Ini bukan sebuah kajian hukum tentang Omnibus Law. Ini hanya sebuah cerita, di mana perusahaan bisa mengoptimalkan keberadaan Omnibus Law sebagai faktor pemicu produktivitas dan pencetak keuntungan.

Adalah Jono, salah satu teman saya yang kini bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik es. Awalnya hanya memproduksi es batu, namun kemudian bergeser ke pembuatan es krim dan es yang lain.

Setiap pagi selepas salat subuh, ia sudah mengayuh sepedanya. Jam 06.30 sudah harus sampai ke tempat kerjanya. Untuk hasil maksimal, ia kemudian pulang jam 20.00 malam.

“Kapan kamu nikah kalau hidupmu mekanis gitu? Bangun, kerja, makan, pulang, tidur, kerja lagi,” tanya saya suatu ketika.

“Yakinlah, nikah itu sudah digariskan. Dengan bekerja giat dan hasil maksimal, nanti pasti jodoh akan datang. Apalagi saya nggak punya modal ganteng, kaya, atau darah ningrat. Sekolah juga SMA,” jawabnya.

Saya diam dan berpikir. Ini perusahaan bagus banget bisa mengajak karyawannya bisa lebih berserah. Ini bukan sekadar sikap religius, tapi sudah merambah ranah spiritual. Keren.

Dari pabrik es batu itu, pabrik tempat Jono bekerja akhirnya merambah bisnis es krim. Ia menerapkan strategi pemasaran yang aneh, tak menyasar mini market atau toko-toko besar. Justru ia memilih warung-warung rumahan. Kotak pendingin disediakan dengan mereknya terpampang besar-besar.

Menariknya, hanya beberapa bulan, pengusaha es tersebut sudah mendapatkan anugerah sebagai pengusaha sukses dan pemilik merek lokal terbaik. Penghargaan itu diberikan oleh media lokal.

Indikator suksesnya simpel. Bungkusan es krim murah itu berserakan di halaman sekolah-sekolah dasar di kampung. Ini bukan soal mental buang sampah sembarangan, tapi lihatlah penetrasi es krim buatannya itu.

Sebagai jaminan, di kemasannya juga ada rangkaian huruf arab gundul sebagai tanda sertifikat halal dari MUI.

Jono lalu bercerita, saat ini kapasitas produksi pabriknya rata-rata 150 ribu boks per hari. Satu boks berisi 30 potong es krim. Dalam sehari, mereka mampu memproduksi sekitar 4,5 juta potong.

“Nanti habis lebaran akan membangun pabrik baru di Sidoarjo dan Cikarang,” kata Jono.

Saat ini pabrik itu mempekerjakan sekitar 500 buruh. Tak pernah ada rekruitmen terbuka dan selalu mendasarkan rekruitmen melalui sebuah lembaga. Semacam ajang pencarian bakat, tapi melalui kepercayaan kepada para buruhnya. Jono sendiri, untuk bisa bekerja di sana, harus menyetor Rp2,5 juta melalui temannya.

Katanya, uang itu untuk jaminan beserta ijasah asli yang diserahkan ke HRD. Awal masuk, ia mendapat upah Rp30 ribu/hari untuk jam kerja selama 10 jam. Tiap jam lembur, ia mendapat tambahan Rp5 ribu.

“Kalau nggak masuk, ya dipotong. Mana ada orang nggak kerja kok dibayar. Edan po?” katanya.

Potongannya nggak main-main. Selalu di atas upah harian dan lemburan mereka. Bahkan ketika sakit atau ada keluarga yang meninggal sekalipun.

“Teman saya itu malah heroik banget. Ia pagi menikah di KUA dekat pabrik, langsung masuk kerja karena shift siang. Istrinya juga. Jadi nggak kena penalty apa-apa,” Jono berkisah.

“Kok sampeyan betah sih kerja di situ? Apa nggak pengin mainan medsos, posting-posting yang keren?” saya hati-hati bertanya.

“Lho jangan salah. Di tempat kerja kami, perusahaan sudah menyediakan spot foto yang instagrammable lho. Misal di ruang penyimpanan dan pengepakan, kami disediakan pakaian tebal dan pemandangan serba-putih dalam freezer raksasa. Nggak perlu ke Eropa kalau cuma merasakan sensasi musim dingin,” katanya.

Nah, dari cerita Jono ini, jelas banget bahwa untuk bisa bekerja di tempat yang keren sepertinya memang butuh pengorbanan. Tak pernah berpikir untuk mundur atau menuntut ini itu karena setiap pekan selalu berhembus isu penggantian buruh-buruh baru.

Bagi para buruh, mereka hanya menginginkan kepastian pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau pengusaha sih nggak urusan, buruhnya mau pribumi, cina, eropa atau ras apa pun nggak penting. Pun dengan agamanya. Bagi pengusaha, yang penting adalah profit, profit, dan profit.

Ini sangat sejalan dengan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Pemerintah sudah bersusah payah mendatangkan investasi untuk penambahan lapangan kerja lha kok malah diprotes. Itu hanya kerjaan buruh-buruh yang kurang kerjaan.

Tiga hari lalu, saya takziah ke rumah Jono. Ia meninggal dunia karena kelelahan bekerja dan lembur. Tak ada karangan bunga dari perusahaan tempatnya bekerja. Apalagi dari pejabat pemerintah. Lha Jono ini siapa.

Lalu, apa sih hubungan Omnibus Law dan resep sukses pengusaha? Nah, ini sebuah pertanyaan tolol. Karena dari cerita di atas jelas banget kalau resep sukses pengusaha hanya satu: eksploitasi keringat buruh itu!

Dan itu harus dilindungi Undang-Undang. Salah satunya ya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja itu. Jangan disingkat jadi Omnibus Law Cilaka ya, nanti nasibmu akan seperti almarhum Jono, meninggal dalam kondisi jomblo!