, mempercayai adanya tuhan, mengimani nabinya, juga melaksanakan kewajiban-kewajiban ritus keagamaan, seperti salat, puasa dan zakat. Sekilas cukup dapat diterima sebagai bagian dari ekspresi keagamaan kita.

Kegiatan-kegiatan itu merupakan “pekerjaan teknis” yang menghubungkan kita dengan tuhan, saya menyebutnya sebagai “distribusi keimanan” yang terjadi dalam wilayah privat hubungan seorang hamba dengan tuhannya. Persoalan dosa dan pahala akan dapat dikalkulasikan dengan seberapa intim “transaksi keimanan” itu.

Namun, beda halnya dengan apa yang kemudian saya sebut dengan “kesalehan sosial”. Standar keimanan hubungan seorang hamba dengan tuhannya tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan modal “kesalehan privat”. Dia harus dapat diverifikasi oleh realitas sosial. Sebab dalil kesalehan sosial tidak selesai hanya pada muara “ketuhanan”, akan tetapi dia harus dapat “legitimasi” dari kondisi sosialnya, muaranya akan sampai dan kembali pada manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Barangkali konstruksi ideal keberagamaan, seperti yang saya paparkan di atas, banyak diabaikan, sebab sakralitas dan kesucian agama kerap kali membatalkannya. Penyebabnya, tidak akan jauh dari dilema yang terjadi dalam agama itu sendiri: Keharusan untuk mempertahankan dogma-dogma skriptual yang berasal dari teks-teks kitab sucinya, dan juga keharusan untuk mentransfomasikan nilai-nilai agama terhadap problem-problem sosial.

Memaksa ajaran agama yang berasal dari pemahaman skriptualistik dalam menjawab persoalan-persoalan kontemporer justru malah membawa “ketegangan teologis” yang diciptakan oleh keangkuhan agama dalam mempertahankan standart kebenaran mereka.

“Ketegangan Teologis” itu dapat kita lihat dalam kasus “kemarahan” agama atas aksi karikatur nabi yang didemonstrasikan di Prancis, negara berhaluan sekuler yang menjunjung tinggi nilai-nilainya sendiri. Agama yang memaksa pemahaman skriptualistiknya ke dalam perdebatan sosial, apalagi dengan membenarkan pelaku pembunuhan dan pemenggalan justru malah menjerumuskan agama pada upaya mereduksi kesakralannya sendiri.

Bukankah Islam sebagai agama tidak akan terkurang kesuciannya hanya karena karikatur seorang nabi? Dalil ini harusnya disadari oleh banyak agamawan, bahwa pergumulan sosial yang terjadi sekarang tidak menghendaki agama menampilkan keangkuhannya.

Apalagi jika agama memaksa membatalkan dalil kemanusiaan karena upaya mempertahankan kesuciannya sendiri, dalam kondisi terrsebut, lantas apa guna agama? Jika ia tetap kukuh untuk tetap bergumul dengan nilai-nilai sakralitasnya sendiri, tanpa memperhatikan realitas sosial di sekitarnya.

Menurut saya, islam sebagai agama haruslah mulai “kreatif” dalam menafsirkan nilai-nilai kebenaran teologisnya. Gagasan keagamaan harus mulai ada semacam “pembaruan” dan “penyegaran”. Gagasannya tidak sekadar menyentuh wilayah domestik agama seperti salat, zakat, dan puasa. Gagasan kreatif itu harusnya mulai menyentuh wilayah sosio-kultural manusia dan kemanusiaan, nilai-nilai toleransi, perdamaian hingga problem ketimpangan.

Agama hendaknya tidak stagnan dalam urusan-urusan “kesalehan privat”. Jika ingin tetap bertahan dalam pergulatan zaman, agar eksistensi agama tidak sekedar tampil sebagai “wasit” saja, ia harus tampil jauh melampui konsep privatisasi agama, ia harus terlibat dalam  dinamika peradaban.

Bukankah dalil “sekularisme” hanya dapat dibatalkan jika perdebatan agama tidak berupaya mengungkung dirinya pada kesuciannya? Agama diharuskan dapat bertransformasi dan menjawab tantangan sosio-kultural, tidak angkuh dengan dalil kebenarannya sendiri. Upaya memonumenkan agama justru akan menjerumuskan agama dalam keterbelakangan.

Akhirnya, mari kita refleksikan kembali pernyataan Presiden Macron, fenomena kekerasan seperti terorisme, ekstremisme dan pelbagai tindakan-tindkan anarkis atas nama islam jangan-jangan merupakan tanda bahwa islam memang sedang mengalami krisis?

Saya kira agama apa pun hadir tidak dalam ruang yang kosong. Dia hadir di tengah kegelisahan peradaban. Substansi keagamaan mana pun pastilah selalu berkaitan dengan sosio-kulturalnya. Agama diharapkan menjadi “alat” peradaban yang mampu memberikan petunjuk kepada manusia. 

Oleh sebabnya, bukankah jika begitu agama dimungkinkan untuk dapat dikontekstualisasikan sedemikian rupa terhadap nafas peradaban? Agama tak seharusnya menghegemoni kebenarannya atas nama kebenaran teologis bikinannya sendiri.