Setiap orang punya jalan dan jatah hidup masing-masing memang benar adanya. Gak ada yang bisa memastikan kehidupan orang lain akan lebih buruk atau lebih baik. Mengalami masa lalu atau hari ini buruk belum tentu akan buruk pula di masa yang akan datang. 

Begitupun sebaliknya, hari ini dengan kehidupan yang baik gak bisa menjamin akan baik pula pada masa yang akan datang. Dunia terus berputar, nasib dan takdir pasti akan terjadi di mana semua orang harus bisa menerima dengan ikhlas.

Saya sangat percaya bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing. Kita gak boleh justifikasi orang apa yang ditampakkan di masa lalu atau hari ini akan sama di masa yang akan datang. Setiap orang tentu punya pengalaman hidup yang sukar untuk dilupakan. Entah dengan pengalamannya dibully, dicaci, didiskriminasi, atau bahkan dipuja, tentu akan ada balasan yang akan didapatkan.

Saya gak habis pikir, masa lalu semenjak menjadi mahasiswa menjadi cerita yang tak terlupakan bagi diri saya. Semenjak saya pindah dari kampus Amik Tomakaka Majene ke Universitas Sulawesi Barat dengan kembali menjadi mahasiswa baru, tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan memojokkan sering kali saya dapatkan. Mereka kebanyakan berpikir kenapa saya memilih untuk pindah kampus padahal saya sudah mau selesai masa studinya di Kampus Amik Tomakaka.

Waktu itu memang menjadi keputusan berat bagi diri saya pribadi, keluarga dan teman kebanyakan gak setuju dengan keputusan yang saya ambil itu. Namun saya percaya keputusan itu tentu ada hikmahnya dan itulah jalan hidup saya yang tak bisa saya tolak.

Sejak menjadi mahasiswa di Universitas Sulawesi Barat

Berhasil masuk di Universitas Sulawesi Barat dengan status sebagai mahasiswa baru (maba) dari pindahan kampus lain, bukanlah nasib baik dalam kacamata subjektif saya. Lulus dan diterima di jurusan Matematika dengan pilihan ketiga menjadi titik terberat bagi saya untuk menempuh perkuliahan dan suasana baru.

Jurusan dengan peminat yang sedikit dan jurusan yang menjadi momok menakutkan bagi banyak mahasiswa. Matematika adalah menjadi salah satu pelajaran yang sangat sulit dan kebanyakan orang menghindarinya.

Terlintas dalam pikiran saya waktu itu untuk pindah lagi dengan jurusan yang berbeda. Setelah berjalan beberapa semester, keinginan itu saya penuhi dengan adanya syarat administrasi sebagai keterangan untuk pindah ke Fakultas lain.

Semua sudah saya komunikasikan, Dekan dari Fakultas yang ingin saya tinggalkan dengan Dekan Fakultas yang ingin saya tempati sudah mendapatkan persetujuan. Tetapi nyatanya gak jadi, kendalanya ada di bagian Akademik Rektorat dengan keputusan kalau saya pindah maka pembayaran UKT malah dinaikan. Kondisi itulah yang membuat saya gak jadi pindah Fakultas dan tetap bertahan di Fakultas MIPA walau keinginan belum sepaham.

Hari-hari perkuliahan saya coba untuk lalui, saya coba beradaptasi dengan jurusan saya tetapi tetap saja sulit untuk saya lakukan. Perkuliahan saya pun gak karuan, sering gak masuk kuliah dan juga kadang gak taat pada aturan Fakultas.

Kondisi itu membuat beberapa dosen dan staf malah gak suka atas sikap yang tampakkan. Hingga itulah saya merasa asing di Fakultas MIPA dan lebih memilih bergaul dengan teman-teman mahasiswa di luar dari jurusan Matematika. 

Nama saya gak populer kepada mahasiswa lain di jurusan Matematika, saya gak masuk jadi pengurus BEM dan gak pernah tampak di muka dihadapan para mahasiswa sebagai jurusan Matematika.

Proses perkuliahan yang gak karuan membuat saya harus banyak mengulang mata pelajaran, sering kali saya masuk di kelas junior saya. Teman-teman seangkatan saya pun lebih dulu menyelesaikan semua mata kuliahnya. 

Teman seangkatan saya sudah ada yang nyusun skripsi, tetapi saya masih bergelut dengan pelajaran mata kuliah. Hingga diriku pun sering dinobatkan akan terlambat selesai. Pengetahuan pas-pasan dan kedisiplinan kuliah pun gak jelas, itu yang tampak pada sebagian dosen-dosen.

Semua orang sudah ada jalannya masing-masing

Tak ada pilihan lain bagi saya waktu itu untuk tidak mengikuti perkuliahan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Meski tertinggal jauh dan mengulang beberapa mata pelajaran kuliah, itulah nasib dan risiko yang harus saya terima namun saya tetap lalui dengan penuh tanggungjawab.

Di akhir-akhir semester saya mulai sadar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dalam komitmen saya bahwa gak akan lagi menyia-nyiakan perkuliahan. Beberapa pelajaran mata kuliah saya mulai serius walau sangat susah untuk dimengerti. Dalam prinsip, asalkan gak mengulang lagi dengan pelajaran yang sama untuk semester berikutnya.

Semua berjalan sesuai dengan harapan walau belum maksimal. Berada di fase kerja skripsi menjadi poin penting bagi diri saya. Dalam keyakinan saya bahwa kerja skripsi harus saya serius dan tekun untuk mengerjakannya. Semangat gak boleh pudar, apalagi sampai nunda kerja skripsi dengan waktu yang berlama-lama.

Di titik itu, saya justru bisa sampai berada di posisi teman-teman seangkatan. Mereka yang kebanyakan sudah lama kerja skripsi tetapi saya bisa sampai di tahap mereka. Bahkan ada yang bilang bahwa proses saya kerja skripsi cepat sehingga bisa mengejar mereka yang sudah lama dahului saya.

Hingga akhirnya pun, pendaftaran ujian sidang skripsi tiba dan saya salah satu orang yang ada di dalamnya yang berjumlah 11 orang. Dosen-dosen banyak yang kaget, kok diri saya dulunya sangat amburadul dalam perkuliahan tetapi saya banyak lampaui  teman-teman seangkatan untuk maju ujian sidang skripsi, terutama bagi kaum laki-lakinya. Bahkan diri saya dinobatkan sudah berubah 180 derajat.

Keadaan mengharukan itu pun benar-benar terjadi, tepat tanggal 29 November 2022, saya menjadi salah satu wisudawan di Universitas Sulawesi Barat. Fakultas MIPA yang terdiri dari 11 orang wisuda waktu itu, saya termasuk sendiri laki-laki. Dalam catatannya, seangkatan saya di Fakultas MIPA kini baru dua orang saja untuk laki-lakinya yang sudah selesai.

Awalnya sempat gak terduga, saya bisa menjadi bagian dari itu. Perjuangan dan kerja keras yang saya sudah lakukan ternyata tak memberikan hasil yang sia-sia. Hal yang menjadi kunci keberhasilan, ketekunan dan kedisiplinan menjadi pegangan saya di akhir-akhir perkuliahan saya.

Saya makin percaya bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing, masa lalu yang buruk tak selamanya akan buruk untuk masa depan, setiap orang punya hak untuk berubah. 

Prinsip itu akan selalu saya pegang, apa yang terjadi hari ini belum tentu akan sama di masa yang akan datang. Hanya saja, hal yang mesti dilakukan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik, tekun, disiplin, dan bertanggungjawab harus menjadi penopang dalam mengarungi setiap perjuangan.