Tugas menumpuk. Kuliah versi kurikulum darurat semester ini mengoptimalkan penggunaan media daring. Semuanya online. Kerja jadinya berkisar soal baca notifikasi (berupa jenis tugas baru, pesan dosen, komentar teman mahasiswa), download bahan kuliah, upload tugas, lihat notifikasi lagi (tugasnya udah diterima dosen apa belum), dan terakhir lihat update perkembangan jumlah pasien korona. 

Kuliah jenis ini, sumpah, sangat membosankan. Bukan hanya membosankan, tapi kian hari kian banyak tugas yang disodorkan.

Belum kelar yang satu, yang satu ikutan muncul. Dalilnya, biar mahasiswa tetap produktif saat berada di rumah (pilar ketiga tangkal korona versi kampus). Iya-iya, produktif. 

Awalnya, semua pekerjaan dilakukan dengan semangat, seperti keseriusan mencari sumber, baca buku-buku referensi, buku-tutup laptop buat ngetik, naik-turun perpustakaan, pulang-pergi kamar mandi biar lega, bermacam-macam bro. Semangatnya di hari-hari pertama doang – pokoknya seminggu gitu semangatku joss. Ritme ini, kudu dipertahankan. Biar produktif!

Akan tetapi, ketika tiba waktunya aku berpapasan dengan ruangan berukuran 3m x 3m itu, aku disandera. Kamarku seolah-olah membuat mataku enggan berlama-lama menyala menyenteri masa depan. Aku terbaring! Dari sibuk ngurusin tugas, bertahap aku kehilangan keseimbangan. Kehilangan keseimbangan berpikir, kehilangan keseimbangan posisi badan, dan akhirnya terkapar karena ngantuk

Ya karena jenuh. Bahkan sementara ngetik, batrei keseimbanganku tiba-tiba drop hingga ke level 5 persen. Ambyar tenan!

Berada di tempat tidur pada pukul 21.00 adalah sebuah tantangan. Apalagi usai makan. Parah iki. Pada jam-jam segitu, aku memang memegang sesuatu di tangan. Biasanya pena buat corat-coret dan membuka beberapa bahan bacaan yang menarik intuisi pengetahuan akademisku. Awalnya, relasi kami – bahan bacaan dan aku – terlihat akrab. 

Sesekali aku menarik garis atau sekedar mewarnai beberapa kata penting pada bacaan yang tengah kubaca. Aku tahu bahwa keberadaanku di atas tempat tidur dengan posisi duduk sedikit bungkuk, tidak bertahan lama. Dan, memang, aku akhirnya pelan-pelan menurunkan badanku di atas kasur. Sungguh enak dan menyenangkan.

Bacaan yang tadinya terlintas di benakku mulai menghilang. Raga terasa capek. Aku tak tahu apa penyebab semuanya. Aku hanya mengira mungkin ini adalah sebuah kejadian langka – dalam artian bahwa kejadian seperti ini hanya terjadi saat-saat tertentu. 

Rupanya tidak. Aku salah mengira. Setiap malam, aku dininabobokan dalam waktu yang masih urgen untuk kegiatan berguna lainnya. Aku kalah sama kemalasanku. Rasa malas menyelinap dan bermanuver melalui sela-sela kelopak mata. Aku mulai merasa berat untuk berlama-lama membaca dan belajar. Ya tidur. Aku selalu merasa ngantuk di mana belum saatnya ‘tuk ngantuk.

Tidak ada tahap yang mengantar proses tidurku. Ujian sudah di kelopak mata. Aku mengulur-ulur waktu. Jika waktu bisa berbicara, ia akan mengatakan demikian, “Sudahkah kita bersahabat?” 

Pertanyaan provokatif sang waktu menyedot perhatian publik, termasuk Anda yang tengah membaca. Pertayaan sang waktu tentunya menjadi bahan refleksi bagi para pemburu waktu. Salah satunya adalah aku. Lagi-lagi waktu menyeretku ke belakang dan menghardik kemalasanku terkait masa depan. Aku sendiri hampir tidak bisa menghentikannya.

Dalam rengkuhan peristiwa yang menyayat pengetahuan, waktu tiba-tiba menghilang. Ia habis. Ia meruang-menguap pergi bersama hari, bulan, dan tahun. Ia tak kelihatan. Aku sendiri menyadari bahwa waktu melepaskan aku dari keterkungkunganku. Di mana ada kegiatan dengan jenis apapun, waktu siap mengekspos hal-hal tertentu. Dan, dalam kekalutan, aku mengenal waktu. Waktu selalu untuk diriku, sedangkan kemalasanku selalu tepat.

Aku terpaksa meninjau kembali agenda kusamku di meja belajar. Dari bulan Maret hingga pertengahan September, tak ada satu pun tugas yang kumonumenkan melalui tulisan atau setidaknya aku sadari bahwa aku pernah melewatinya. Padahal tugas menumpuk. 

Ah, tenan wae, paling ada temen-temen yang lain juga terlambat ngumpul. Iya kan? Kamu juga pasti bilang gitu. Memang teman-teman membantu, akan tetapi aku sendiri harus menghadapi ujianku secara personal.

“Ujian.....ujian”, ujar waktu. Aku terbangun. Kuambil catatanku yang tadinya sudah distabilo. Raga tak kuat. Rasannya, tempat yang baru saja kudiami empuk banget. Ayo tidur lagi. Aku digebuk kemalasan. Aku kalah sama dia. Aku jenuh. Lalu, mau apa lagi?

Dalam kekalutan, aku dibiarkan jatuh dalam, dilema. Aku dihadapkan dalam situasi cemas sekaligus takut. Jangan-jangan, kalau-kalau, seandainya,,,hallla pokoknya banyak lah. Tenang aja. Aku mematikan laptop dan akhirnya menutup mata. Istirahat! Kuliah daring, ya begitu.