Sore menjadi waktu yang tepat bagi sebagian orang untuk melepas penat setelah seharian menggeluti rutinitas. Salah satu cara menyenangkan dan hemat biaya untuk menikmati sore adalah nongkrong di warung kopi. Cocot dan Cecet menjadi bagianya. Mereka sering menghabiskan sorenya di warung kopi, sembari membahas isu-isu terkini.

“Bang Pono, kopi item satu, yang kayak biasanya.” Pesan cocot kepada Bang Pono penjaga Warung

“Kopi item pahit, siap komandan!” jawab Bang Pono, sembari mengelap gelas yang akan digunakan untuk kopi Si Cocot.

Sembari mengelap gelas dan memanaskan air, Bang Pono bertanya:

“ Temenmu ke mana yang satunya, siapa itu namanya, ehhh?"

“Si Cecet? Bentar lagi ke sini, tadi bilangnya OTW.”

Sembari menunggu air mendidih, Bang Pono terus mengajak ngobrol si Cocot

“Eh gimana kuliah kamu, sudah selesai? Katanya tinggal ngerjain krispi?

Senyum kecil tersungging di wajah Cocot. “Skripsi, Bang maksudnya? Iya, Bang, masih belum. Ini masih proses.”

Bang Pono yang hanya tamatan sekolah dasar kurang begitu paham dengan seluk-beluk perkuliahan, oleh sebab itu si Cocot memakluminya.

Bang Pono memang memiliki latar pendidikan yang tidak terlalu tinggi, tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sosok seperti Bang Pono. Kesederhanaanya dalam berpikir, menjadi sisi menarik bagi banyak orang yang berpendidikan tinggi yang identik dengan cara berpikir yang ruwet seperti Cocot.

Cocot berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Jika Cocot sering membahas permasalahan politik, ekonomi sampai filsafat dengan si Cecet, maka Bang Pono hanya paham soal racikan kopi yang pas. Bang Pono juga kerap memberi celetukan-celetukan lucu di tengah diskusi Cocot dan Cecet yang membuat suasana warung kopi menjadi segar.

Beberapa menit berselang, Si Cecet datang. Remaja yang usianya sebaya dengan Cocot dan sekaligus teman satu kelas Si Cocot. Ia mengenakan kaos berwarna hitam, dengan siluet bergambar tokoh revolusioner kelahiran Argentina, Che Guevara. 

Tubuh Si Cecet yang kurus dengan rambut gondrongya seolah menjadi penegas identitasnya sebagai aktivis kampus. Berbeda dengan si Cecet, pembawaan si Cocot cenderung lebih rapi dan berbadan subur. Cocot juga kurang tertarik menjadi seorang aktivis.

Meskipun keduanya terlihat berbeda dari segi pembawaan, mereka bisa menjadi sahabat baik karena memiliki hobi yang sama yaitu membaca buku.

Hobi memang bisa menjadi sebab-musabab terjalinnya persahabatan, tapi apakah rasa persahabatan yang hanya didasari hobi semata bisa disebut persahabatan sejati? Atau justru persahabatan semacam itu adalah persahabatan dangkal, di mana hubunganya sangat manipulatif? Jawabanya bisa pembaca tanyakan pada diri sendiri.

Biasanya setelah menamatkan satu buku tertentu, keduanya akan mendiskusikannya di warung kopi Bang Pono.

“Udah dari tadi Cot?”

“Enggak. Baru sampai.”

Di tengah basa-basi itu, Bang Pono menyodorkan kopi yang dipesan Si Cocot.

“Ini Bos kopinya, silakan diseruput. Mas Cecet mau pesen apa?”

“Sama kayak si Cocot aja Bang, kopi item, biar seger.”

“Siap Bos.”

Sembari membuka tutup cangkir kopi, si Cecet kembali meneruskan obrolannya.

“Dari mana loe, dari tadi BBM (Black Berry Messager) gak dibales.”

“Iya, maaf tadi masih ada acara diskusi di kampus, kamu sih nggak kuliah.”

“lagi males, kalo dosennya pak Jaya kan, orangnya kalo nerangin materi itu-itu terus, bosen gue. Sama kayak buku yang udah gue baca.”

“Buku yang mana?”

“Itu, buku yang judulnya pengantar filsafat.”

“Iya, bener juga sih, gue juga udah baca itu buku. Eh, gue mau nanya, menurut loe kenapa ya negara ini kok banyak banget masalahnya? Tadi bahas soal itu, waktu acara diskusi. Jjawaban dari narasumbernya kurang jelas. Gue ambil contoh soal kesenjangan sosial yang makin menjadi di negara ini, menurut pandangan loe gimana? Kok itu bisa terjadi?"

Asap kopi Cocot masih mengepul, sembari meniupnya dia menjawab,

“Kalau menurut gue sih, banyak faktornya, salah satunya yang paling berpengaruh adalah sikap pemerintah yang kurang peduli sama rakyat kecil.”

Merenung sejenak, Si Cecet menampik argumen si Cocot.

“Oh tidak bisa, kalau menurut gue, sikap cuek pemerintah tersebut tidak lepas dari peran kaum kapitalis.”

Dengan latar belakang seorang aktivis, tidak heran jika si Cecet menggunakan analisis ‘kiri’ dan menyimpulkan bahwa akar dari permasalahan negara ini terletak pada sikap menindas kaum kapitalis.

Selama mengenyam bangku perkuliahan, si Cecet sudah lama berkecimpung dalam dunia aktivis. Ketertarikanya bermula saat ia melihat gagahnya para aktivis ketika turun ke jalan dan menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil. Ketertarikan yang awalnya timbul dari hasrat ingin nampak ‘gagah’, seiring dengan berjalanya waktu justru membuat si Cecet menjadi aktivis yang benar-benar militan dalam menyuarakan ketidakadilan.

Kopi pesanan Cecet sudah jadi dan dihidangkan oleh Bang Pono.

“Ini Bos kopinya.” Si Cecet yang sedang asyik mendebat argumen Si Cocot tidak mengndengar teguran Bang Pono. Kesal tegurannya tidak digubris, Bang Pono ikut nimbrung dalam obrolan dua calon sarjana tersebut.

“Ini pada ngomongin opo toh yo? Kok pada serius mukanya. Itu kopinya diseruput dulu, keburu dingin. Dari tadi Abang dengerin bahas ketapel segala.”

Si Cecet menjawab, “Sorr, Bang, tadi gak denger. Bukan ketapel Bang, tapi Kapitalis.

Dengan raut muka bingung, Bang Pono kembali menimpali jawaban itu.

“Apaan itu kapitalis?"

“Kapitalis itu Bang, segilintir orang atau kelompok yang mempunyai hasrat buat ngumpulin modal.”

Mendengar si Cecet memberi pengertian kapitalis kepada Bang Pono, Si Cocot yang tidak diajak bicara kembali asyik dengan seruputan kopinya.

Dengan polos bang Pono menjawab, “Oh, jadi saya ini juga termasuk kapitalis ya, kan saya kerja di warung kopi ini supaya bisa numpuk modal buat nikah.”

Senyum merekah di wajah Cecet, mungkin dalam hatinya dia mengumpat Bang Pono sebagai orang yang kurang berpendidikan.

“Bukan gitu bang. Jadi, pihak yang disebut kapitalis itu mengumpulkan modal dengan tujuan untuk keuntungan sendiri, cara yang dilakukan para pihak kapitalis itu cenderung merugikan masyarakat, khususnya masyarakat miskin."

Mendengar jawaban itu Bang Pono hanya menanggapi singkat, “Haduh ribetnya.”

“Hahahaha, gak ribet kok bang kalo mau belajar.” jawaban si Cecet itu tanpa dia sadari sudah sedikit menyinggung perasaan Bang Pono, seolah kebingungan Bang Pono ini menjadi penanda bahwa Bang Pono orang yang tidak berpendidikan.

Pada saat Si Cecet melihat Bang Pono sudah tidak bertanya lagi, dan melihat Bang Pono beranjak dan mencuci gelas kotor bekas pengunjung warung lainya, Si Cecet kembali melanjutkan diskusinya dengan SI Cocot. Diskusi yang awalanya membahas masalah perekonomian itu merembet ke berbagai persoalan lainya seperti pendidikan, hukum dan tema lainnya.

Kebiasaan diskusi yang melompat-lompat dari satu tema ke lainnya selalu berakhir sama, yaitu keduanya tidak bisa memberikan penyelesaian dari tema yang dibahas. Kutipan dari berbagai buku selalu mereka hadirkan dalam diskusi itu, tapi ujung-ujungnya hanya menjadi debat kusir yang tidak ada juntrungannya.

Mendengar kedua remaja calon Intelektual itu sedang berdiskusi, Bang Pono yang sedang mencuci gelas teringat bahwa tadi siang ada pengumuman soal kematian salah satu warga. Warung yang dijaga Bang Pono memang terletak di area pemukiman warga, oleh sebab itu segala hal yang terjadi di sekitar area warung, akan diketahui Bang Pono.

Bang Pono yang sebenarnya tidak tinggal di wilayah tersebut, sering ikut membantu jika ada kegiatan warga, mulai dari kerja bakti, sampai acara penguburan warga yang meninggal. Rasa empati Bang Pono tidak didapatkan dari bangku kuliah. Rasa empati yang timbul itu hadir dengan sendirinya ketika Bang Pono hadir di tengah masyarakat.

Setelah semua cucian gelas kotor beres, Bang Pono segera beranjak dan mengajak kedua remaja itu untuk turut serta hadir dan membantu keluarga yang mendapat musibah tersebut.

“Eh, ayo berangkat.”

Si Cocot bertanya, “Berangkat ke mana Bang?”

“Itu, ke rumah Pak Yamin yang rumahnya deket Bang Jaja, kamu enggak dengar kabar apa? Kan Bang Yamin satu RT sama kamu. Anak Pak Yamin meninggal dunia gara-gara tabrakan. Ayo ke sana bantu-bantu keluarganya sama sekalian ikut nguburin juga.”

Si Cecet yang aktivis itu menjawab dengan wajah cuek, “Gak ah Bang, males. Abang aja, biar saya sama Cocot yang jagain warung Abang, ya gak, Cot?

Si Cocot mengiyakan, “Ya Bang, bener.”

Mendengar jawaban penolakan tersebut, Bang Pono hanya menjawab sambil beranjak, “Ya sudah, titip ya.” Dalam hati Bang Pono mengumpat dengan kesal, “Dasar calon sarjana geblek, ngomong saja digede’in!