Bait Mika & Dina 

Dina terus mengejar suka di balik kepalanya
Tanpa alas kaki, terus berlari mendekati mimpi
Ratusan malaikat turun membelai langkahnya
Terkuras sudah penantian panjang, menjemput kepayang

Mika memetik sekuntum duka
Semakin menyalakan panas api
Berhenti menyanyikan lagu-lagu di bawah bulan, langkahnya gontai menemu resah

Dina mulai mendendangkan derai-derai cemara
Suara Chairil menggema di sudut sukmanya
Membentur rasa yang sebelumnya alpa
Roda terus berputar dan menemu dadanya

Mika melepaskan duri-duri di tangkai jiwanya
Hujan turun menghapus segala lelah yang hampir pasrah
Menemukan cinta yang tumbuh di selokan

Langit Mika
Bumi Dina
Awan Mika
Mendung Dina

Siang menelan malam, pagi menjemput matahari
Mata berputar, rasa diam, sukma menghilang
Api padam, menjemput cahaya.

Istikharah

Sampailah di ujung prahara
Pertanyaan silang gemintang mondar-mandir menusuk bulan
Tikus-tikus menderu memanggil jawaban
Tuhan, haruskah ada lima jalan di desa ini? 

Sepi yang menyeru bias keputusan
Debu-debu mengitari mata abaikan pandang
Mawar rontok tersapu bait-bait puisi lama
Gang terlalu sempit, jalan ana yang harus aku tuju?

Di bawah langit yang berkicau melantunkan hujan
Hamba-Mu bersujud mengeja kata
Hembusan angin menyapa ruang-ruang kosong
Aku pasrahkan pada sajadah yang diam dan sepi. 

Petualangan Ken

Petualangan ini harus diakhiri, Ken
Pagi berhenti pada titik yang telah ditentukan
Rumput tumbuh dan pulang seperti biasa
Dan kita harus berani berhenti sedia kala

Kebaikan dan kejahatan itu klise
Akar pohon-pohon memilih daun berlawanan, kumbang kembali ke rumahnya
Peperangan tidak akan terjadi tanpa ambisi, begitupun kita

Sepuluh tahun sudah mawar itu berdarah
Hentikan aliran air di ujung kakinya
Usap setiap helai rambutmu dengan tinta, sudah saatnya berganti warna

Pengembaraan ini harus kita relakan, Ken
Biarkan angin menerbangkan kata-kata
Bebaskan pagi menyambut rumput-rumput yang mulai tumbuh
Kita bukan kesalahan, kata-kata pemicu peperangan. 

Gadis Kecil itu Bernama Sinci

Gadis kecil itu bernama Sinci
Lima tahun sudah ditinggal ibunya
Bapaknya seorang penganggur
Hari-harinya dihabiskan untuk memetik daun di kebon belakang

Gadis itu terbiasa berlari tanpa alas kaki
Begitu akrab dengan kerikil tajam di depan rumahnya
Baginya, hidup adalah tentang pelarian
Semakin jauh berlari, semakin menyenangkan hidupnya

Gadis berkulit cokelat itu bernama Sinci
Bertarung hidup dengan Bapaknya yang penganggur
Kerinduan dengan ibunya, jelas nampak di wajahnya
Doa-doa dipanjatkan, namun ibunya tak lagi bisa dilihatnya

Sepulang dari masjid, Sinci menunggu Bapaknya di pinggir jalan
Tapi wajah Bapaknya tak kunjung terlihat
Sinci menghampiri Bapaknya yang sedang bersujud
Hari itu menjadi hari terakhir Sinci melihat bapaknya tersenyum. 

Pergi dan Bertemu

Aku akan segera pergi dari rumah

Rasanya baru kemarin aku keluar dari rahim

Belum sempat meninggalkan apa-apa untuk mama
Kerinduan itu benar-benar ada dan menggoda

Tanpa sandal aku berjalan menyusuri setapak desa


Pagi ini hening, hanya suara jangkrik dan ayam jago yang menjadi saksi


Sementara kaki ini terus melangkah ke depan


Rindu itu semakin menjadi-jadi, sepi, dan sendiri

Dik Nur, kita akan berjumpa dan membangun keluarga


Tinggal berdua tanpa mama dan papa
Bisakah kita melewati hari-hari penuh rindu itu?

Dik Nur, bagaimana mungkin seorang anak meninggalkan orang tuanya


Sementara, mereka semakin tua dan renta
Apakah kita telah membuat dosa?

Adzan Subuh berkumandang, kaki terus melangkah ke depan


Rumah mama sudah tidak nampak lagi
Kita akan segera bertemu


Meninggalkan sejuta cerita di halaman tempat lahir

Suara klakson kendaraan mulai memenuhi telinga, matahari timur mendekati langkahku


Kau menatapku dengan mata sembab dan hati penuh rindu


Mari hangatkan tubuh dengan secangkir teh dan bercerita tentang jalan setapak tanpa ujung.

Jalan Pulang

Rara semakin cemas dengan hidupnya
Dulu yang biasa bercerita dan mendengar nasihat ibunya
Kini mengunci mulut dan menutup telinganya
Apa yang sebenarnya sedang mengganggu?

Rara gadis lucu yang tak pernah menangis
Sudah sebulan tidak menatap indahnya pohon-pohon di balik jendela kamarnya
Apa yang membuatnya tak bisa tidur?

Dunia lama tidak memanggil namanya
Tenggelam ke dasar ketidaktahuan
Mengubur dirinya sendiri dari bisingnya jalan raya

Matanya yang terbiasa menatap tajam dunia
Suaranya yang kadang memecah kesunyian
Kini lama tak terlihat dan terdengar
Apa yang diam-diam menyesakkan dadanya?

Menjelang Maghrib, Rara berjalan menyusuri tubuhnya
Menjelajah memar-mamar yang tak kunjung menghilang
Rambutnya rontok berhamburan
Menyaksikan teman-temannya yang tidak bisa pulang

Keluarganya menunggu di rumah
Sesobek kertas berwarna kuning terlihat di ujung gang jalan pulang
Rara tersenyum, tetangga dan teman-temannya memanggil namanya
Suara panggilan itu semakin keras, saat Rara bersandar dengan tenang.

Nyanyian Kamar

Wanita itu mengurung diri di kamar
Tak satupun kata keluar dari mulutnya yang semakin kering
Wajahnya semakin lelah, memendam duka di ujung matanya
Teman-temannya pergi meninggalkan, tingkahnya semakin aneh dan sunyi

Wanita itu tak suka orang-orang di luar rumahnya
Sudah ratusan kali dia mendapat ancaman
Saat dia ingin mencapai citanya, selalu ada yang mengganggunya
Kini, dia memutuskan untuk sendiri
Tidak mau bicara dan hanya memendam sendiri

Wanita itu semakin kurus
Matanya nanar, rambutnya lusuh
Sudah tujuh hari tidak keluar kamar
Ibunya menangis, anaknya berubah

Ayahnya yang tidak peduli terus bekerja
Utangnya menggunung, sudah lama ia menutup mata
Tidak peduli lagi dengan hati putrinya
Wanita itu sendiri, menelan air matanya

Angin yang menyelinap dari lobang jendela rumahnya
Membelai pipinya yang memar bergelut duka
Wanita itu terus memaki dirinya sendiri
Tenggorokan kering, burung-burung gereja mengitari ubun-ubun


Dukanya duka abadi, kesepian membuatnya lupa dari
Tangan-tangan lupa meraihnya, terpaksa menyalakan api sendiri sebelum hari eksekusi.