Untuk sebuah urusan mendadak, pekan silam kutinggalkan Kota Lewoleba pada pukul 04.00 dini hari. Kupacu sepeda motor ke arah barat, lantas bergeser ke selatan. Desa Belabaja. Ya, pulang kampung. Dingin menusuk apalagi ketika mendekati desa yang terletak persis di lereng gunung Labalekan itu.

Sinar pagi mulai mengintip di barisan bukit sebelah timur ketika aku tiba. Kesibukan pagi mulai menggeliat. Habis memarkir motor, aku lantas berdiri meregangkan otot sambil menikmati sisa awan yang masih bertengger di puncak Labalekan, Kabupaten Lembata.

Prak….Prak..Prak…. Sontak keinginanku untuk masuk rumah tertahan. Sebuah nyanyian pagi yang tidak asing di telingaku. Nyanyian bebatuan. Begitulah nyanyian itu disebut. Rasa penasaranku menggila, seiring teriakan kampung tengah yang terus menagih. Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.

Segera aku berbelok ke arah datangnya nyanyian klasik itu. Dan benarlah, hanya terpaut dua rumah dari rumah orang tuaku, seorang ibu tampak asyik menabuh dua batu. Nyanyian itu mendadak berhenti diganti gemerisik butir-butir jagung yang memberontak kepanasan dalam tembikar. Beberapa potong kayu pada tungku batunya menyala.

Aku terus memandangnya dari pintu dapur nyaris tanpa disadarinya. Ini kesempatan bagiku untuk sepuasnya bernostalgia dengan nyanyian fajar era 80-an. Nyanyian bebatuan yang rutin diperdengarkan saban subuh. Aku akan menanti sampai nada terakhir, karena akan ada jagung titi. Kopi panas dan jagung titi sambil mendengar nyanyian bebatuan berikutnya lagi.

“Tata, titi jagungkah? ” tegurku. Ia sedikit terkaget. “Eh…Ama. Mo neme sampe? Go kar breke kvar. Tobe!" (Ama, engkau baru tiba? Saya sedang titi jagung. Duduk!) tegurnya dalam bahasa Lamaholot dialek Belabaja yang kental, mempertegas nostalgiaku. Bahasa Lamaholot adalah salah satu bahasa daerah yang digunakan masyarakat Lembata. Mama Mina Prada, adalah kerabat orang tuaku. Itu sebabnya, aku tidak sungkan untuk bertandang ke rumahnya.

“Tata sendiri yang titi jagung, Ka? Kenapa tidak minta anak-anak yang titi saja?” pancingku di sela gemelutuk gigiku, menghancurkan keping demi keping jagung titi yang disuguhkannya.

“Bo Ama, ana mujengej kri tak breke kvar deten a. Bang jema jua kal kam matajegem, pasti mi tak ga kvar breket mua." ( Kira-kira artinya begini: Aduh, Ama. Anak-anak muda sekarang ini tidak tahu titi jagung. Besok lusa kalau kami sudah tidak ada berarti kamu pasti tidak makan jagung titi lagi.) Demikian keluhan Mama Mina Prada.

Garis wajahnya menampakkan ketuaan. Usianya sudah mendekati 50 tahun tapi tangannya kuat lagi tebal. Lincah saat memungut butiran jagung yang panas dari tembikar di atas tungku lantas menaruhnya di atas batu besar. Batu kecil di tangan kanannya langsung terayun. Butir-butir jagung panas itupun memipih. Dan keping demi keping jagung titi pun kembali mengisi klekar (nampan yang terbuat dari anyaman daun lontar-Lamaholot.)

Senandung bebatuan berhenti sejenak. Mama Mina berdiri, membetulkan gulungan kreot (sarung tenunan untuk perempuan.) Ia menghadap meja kayu di sampingnya, setengah membelakangiku. Tangannya gesit menimbah air panas dari dalam periuk di atas tungku yang lain. Sesaat kemudian, bunyi senduk beradu sengit dengan dinding gelas. Lengkaplah sudah. Segelas kopi hitam asli Belabaja, tengah diseduhnya untukku. Sajian pagi yang mendongkrak semangatku.

Inilah salah satu kekayaan lokal masyarakat Lamaholot yang mendiami wilayah kabupaten Lembata dan Flores Timur. Cemilan yang selalu dirindukan putra-putri Lembata yang merajut masa depan, nun jauh di sana. Jagung titi jualah, biang kerok kemarahan seorang sahabatku di Kupang semasa kuliah dulu. Hanya karena tak ada ole-ole jagung titi untuknya.

“...Teman, kau datang dari Lembata, tapi kenapa tidak bisa bawa jagung titi. Sulit sekalikah? Kita di sini harap kau pulang dari kampung bisa bawa jagung titi, tapi kau datang bawa diri saja...,” ujar sahabatku ketus. Ceramahnya beberapa tahun silam itu kembali bermain di benakku.

Bagi warga Lembata yang bermukim di pulau lain, jagung titi seolah representasi kampung halaman. Lembata memang pulau yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani lahan kering. Hasil padi hampir selalu kalah saing dengan panenan jagung. Tidak heran kalau jagung titi juga menjadi ekspresi ketahanan pangan masyarakat. Nasi bisa dimakan pada siang atau malam hari. Jagung titi menjadi sarapan. Sebuah kebiasaan untuk mengusir kejenuhan menu makan, yang sekaligus strategi penghematan bahan makanan.

Kenangan akan kemarahan sang sahabat membuatku tak sadar kalau kopi panas ternyata sudah ludes di dasar gelas. Aku bangkit dan bergegas. Namun gerak tangan Mama Mina membendung langkahku. Buru-buru, ia kumpulkan jagung titi. Sesaat kemudian, sekantong jagung titi telah pindah ke tanganku. “Terima kasih, Tata!”

Aku melangkah keluar menuju rumah orang tuaku. Mama Mina kembali melantunkan nyanyian bebatuan, pertanda ia masih menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya, atau siapapun yang ingin menikmatinya.

Lorong menuju rumahku mulai ramai. Beberapa remaja putri menampakan kecantikan alaminya dengan balutan putih biru. Mereka pelajar SMP, batinku. Saat berpapasan, kulirik telapak dan jemari tangan mereka. Putih dan halus. Seandainya tangan halus itu tetap terjaga hingga dewasa nanti, maka keluhan Mama Mina tak kunjung jadi pujian.

Sebab, berapa banyak remaja putri di Pulau Lembata yang akan rela bertelapak tangan kasar akibat membuat jagung titi? Sepeninggal Mama Mina, masih adakah remaja Lembata yang mau mendendangkan The Song of Stones sebelum memulai hari?