Pertemuan dua orang filosof, Gus Dur dan Nietzsche bukan kebetulan, namun memang diagendakan. Agenda pertemuan keduanya dibuat oleh sekelompok mahasiswa. Keduanya didatangkan dalam ruang diskusi. Pertemuan dua sosok legendaris ini tidak dalam bentuk fisik namun pertemuan dua gagasan.

Pertemuan ini saya buat sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Diskusi di luar kelas dengan mengundang gagasan Gus Dur dan Nietzsche. Keduanya sosok yang sama-sama misterius. Gus Dur yang dianggap “gila” dan sosok Nietzsche yang benar-benar gila di akhir hidupnya.

Perbedaan latar belakang dari keduanya bisa digambarkan seperti ini: 

Gus Dur jelas hidup di lingkungan pesantren. Ia cucu dari K.H. Hasyim Asy’ari, Sang Kyai sosok guru bangsa. Juga Gus Dur, bapak bangsa yang merawat keragaman dan menjaga toleransi. Gus Dur dianggap nyleneh, aneh, bahkan seorang wali.

Gus Dur selalu hadir dalam pembelaan kalangan minoritas. Ketika ada diskriminasi minoritas, Gus Dur berdiri paling depan membelanya. Ia sosok yang mengajarkan pentingnya beragama yang santun, ramah, dan tidak suka marah-marah. Bahkan ungkapan-ungkapan Gus Dur masih hidup hingga sekarang.

Lalu, siapakah Nietzsche? Ia sosok yang lahir dari keluarga yang juga taat beragama. Di Jerman, kakeknya petinggi Gereja Lutheran. Ayahnya pendeta di Rocken. Ibunya juga berasal dari latar belakang keluarga pendeta. Jadi Nietzsche termasuk sosok yang taat beragama di awal-awal hidupnya.

Nietzsche belajar banyak hal, filsafat, filologi, etika, dan juga teologi. Namun teologi kemudian ditinggalkan karena kepercayannya memudar. Kepercayaannya memudar karena nilai-nilai teologi menjadi absolut dan tidak bisa dipugar lagi. Dari sini Nietzsche kemudian dianggap sebagai atheis.

Jika Gus Dur dianggap gila. Maka Nietzsche benar-benar gila. Nietzsche menderita sakit jiwa pada tahun 1889 dan meninggal pada Agustus 1900. Sama halnya dengan Gus Dur, gagasan-gagasan Nietzsche mengejutkan kajian filsafat modern. Bahkan pemikirannya masih dikenal hingga sekarang.

Tuhan Sudah Mati dan Tidak Perlu Dibela

Kata-kata Nietzsche yang paling menarik perhatian adalah “Tuhan telah mati”. Berawal dari ungkapan ini Nietzsche dianggap seorang ateis sejati. Ia melawan segala nilai ketuhanan-absolut yang menjadi penjara bagi kebebasan nilai-nilai duniawi.

Nietzsche memunculkan ungkapan tersebut karena melihat banyaknya doktrin-doktrin atau ajaran agama menjadi absolut-mutlak. Ajaran-ajaran ketuhanan justru menjadi akibat hilangnya nilai-nilai baru yang ada. Menurutnya, manusia harus terbebas dari nilai-nilai absolut yang mampu menjamin dirinya.

Ungkapan Nietzsche menegaskan bahwa manusia harus mampu menciptakan nilai-nilai yang baru. Nilai-nilai yang lama, bahkan absolut, akan runtuh dan melahirkan nilai-nilai yang baru. Nietzsche menyebutnya dengan nihilisme radikal. Dunia akan terus berubah, dan perubahan akan melahirkan perkembangan.

Gagasan Gus Dur tentang Tuhan juga menarik perhatian. Ketika Gus Dur dianggap ‘gila’, justru itu kebenaran yang tidak bisa dipahami semua orang. Kata-kata Gus Dur yang populer dan menyedot banyak perhatian, salah satunya ialah “Tuhan Tidak Perlu Dibela.” Jangan sampai Anda gagal paham soal kata-kata Gus Dur ini.

Gus Dur menjelaskan melalui ungkapan al-Hujwiri, “Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘ia menyulitkan’ kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Gus Dur ingin menjelaskan bahwa Tuhan tidak bisa dirumuskan dengan bahasa manusia. Ia besar, kuasa, dan tidak perlu pembelaan. Apapun yang dilakukan manusia, ciptaan-Nya, tidak akan mengubah apapun, ia tetap Tuhan. Oleh karena itu, Gus Dur menegaskan, “Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela.”

Merumuskan Tuhan sama halnya menciptakannya. Padahal ialah Sang Pencipta. Jika Tuhan dirumuskan atas persepsi manusia, merepresentasikan kekerasan, perusakan, maka tampak kejam sekali Tuhannya. Lain halnya jika Tuhan direpresentasikan sebagai sosok yang adil, bijak, ramah, maka Tuhannya pasti menciptakan kerukunan dan perdamaian. Seperti apakah Tuhan-mu?

Lantas, Siapa yang Patut Dibela dan Diperjuangkan?

Bagi Nietzsche, Tuhan telah mati. Nilai-nilai spiritualitas-ilahiah telah runtuh digantikan nilai-nilai yang baru. Nilai-nilai yang baru itu adalah kemanusiaan, kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang. Begitu seterusnya, nilai-nilai senantiasa berubah, termasuk nilai-nilai spiritualitas.

Nietzsche menolak nilai yang absolut, apalagi nilai-nilai ketuhanan. Nilai-nilai yang absolut telah mati berganti nilai-nilai baru yang lebih hidup. Apalagi, selain pengetahuan dan juga peradaban. Belajar dari Nietzsche, bahwa kehidupan terus berubah, ada nilai-nilai yang lebih patut diperjuangkan.

Berjuang untuk kemanusiaan. Membebaskan dari segala bentuk penindasan. Berjuang melawan intimidasi dan kekerasan atas nama agama, ras, tradisi atau lainnya. Berjuang membentuk peradaban yang toleran. Berjuang melawan korupsi. Berjuang melakukan perubahan.

Gus Dur, membela yang sebenarnya dibela oleh Tuhan. Membela kaum lemah. Membela kaum minoritas. Membela kebajikan. Membela kepentingan manusia. Gus Dur mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan bukan untuk Tuhan, tapi untuk manusia dan semesta.

Tuhan tidak perlu dibela, karena Tuhan tidak memerlukan apa-apa dari kita. Tuhan melihat manusia yang paling baik adalah mereka yang paling beriman dan bertakwa. Mereka adalah yang menebarkan kebaikan, kebajikan, keadilan, toleransi, dan menjaga kerukunan. Tidak ada ceritanya Tuhan membela kekerasan dan perusakan, apalagi atas nama diri-Nya.

Berjuanglah dan bela-lah nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, pengetahuan, dan juga keragaman. Atas nama kebaikan dan peradaban.