Belakangan ini, lagi marak-maraknya penyebutan "radikal". Kata tersebut begitu menghipnotis, mulai dari warga ibu kota negara hingga rakyat di kampung terpencil. 

Parahnya lagi, kata yang sama bisa dengan sesuka hati digunakan untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Tidak tanggung-tanggung, “radikal” menjadi sejumput mantra untuk membungkam kelompok atau golongan lain jika tidak sejalan dengan kekuasaan. Sehingga jangan kaget, makin ke sini, kata tersebut berkonotasi negatif, bahkan cenderung peyoratif. 

Namun begitu, apa sebenarnya makna kata radikal?

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal bisa dilihat dari tiga pendekatan. Pertama, radikal sebagai kata sifat, bermakna secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Kedua, radikal sebagai kata dalam (ilmu) politik, bermakna amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Ketiga, radikal bermakna maju dalam berpikir dan bertindak

Dari batasan di atas, setidaknya kita bisa memilah makna kata radikal. Besar harapan saya setelahnya akan ada pembeda dalam memaknai kata radikal.

Sebelum lebih jauh membahas kata radikal, ada baiknya saya singgung juga sejarah kata radikal di dunia. 

Berdasarkan ensiklopedia tertua di dunia (Ensiklopedia Britania), kata “radikal” pertama kali digunakan Charles James Fox (1797) dalam aksi menentang sistem pemilihan. Dalam kesempatan tersebut, istilah “reformasi radikal” diperdengarkan. Tujuannya untuk parlemen Inggris. 

Pada waktu bersamaan, semangat (perubahan) yang sama juga tengah bergulir di Prancis. Bedanya, jika James Fox di Inggris mendorong ide radikal lewat reformasi tingkat parlemen, di Paris, parlemen bergolak melawan monarki absolut ciptaan Louis XVI. 

Adapun jumlah anggota parlemen di Prancis yang memprakarsai pergolakan tersebut hingga berujung pada Revolusi Prancis berjumlah 577 orang. Bertempat di Lapangan tennis dekat Istana Varseilles, anggota parlemen tersebut menuntut perombakan besar-besaran pada undang-undang dasar Prancis bentukan Louis XVI.

Tidak jauh berbeda yang terjadi di daratan temuan Columbus. Berkat Thomas Jefferson, semangat perubahan radikal menemukan tempat di benua Amerika. Dalam masa bakti 1801 hingga 1809, presiden ketiga Amerika Serikat ini menulis Declaration of Independent dan persamaan hak antar manusia. 

Tidak ketinggalan, berkat motivasi "radikal" beliau pula, warga negara Paman Sam ini bisa lepas dari penjajahan Inggris sampai sekarang. Meskipun sekarang negara ini jadi adikuasa. Doa saya, semoga bukan berangkat dari semangat "radikal" untuk menguasai dunia. Amin.

Bagaimana dengan Indonesia?

Butuh seratus tahun semangat radikal dari Inggris, Prancis, hingga Amerika Serikat terjangkiti Indonesia. Wabah radikal pertama kali menyeruak lewat seorang anak muda pribumi; Tirto Adhi Soerjo. 

Organisasi dan Koran menjadi pesemaian untuk menyebarkan bibit radikal di antara pribumiketika itu. Setelahnya, bibit kemudian ditebar pada praktik penjajahan dan feodalisme yang telah memasuki paruh waktu dua abad di Indonesia.

Adalah Sarijkat Priaji (1906) bentukan beliau menjadi embrio organisasi yang berisi seratus persen pribumi. Kemudian disusul berdirinya Boedi Oetomo (BU) bentukan anak-anak STOVIA, pada tahun 1908. 

Karena perkembangan Sarejkat Priaji tidak seperti BU, tidak menjadikan putra Bupati Blora ini patah arang. Berbekal semangat radikal tadi, kemudian dia melebur ke BU. Kelak, dari tangan dingin pendiri koran pertama berbahasa Melayu ini, Sarejkat Dagang Islam berdiri.

Tahun paruh awal abad 20 adalah titik balik baginya. Selain menjadikan organisasi penyemaian wabah radikal di tanah air, koran (juga) menjadi alternatif baginya. Tidak tanggung-tanggung, lewat empat koran sekaligus, beliau menguliti lapis demi lapis praktik penjajahan dan feodealisme masa itu. 

Meskipun, dari koran Soenda Pemberita, Medan Priaji, Poetri Hindia, hingga Suluh Keadilan, menyandarkan biaya produksi pada (ongkos pembayaran) pembaca pribumi. Karena itu pula, keempatnya tidak berumur panjang, meskipun Medan Priaji sempat menjadi koran paling dicari oleh pribumi pada waktu itu. Bahkan beberapa beritanya sempat viral.  

Kesemuanya demi apa? Demi menjadikan radikal epidemi pribumi bagi penjajah dan praktik feodalisme di Indonesia.

Hasilnya bisa kita lihat makin ke sini. Mulai dari maraknya organisasi pribumi radikal, lahirnya partai politik Indonesia pertama, hingga mencuatnya sosok seperti HOS Tjokroaminoto, Tan Malaka, Sjahrir, Soekarno, dan lain-lain yang semuanya menentang penjajahan. Bukti lain epidemi radikal anti-penjajahan sukses menyebar ialah alinea pertama pembukaan UUD 1945.

Kata kunci pemersatu radikal dan realitas sosial ialah lepas dari penjajahan dan segala bentuk feodalisme. Tapi, kini?

Berdasarkan sejarah global hingga lokal keindonesiaan pada awal abad dua puluh, saya berkesimpulan kata radikal mengalami pergeseran yang tidak main-main. Sialnya, ini terjadi secara jamak. Mulai dari pejabat setingkat menteri hingga kepala kampung menjadi begitu serampangan menyebutkannya. Apalagi jika pembatasan kata radikal pada pakaian semata.

ASN bercelana cingkrang dan cadar/niqab di lingkungan Instansi Pemerintahan. karena (keduanya) diidentifikasi sebagai tanda-tanda radikalisme, begitu kata pejabat tersebut suatu ketika.

Betul begitu? Saya kira ini bentuk kekeliruan yang masif, terstruktur, dan sistematis. Entah apa yang merasukimu.