Ide dari sebuah karya tulis bisa lahir dari mana dan apa saja. Ia bisa lahir dari kesaksian mata menjumpai seorang pejabat tertawa di atas podium. Ia bisa lahir hanya dari sebuah perenungan tentang kisah tukang becak yang dibayar setiap pagi untuk membuang popok dari sebuah rumah mewah ke sungai.

Ide bisa lahir dari mana dan apa saja. Ia tak terbatas hanya dari sepenggal kisah dan realitas semacam di atas. Tetapi untuk menetaskan ide yang datang dari mana dan apa saja itu menjadi sebentuk karya tulis berupa puisi, cerpen, novel, esai dan seterusnya, tentulah butuh sepenggal ruang yang begitu terbatas. Keterbatasan ruang yang saya sebut kemudian sebagai ruang kesunyian.

Ruang sunyi bukan saja soal suatu lokasi berkotak yang kedap terhadap suara-suara, jauh dari benda-benda yang hilir-mudik di depan mata atau jauh dari gemerlap lampu putar yang memusingkan kepala. Sama sekali bukan itu yang saya maksud.

Kesunyian dalam konteks ini adalah suatu momen steril. Momen di mana seorang penulis terbebas dari hantaman kebisingan, keramaian, bisikan dan segala macam hiruk-pikuk. 

Jika seseorang menemukan sebentuk ide, lalu menuliskannya kendati dalam kondisi bising, ramai dan penuh hiruk-pikuk, maka itulah momen kesunyian yang dimaksud. Suatu momen yang begitu fokus dan independen—momen yang steril.

Momen yang independen ini tidak lain adalah momen ketidakterikatan antara penulis yang sedang melangsungkan tulisannya dengan kondisi ingar-bingar di luar dirinya. Dalam kondisi independen ini penulis dengan bebas merakit ide-ide dan keberlanjutan idenya itu ke dalam bentuk kata dan kalimat hingga lahir sebuah karya yang entah puisi atau cerpen atau entah apa.

Dalam kondisi independen ini pula seorang penulis bisa memilih kata-kata yang disukai sebebas-bebasnya, kata yang jernih, yang imajinatif,  dan kata yang menurut si penulis tidak terpenjara oleh apa pun termasuk oleh kepentingan dari aktivitas menulis itu sendiri.

Dari momentum yang independen ini, tulisan atau karya tulis akan lahir sebagai dirinya sendiri, dan akan lahir sebab dorongan dirinya sendiri. Itu karena lahirnya karya tulis tersebut dalam kondisi steril dari cengkeraman apa pun yang keras ataupun yang begitu lunak.

Maka dalam alur ini, tidak ada sama sekali campur tangan orang lain di luar diri si penulis yang akan berhasil mencabik momen steril ini. Dalam maksud yang lebih pendek, setiap karya tulis beserta isinya selalu lahir dari momen yang bebas dari sangkut-paut dan campur tangan, atau dorongan apa pun dari luar.

Setiap karya tulis tumbuh besar dalam rahim kesunyiannya, yang tanpa campur tangan dunia di luar dirinya. Maka tentu, berharap banyak pada sesuatu di luar diri si penulis sendiri untuk melahirkan sebuah karya sepertinya adalah perkara yang kurang tepat—kalau tidak mau disebut fatal.

Sebagai Momentum "X"

Seno Gumira Adjidarma (SGA) dalam suatu kesempatan menulis tentang musabab lahirnya empat cerpennya; Pelajaran Mengarang, Sepotong Senja untuk Pacarku, Telinga dan Maria tidak sama sekali mengelak bahwa kenyataan dari proses kreatif lahirnya prosa itu adalah perkara yang begitu misterius atau faktor "x".

Disebut misterius sebab tidak terikat oleh rencana outline atau kerangka apa pun. Tidak terencana dalam alurnya dan seolah melejit-lejit sendiri. Keadaan semacam itu kurang lebih bisa disebut sebagai hasil kerja imajinasi. Imajinasi ini akan menemui jalannya yang misterius hanya pada momen yang sunyi, yang steril, yang independen dan yang bisa bebas gerak.

Pada suatu hari SGA membaca cerpen Nona Fitch besutan Alfred Hitchcock. Sebagaimana diakuinya, dari cerpen tersebut SGA kemudian menulis cerpennya Pelajaran Mengarang. Dalam konteks ini, Nona Fitch sebagai ide dan Pelajaran Mengarang sebagai karya tulis produk yang independen.

Kendati SGA terinspirasi pada cerpen Nona Fitch, SGA tidak bisa melahirkan cerita pendek sebagaimana Nona Fitch, juga tidak bisa melahirkan Pelajaran Mengarang tanpa momentum independen dari Nona Fitch dan lebih-lebih SGA tidak akan bisa memastikan lebih awal bahwa karya tulis yang akan dilahirkannya adalah segelumit cerita seorang anak yang memiliki ibu seorang pelacur. Misterius!

Dari ide menuju lahirnya karya tulis, atau dari Nona Fitch ke Pelajaran Mengarang dipisah oleh ruang yang steril, yang independen, yang bebas dan yang sunyi. Pelajaran Mengarang bebas dari Nona Fitch.

Jarak antara ide dan karya tulis yang dibentuk ruang sunyi selalu bisa memunculkan sesuatu yang tak tertebak, melejit-lejit. Untuk itu SGA terus mengatakan bahwa karya tulis khususnya cerita pendek diciptakan oleh faktor X yang tak bisa dijabarkan karena setiap karya tumbuh besar dengan misterius di dalam ruang yang independen, di dalam momentum kesunyian.

Keran Kebijakan sebagai Ide, Tidak Lebih

Pamekasan Menulis—Program pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk mewadahi penulis muda—yang dilaunching oleh Bupati Baddrut Tamam pada 2 Desember adalah ide. Sebagaimana ide, launching Pamekasan Menulis menuju aktivitas menulis dipisah ruang sunyi.

Ide atau kebijakan, dalam perkara semacam ini, sama dengan momen ketika komunitas menulis mendedahkan maklumat untuk wajib menulis bagi anggotanya.

Karena urusan menulis dan menjadi penulis adalah momentum independen, momen kesunyian, maka menjadi penulis dan tekun menulis bukan lagi urusan komunitas atau urusan pemerintah.

Di sinilah, sesuatu di luar diri penulis hanyalah pemantik atau ide. Kebijakan itu hanyalah pemantik atau ide. Ide menjadikan Pamekasan Berliterasi adalah pemantik. Menganggapnya dependen dengan momentum sunyi menjadi penulis adalah perkara yang kurang tepat. Ini sama kurang tepatnya ketika menganggap bahwa masuk komunitas menulis bisa menjadi penulis tanpa perlu momentum independen untuk menulis itu sendiri.

Ide yang bertumpuk di kepala tidak akan membuat seseorang lantas menjadi penulis. Ide perlu diinternalisasikan dengan intensi. Intensi ini dirajut di ruang yang begitu independen, yang begitu sunyi, yang begitu fokus dan yang begitu steril.