Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu sekolah yang berada di kota saya. Di sana, kebetulan saya bertemu dengan beberapa guru sekaligus bisa sedikit berbincang terutama membahas tentang pendidikan di masa pandemi seperti sekarang ini.

“Beginilah keadaannya. Aktivitas kegiatan belajar-mengajar tidak diperbolehkan di sekolah. Hal ini sungguh jadi masalah,” keluh salah satu guru yang saya temui.

“Sebenarnya tidak adil saja ketika pasar, mall, tempat-tempat pariwisata dibuka, eh sekolah yang jadi tempat sangat penting malah tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas yang semestinya.”

“Padahal pendidikan jarak jauh ini hanya bisa melakukan transfer knowledge saja, itu pun tidak bisa maksimal. Padahal pendidikan itu bukan cuma transfer knowledge saja, tapi juga transfer character dan interaksi sosial yang hanya bisa dilakukan secara langsung bukan sekadar lewat teori semata.”

Hal ini menyadarkan saya tentunya tentang kondisi new normal yang sudah memasuki lebih dari tiga bulan ini.

***

Setelah berakhirnya masa PSBB (Pembatasan Sosial Bersakala Besar), maka new normal adalah pilihan yang diambil oleh pemerintah.

Pemerintah memberlakukan new normal dengan dalih keadaan mendesak untuk memperbaiki ulang berbagai sektor yang sempat anjlok pada saat awal-awal wabah virus covid-19 berlangsung. Masalah ekonomi, politik, kesehatan, dan bahkan pendidikan pun kena imbasnya karena ulah wabah covid-19.

Kok, rasanya new normal ini seperti herd immunity secara halus bahasa. Walaupun pemerintah menyangkal, hal ini bukan herd immunity. Tapi tetap saja berdasarkan kasus yang terjadi hingga pada akhir Agustus ini, Indonesia mendapatkan lebih dari 166 ribu kasus dan menempati urutan 23 di dunia sebagai negara yang paling banyak terkena kasus virus covid-19.

Ah, coba lihat seksama. Ketika kita melihat banyak pasar, mall, dan tempat pariwisata yang dibuka, justru hal ini yang sangat berpotensi besar untuk bisa berkerumun dan menimbulkan penyebaran virus, tapi sekolah malah ditutup dan diinisiasi melakukan pendidikan jarak jauh, tanpa ada inovasi yang begitu jelas.

Apakah ini menandakan kita lebih mementingkan soal uang dan faktor ekonomi saja dibandingkan dengan mementingkan kualitas pendidikan? Rasanya sampai hari ini kita dibuat geleng-geleng kepala saja.

Saya sempat beberapa kali mendengar cerita atau keluhan dari beberapa orang, baik itu sesama pelajar atau pun para guru dan dosen berkaitan tentang penyelenggaraan pendidikan di era new normal. 

Banyak sekali keluhannya terutama tentang permasalahan pendidikan jarak jauh yang selalu digaungkan oleh pemerintah. Berkaitan dengan kuota internet, sinyal yang sangat tidak efektif bagi para pelajar kelas menengah ke bawah, apalagi bantuan kuota internet dan fasilitas gadget yang menjadi kendala utama dan belum ada bantuan efektif dari pemerintah. 

Ditambah ketika di rumah pasti para guru dan pelajar mempunyai kesibukan berbeda di setiap rumah. Lalu, dana untuk pendidikan selama pandemi terbilang kecil, bahkan ada beberapa kampus yang sampai menggugat tentang kebijakan UKT karena tidak dipakainya fasilitas kampus selama pandemi ini. 

Apalagi nasib para mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhir, penelitian, dan skripisi yang pasti membutuhkan beberapa penelitannya di lab kampus dan soal modal dana yang tidak sedikit.

Bahkan penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi ini membuat para mahasiswa dan para pelajar mengeluh karena tidak masuknya pemahaman tentang pelajaran. Mereka pusing terlalu lama berada di depan gadgetnya selama beberapa jam penuh.

Kemudian, dosen guru pun tidak banyak yang menguasai medan teknologi secara fasih. Akibatnya, mereka hanya bisa memberikan materi lalu tugas kepada para pelajar dan mahasiswanya, tidak lebih tidak kurang.

Lalu, beberapa teman saya sesama mahasiswa mengatakan, di Indonesia, pendidikan dalam menghadapi situasi yang seperti ini belum ada aturan dan pedoman yang jelas, apalagi minimnya inovasi yang bisa dibuat.

Model pendidikan yang seperti ini hanya bisa melakukan transfer knowledge, tidak ada transfer character. Kalau hanya bisa melakukan transfer knowledge, rasanya manusia pun sudah kalah cerdas oleh Google.

Situasi yang seperti ini malah akan menghambat kegitan pendidikan itu sendiri, karena aktivitas kegiatan belajar-mengajar yang biasa dilakukan, terutama kegiatan-kegiatan yang dilakukan di luar kelas, contohnya seperti kegiatan organisasi. 

Aktivitas di organisasi pun akan terganggu karena tidak bisa berinteraksi secara langsung, yang ini akan menghambat pengembangan kapasitas para pelajar ataupun mahasiswa di luar kelas.

Padahal bila kita lihat, justru kegiatan di tempat pendidikan bisa sangat dikontrol apalagi dengan menerapkan protokol kesehatan di era new normal ini. Lain halnya dengan tempat-tempat seperti pasar, tempat hiburan, dan tempat pariwisata yang sulit dilakukan bila melihat sampai sejauh ini.

Hal ini sungguh miris, ketika tempat pendidikan ditutup, tapi tetap saja pasti ada sebuah kesempatan untuk mereka melakukan aktivitas di luar rumah seperti berlibur bersama keluarga, nongkrong dengan teman-temannya, dan walau hanya sekadar berbelanja di mall dan pasar.

Lalu apa bedanya? Apakah new normal ini sungguh adil?

Berbeda ketika kita bisa melaksakan pendidikan yang benar-benar new normaseperti layaknya kegiatan kantor yang dilakukan secara langsung tapi dengan mengindahkan protokol kesehatan. Di sini akan terjalinnya aktivitas sosial ketika para pelajar dan para mahasiswa berkumpul melakukan aktivitas sosial yang bermanfaat seperti biasanya. 

Atau bisa juga andalkan saja para mahasiswanya, suruh saja mereka berembuk dan berdiskusi. Siapa tahu mereka bisa menemukan solusi yang bisa mengalahkan kebuntuan pemerintah sekarang. Karena kan mereka seringnya rapat-rapat terus sampai malam kalau di kampus.

Bukankah Ki Hadjar Dewantara menyatakan pusat pendidikan itu ada tiga yaitu rumah, sekolah dan masyarakat? Bila beberapanya tidak diperkenankan, lalu pendidikan macam apa yang terjadi sekarang ini?