Saat saya ingin pergi dari stasiun menuju kampus, saya memesan aplikasi Gojek untuk berangkat. Tapi saya tak boleh menunggu di tempat saya berdiri. Saya diharuskan pindah, sebab itu katanya wilayah kekuasaan ojek pangkalan, yang bisa saya sebut begitu.

Ojek nomaden seperti Gojek atau Grab memang lebih diuntungkan. Sebab akan ada banyak pesanan berdatangan masuk ke dalam aplikasi Gojek, dan Gojek tinggal mengelolanya untuk tiap driver. Sementara ojek menetap akan cenderung kalah pesanan, sebab ia hanya menunggu di satu tempat.

Di terminal juga terdapat kejadian serupa. Maka saya mencoba pulang naik ojek tanpa aplikasi. Harganya lebih mahal dua kali lipat lebih, dan muka cemberutnya ketika telah menerima uang sudah cukup membuat saya prihatin. Meski harganya mahal, tapi memang jarang mendapatkan penumpang. Sehingga mungkin tak cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Teknologi memudahkan dalam me-manage pesanan yang masuk. Sementara ojek pangkalan mendapat penumpang yang tak pasti. Memang sama dengan Gojek, sama-sama menunggu. Bedanya ada kemudahan di sana untuk penumpang dan juga drivernya. Layanan yang nyaman, aman, dan cepat.

Penumpang cukup pesan melalui aplikasi, dan datanglah ojek berpakaian hijau. Harganya yang sesuai dengan jarak yang ditempuh. Kemudian memberikan penilaian langsung kepada layanan yang diberikan. Sehingga penumpang merasa dihargai.

Jadi kemudian layanan bukan hanya begitu-begitu saja. Selalu ada inovasi yang hadir. Peningkatan layanan terus diperbaiki. Kalau tak ada yang berubah, maka akan dipaksa oleh perubahan itu sendiri.

Mungkin masih ada yang menggunakan ojek pangkalan tadi. Mungkin masih ada yang menggunakan angkot. Tapi kalau ada yang lebih mudah, kenapa tidak?

Kenapa sekarang orang beralih menggunakan ojek dengan aplikasi? Sebab orang sekarang inginnya cepat, dan hal ini bagus sekali. Kita tidak ingin lama-lama. Kalau lama, bisa ditinggal. Cepat, bukan instan. Cepat berarti berusaha untuk tepat waktu dan efisien dalam melakukan sesuatu.

Memang ada orang yang tak bisa mendaftar Gojek, sebab ia belum melek teknologi. Jika ia punya anak yang paham dengan teknologi, baru ia bisa belajar. Sehingga akhirnya ia bisa mendaftar Gojek.

Kita tak bisa menyalahkan orang yang tak mau berubah. Karena perubahan itu sulit. Sebab perubahan membutuhkan keberanian dan kemauan. Orang yang tak mau berubah, sejatinya ia akan terdorong paksa oleh perubahan.

Saya pernah diantarkan oleh seorang driver Gojek, yang mengatakan bahwa pendapatannya terbilang lumayan. Sehingga ia bisa hidup dengan nyaman dan berkecukupan. Ia begitu bersyukur mendapatkan pekerjaan sebagai driver Gojek. Saya mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Lalu saya juga mendengarkan kisah driver Gojek lain yang merupakan seorang mahasiswa. Ia belajar pagi hingga siang, kemudian bekerja membawa penumpang setelahnya. Ia membagi waktunya untuk belajar di kelas, di rumah, dan bekerja. Hingga ia lulus, ia masih tetap bekerja sebagai driver Gojek.

Gojek merupakan aplikasi yang mampu menciptakan perubahan, menciptakan banyak lapangan kerja. Aplikasi ini begitu powerful. Selain mempermudah transportasi, ia juga masuk dalam bidang-bidang lain, seperti keuangan Gopay, pengiriman barang GoSend, hingga membeli makanan Gofood, dan masih banyak lainnya yang akan terus berkembang.

Bukan berarti ojek tanpa aplikasi tak baik. Seperti pengalaman saya pernah diantarkan saat pagi-pagi dan langit masih begitu gelap. Saya baru tiba di stasiun. Kemudian saya diantarkan oleh bapak ojek tanpa aplikasi itu.

Ia bercerita bahwa sebelum saya, ia mengantarkan seorang mahasiswa. Tapi sayangnya, mahasiswa itu di tempat penginapannya, yang telah ia pesan, penginapannya masih ditutup. Bapak itu pun lalu menemaninya, hingga pintu penginapan itu akhirnya terbuka.

Saya heran juga, ternyata penginapan bisa seperti itu. Tapi ia menunggu dan membantu mahasiswa itu hingga masalahnya selesai. Memang bergantung dari setiap orang. Karena ojek tanpa aplikasi pun layanannya bisa baik, jika orangnya bersikap baik dan siap membantu penumpang. Tergantung kesadaran masing-masing orang dalam memberikan layanan.

Tetapi ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh ojek tanpa aplikasi. Pertama, ojek tanpa aplikasi kerap kali mendiami suatu wilayah, dan menganggap wilayah itu sebagai daerah kekuasaannya. Jika ojek dengan aplikasi masuk dan menerima pesanan di situ, jangan macam-macam. Perkelahian bahkan bisa terjadi.

Kedua, ojek tanpa aplikasi kerap kali mengemudi dengan seenaknya. Berpacu lebih kencang demi untuk cepat sampai tujuan. Hal ini tentu membahayakan.

Ketiga, ojek tanpa aplikasi cenderung menguras uang. Hal ini juga yang perlu disadari oleh ojek tanpa aplikasi.

Ojek tanpa aplikasi cemburu karena ada aplikasi yang begitu menawan itu. Ia mengganggap bahwa orderannya sepi sebab persaingan yang tak adil. Sebab aplikasi itu curang. Dan bahkan keributan terjadi antara ojek tanpa aplikasi dan dengan yang punya aplikasi.

Yang perlu disadari ialah bahwa ojek tanpa aplikasi harus berubah. Misalnya, lebih informatif, dan bahkan membawa kearifan lokal, seperti mengetahui hal-hal yang jarang diketahui penumpang; menggunakan pernak-pernik yang membuat mata tertarik. Jangan kemudian selalu mengeluh dan menyalahkan keadaan, dan menganggap dirinya korban dari keberingasan teknologi.