89570_57742.jpg
Koleksi pribadi
Gaya Hidup · 3 menit baca

Obat Tidur Itu Bernama Buku

Sejak masuk di salah satu perguruan tinggi, saya memiliki kebiasaan mengoleksi buku, baik buku yang berkaitan dengan jurusan kuliah maupun buku-buku umum yang sama sekali tidak ada kaitannya. Sosial, politik, filsafat sampai novel, menjadi buku incaran saya untuk menambah koleksi. Tidak kurang dari 750 buah buku berserakan di ruang tempat saya merebah lelah.

Untuk seorang yang baru menemukan hobi bacanya saat menginjakkan kaki di dunia kampus, saya tergolong orang yang memiliki buku cukup banyak dibanding teman-teman lain. Kebiasaan ini bermula saat saya bergabung di salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang Pers beberapa tahun silam. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Universitas Hasanuddin namanya.

Sampai saat ini, kebiasaan baik ini masih saya jalani. Bagi saya, memiliki banyak buku punya feel tersendiri. Di samping dapat memicu gairah membaca, mengoleksi buku juga membuat saya merasa hidup. Meski belum terkategori sebagai pembaca yang ulung, atau banyak pembaca mengistilahkannya “pemakan buku”, saya tetap merasa “kenyang” hanya dengan melihat jejeran koleksi buku yang ¼-nya sudah kusam oleh ulah pensil, stabilo, jari dan mata saya.

Kolektor, pembaca, lalu menjadi penulis. Sejak awal, saya ingin mengoleksinya, memandangnya sampai bosan, lanjut membacanya, kemudian menuliskan inti sarinya. Ini yang mendasari adigium yang selalu saya ucapkan pada teman diskusi gazebo fakultas saat kuliah dulu. Bahwa jika membaca adalah cahaya, maka menulis adalah prismanya. Kedua aktivitas itu akan mengabadikan pelangi.

Di samping itu, bagi saya, ada hal terselubung lain di balik alasan-alasan sederhana di atas dalam mengoleksi buku. Seorang mahasiswa aktif, menikmati kopi dan diskusi di seperempat malam adalah aktivitas lumrah. Penyakit laten mahasiswa di luar maag adalah imsomnia. Tidak jarang penyakit ini terbawa sampai kita jauh tahun menyelesaikan kuliah. Bukulah yang menyelamatkan saya.

Obat Tidur Itu Bernama Buku

Beberapa tahun semenjak didaulat bergelar sarjana hukum, kebiasaan tidur setelah azan subuh berkumandang masih saja terus “terpelihara”. Ritus kehidupan seperti ini tentu sangat tidak baik, bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Tidak jarang kita ketinggalan menikmati manisnya interaksi pagi saat mood kebanyakan orang sedang hangat-hangatnya.

Hingga pada suatu kesempatan saya menemukan penawar menarik yang selama ini berserakan di sekitar. Book, ya… buku yang menarik perhatian di sela-sela upaya saya memejamkan mata.

Ada kebiasaan lain yang selalu saya lakukan saat ingin membaca sebuah buku, yang ini mungkin tidak dilakukan oleh mereka para “pemakan buku”. Pola membaca saya terstruktur, ini disebabkan kemampuan terbatas saya dalam menganalisa isi bacaan dan konten tulisan yang akan saya buat.

Jika saya mulai membaca buku berlabel sosial, maka dalam seminggu sampai saya menamatkan tulisan yang berbau sosial, buku bacaannya berkutat seputaran teori sosial. Begitu pula jika saya membaca buku berlabel lain. 

Begitu seterusnya, dengan asumsi; ketika duduk membaca, maka niatan membaca sudah tertancap dalam. Tidak ada aktivitas lain. Ini sedikit kaku bagi mereka yang terbiasa membaca dan dapat membaca kapan dan di mana saja mereka mau.

Pada suatu waktu luang yang tidak ada agenda membaca, saya memerhatikan susunan koleksi buku sembari mengidentifikasi buku apa saja yang terpinjam dan belum dikembalikan. Maklum saja, saya lahir dan penganut garis keras konsep Prof. Achmad Ali, salah satu dosen yang selalu mengatakan, “Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku, tetapi lebih bodoh lagi mereka yang meminjam dan mengembalikannya.”

Untuk urusan ini, saya kadang menjadi golongan “bodoh” demi upaya membumikan budaya membaca. Tetapi belum masuk dalam kelompok “lebih bodoh”. Ini bisa dipastikan bahwa buku yang saya pinjam selalu berhasil saya kembalikan, meski dengan perasaan berkecamuk dirundu dilema. 

***

Di sela hitungan dan (masih) dalam kondisi mengidap penyakit insomnia, tiba-tiba mata berat untuk berkedip. Semakin memerhatikan judul-judul buku, mata semakin sayu dengan rasa kantuk menghampiri. Benar saja, saya tertidur beberapa menit setelahnya, dan terbangun beberapa menit saat azan subuh telah dikumandangkan.

Insiden ini tidak mendapat perhatian lebih. Hanya saja, berhasil membuat saya penasaran.

Hingga malam selanjutnya saya kembali mengidentifikasi koleksi saya, meski dengan kesadaran penuh bahwa belum ada buku yang dikembalikan sejak terakhir kali saya berhitung. Dan berhasil, saya kembali terlelap. Kini Insomnia itu terobati dan koleksi buku adalah obatnya.