Mendengar nama Corona mungkin tidak asing bagi kita, tetapi bisa juga tidak asyik lagi ketika mendengar cerita si Corona. Mengenal siapa sebenarnya si Corona tentu sangat perlu, mengingat si Corona ini telah mampu mempengaruhi dan banyak merubah pola kehidupan umat manusia.

Corona atau dalam bahasa populernya Covid-19 adalah jenis virus yang dimana sudah memakan ribuan bahkan jutaan nyawa manusia dan menumpasnya  secara habis-habisan. Di media sosial ada banyak infomasi tentang si Corono yang  membunuh umat manusia, dan informasi tersebut sangat mengerikan bahkan dapat menyebabkan ketakutan secara berlebihan.

Jika ditinjau, katanya si Corona ini awal mula berasal dari negara China, tepatnya di kota Wuhan. Namun, asal usul dari Corona ini tidaklah menampakkan secara jelas identitasnya seperti apa. Intinya bahwa informasi yang tersebar luas mengatakan bahwa si Corona pertama kali muncul di kota Wuhan.

Setelah beberapa bulan di Wuhan, si Corona ini pun berkeinginan untuk menyebarkan sayapnya kepada negara-negara lain. Mungkin saja si Corona ini ingin juga menikmati luasnya dunia ini, dimana penghuninya pun berbagai macam dan ada banyak jenis makhluk hidup didalamnya. Corona ini sangatlah mudah bergaul dengan umat manusia, terutama kepada mereka yang tidak konsisten atau tidak menjaga dirinya dalam aktivitas kerumunan orang.

Dalam waktu yang tidak berjalam lama, catatan si Corona ini sudah menghuni hampir setiap negara di dunia. Sadisnya karena si Corona dapat dengan mudah mendekati orang-orang dan setelah itu dapat dengan mudah membunuhnya.

Langkah pemerintah terhadap kondisi demikian adalah dengan  memberlakukan berbagai kebijakan agar si Corona ini dapat kembali pulang ke tempat asalnya. Termasuk kebijakan lockdown, social distancing, stay at home dan sekarang ini diberlakukan kebijakan dengan istilah new normal atau kenormalan baru.

Ada hal unik yang mengusik fikiran saya, sehingga tangan saya ini tergerak untuk menulis mengenai si Corona ini. Pada saat awal mula si Corona ini hadir, begitu banyak kita jumpai di media sosial mengenai berita setiap hari ribuan nyawa tewas akibat ulah si Corona.

Dan kondisi itu pulalah, sehingga umat manusia banyak yang stress, dilema dan sangat ketakutan. Selain itu, aktivitas manusia pun berubah secara drastis. Seperti manusia yang dulunya bekerja di kantor atau perusahaan, namun pada saat kehadiran si Corona ini justru mereka harus terpaksa bekerja di rumah dengan bantuan media online. Itu sih tidak apa-apa saja, tetapi bagaimana nasib bagi mereka yang tidak bisa bekerja dengan bantuan media sosial, maka yang terjadi adalah pengangguran.

Melihat kondisi hari, kebijakan pemerintah adalah new normal sebagai alasan alternatif untuk menghadapi si Corona dan situasi jalannya status kehidupan masyarakat. Akibat dari kebijakan new normal ini, justru persepsi terhdap si Corona juga mengalami perubahan secara drastis. Coba kita lihat, pada saat pemerintah belum memberlakukan aturan new normal, kondisi masyarakat sangat hangat dengan perbincangan si Corona.

Tetapi, pada saat diberlakukannya aturan new normal, kondis masyarakat pun kembali pada keadaan semula sebelum ke hadiran si Corona ini. Ada anggapan bahwa dengan aturan new normal, si Corona ini pun juga telah pergi. Sehingga tidak sedikit kita jumpai masyarakat tidak mengindahkan lagi aturan protokol kesehatan.

Kebijkan new normal ini telah mampu menghilangkan dalam fikiran masyarakat tentang si Corona. Bahwa kondisinya si Corona dengan mudah hilang sebagai perbincangan hangat ditengah-tengah masyarakat. Bahkan, ada masyarakat yang justru menganggap bahwa si Corona ini sebenarnya tidak ada wujudnya. Corona ini hanyalah cerita fiktif belaka yang digunakan oleh orang-orang sebagai jalan untuk mengelabuhi pemikiran masyarakat dan dibalik itu ada kepentingan yang terselubung.

Nah, seperti yang terjadi di kampung saya. Saat ini sudah banyak masyarakatnya tidak percaya lagi dengan si Corona, faktanya bahwa ketika berbicara mengenai Corona justru terlihat suatu pembicaraan yang tidak penting lagi dan tidak ada pengaruhnya samasekali terhadap masyarakat.

Hal seperti itu saya dapatkan dan perhatikan di kampung saya, dulu sangat hangat dengan pembicaraan si Corona. Akan tetapi, kalau sekarang itu tidak ada lagi yang pernah membahas si Corona ini, bahkan ada yang merasa risih ketika mendengar lagi cerita tentang si Corona.

Padahal, infomasi di media sosial mengenai penyebaran si Corona pada saat new normal ini tidaklah berkurang sama sekali, bahkan kasus yang terindikasi Corona terus meningkat. Tetapi itu berbanding terbalik dengan kondisi di masyarakat terutama di daerah saya, dimana pola kehidupan masyarakat sudah menganggap bahwa si Corona itu tidak ada lagi dan aktivitas terjadi seperti dulu sebelum Corona lahir.

Dengan demikian, timbul anggapan saya bahwa apakah si Corona masih ada dan apakah betul-betul kau pernah ada. Karena, kondisi new normal telah mampu menghilangkan dalam fikiran dengan cepat mengenai dirimu wahai Corona.

Kalaupun engkau masih ada, tentu kami umat manusia sangat mengharapkan untuk engkau kembali ke tempat asalmu. Biarlah kehadiranmu itu menjadi pelajaran bagi kami, bahwa kita sebagai manusia penting untuk terus  menumbuhkan sifat saling peduli dan sabar terhadap setiap kondisi apapun