Suatu siang di Bandara Internasional Soekarno Hatta, di counter imigrasi menuju ruang tunggu.

“Mau ke Oman? Tinggal di sana? Kerja?”petugas berseragam abu-abu muda bertanya, dengan suara datar, tanpa ekspresi, tanpa melihat wajah saya yang sedemikian ramah kepadanya.

“Iya, Pak, suami yang kerja, sudah 13 tahun,” kayaknya lancar nih urusan kalau sudah nyebut 13 tahun.

“Wah! Lama amat, emang enak di sana? Tandus, kan? Pasir semua?” hmmm, mulai ada ekspresi. Tapi kurang menyenangkan ha ha, aku rapopo.

Saya mau menjelaskan panjang lebar takut dilempar koper dari belakang. Cari aman saja, cukup salam dan senyum manis

***

Saking belum dikenalnya Oman, acap kali kami harus mengulang dulu menyebut nama negara ini, baru orang paham. Padahal, diakui mereka yang sudah mengunjungi negara-negara teluk, Oman memiliki perpaduan landscape yang nyaris sempurna untuk wilayah jazirah. Gurun, pantai gunung, dan lembah yang bersisih-sisihan menyuguhkan pemandangan tanpa batas, tanpa akhir.

Wahiba, adalah gurun pasir kedua terbesar, menjadi tempat wisata favorit di sepanjang musim dingin (November-Februari). Selain camping, dune bashing, prosotan alami di gurun berbukit, warga dan pendatang bisa mengenal dan merasakan hidup sebagaimana suku bedouin di gurun, hingga crossing Wahiba melalui jalur ekstrem untuk pada off roader.

Hajar Mountains, pegunungan yang gagah meliuk-liuk, bisa dilihat dari arah manapun di Muscat, ibukota Oman. Sultan Qaboos bin Taymur, Sang Pembaharu Oman, dulu menitahkan, tidak boleh ada bangunan pencakar langit di Oman, karena beliau ingin warganya bisa menikmati Hajar Mountains, setiap saat. Sebagaimana mereka bisa setiap saat bermain dan menikmati pantai-pantai Muscat.

Bagian bangunan yang boleh ditinggikan adalah menara-menara masjid, yang justru menambah keindahan Hajar Mountains. Menjulang tinggi, menjadi petunjuk arah warganya, ke mana hati kembali setelah lelah berkelana mencari dunia. Grand Mosque Sultan Qaboos, di sisi jalan utama Sultan Qaboos highway acap kali memaksa pengendara melambatkan laju kendaraannya, menikmati sejenak keindahannya dari atas jalan layang.

Pun kompleks Masjid Taymuur bin Said dengan taman bunga warna warni dan tempat wudhu berupa gazebo di tengah taman sungguh menjadi penyejuk pandang dari jalan layang. Hijaunya rerumputan, bunga yang diganti mengikuti pergantian musim, jauuuh dari bayangan pemandangan di jazirah Arab.

Masjid ini adalah hadiah Sultan Qaboos bagi ayahnya, Sultan Taymuur bin Said. Kubah dan menaranya mirip dengan Masjid Biru di Istanbul, tetapi cat berwarna pasir keemasan membuatnya tampak megah dan elegan.

Dalam sejarahnya, sejak abad 18 wilayah laut Oman kerap disinggahi kapal-kapal perdagangan dari dan ke arah Asia, Afrika dan Persia. Kapal wisata, kapal dagang, hingga dhow khas Oman bisa dilihat di perairan Mutrah sampai saat ini.

Sementara, bangsa Arab dikenal sangat menghormati tamu, maka terasa, orang Oman seperti menggelar suguhan yang tak akan terlupakan ketika sang tamu mendarat di pelabuhan. Muttrah corniche, rasanya lebih tepat disebut sebagai tempat wisata daripada sekedar pelabuhan.

Di sana ada Jabal Muttrah, jalur trekking dengan breathtaking view, berada tepat di seberang pelabuhan. Untuk wisata keluarga, terhampar Riyam Park yang hijau dan luas. Jalur pedestrian yang lebar dan nyaman, dibuat persis di pinggir pelabuhan.

Bayangkan deburan ombak meningkahi senda gurau pengunjung di sepanjang Muttrah Corniche. Dan persis di tengah kawasan ini ada Muttrah Souq, pasar benda seni dan souvenir untuk buah tangan para wisatawan.

Tak heran, jika wisatawan akan berhenti sangat lama di area ini, karena begitu banyak spot yang membuat mereka ingin berlama-lama. Jembatan penyeberangan sekaligus museum, tak begitu jauh dari titik tengan corniche, menyuguhkan kecantikan arsitektur bangunan jembatan dengan tangga-tangga berwarna alami gurun dan jendela khas Oman ke arah jalan raya. 

Di sisi seberang pelabuhan, terdapat beberapa bangku di atas rerumputan taman dengan pemandangan yang ciamik ke arah laut dan pegunungan Mutrah sekaligus.

Modernisasi Oman sebetulnya belum lama, baru dimulai tahun 1970 oleh Sultan Qaboos bin Taymur (1940-2020). Namun jika kita melihat betapa bersih, teratur, rapi dan indah negeri ini ditata, kita seperti dibawa pada kisah jaman kejayaan Harun Al Rasyid. 

Malam hari jalan raya seperti bersolek, dengan lampu yang terang benderang dan tiang lampu yang mirip dengan yang ada di Jalan Malioboro, Jogja. Perjalanan naik dan turun pegunungan menjadi begitu eksotis di malam hari, dengan kumpulan cahaya di lembah-lembah kota Muscat.

Sultan Haitham bin Tariq bin Said, baru naik tahta pada 11 Januari 2020, menggantikan sepupunya yang begitu dicintai rakyat. Orang Oman, berpembawaan halus. Suaranya pelan, hampir tidak pernah terdengar orang Oman berteriak apalagi adu mulut. 

Dalam kerumunan, laki-laki maupun perempuan, mereka akan saling berbicara dengan suara perlahan, cenderung berbisik. Perkelahian belum pernah terlihat secara langsung selama tiga belas tahun lebih saya menetap di negri ini. Bahkan ketika terjadi kecelakaan di jalan raya, alih-alih saling tuding dengan wajah merah karena marah, kedua pengemudi akan turun dengan tenang, lalu berjabat tangan dan menyapa, “Assalamu’alaikum, keif haalik?”(Semoga keselamatan atasmu, apa kabar?). Hahaha perlu ditiru nih.

Seperti negara Arab lainnya, penduduk asli Oman seluruhnya Muslim. Sekira 630 M, Oman menerima Islam dengan damai, terlihat dari surat dari Rasulullah Muhammad SAW di Museum Nizwa Fort, lengkap dengan tempel cincin Baginda Nabi. Beliau pun khusus mendoakan, agar Allah menyayangi orang-orang di Al Ghubaira (Oman). Rakya Oman sangat bangga dengan penggalan sejarah ini.

Tak heran, Oman seperti terasing dari konflik yang menimpa tetangga-tetangganya. Warga negara asing dengan bermacam latar belakang, hidup damai berdampingan di sini. Prahara seperti pergi menjauh darinya. Seperti potongan kecil surga.