Penulis
2 bulan lalu · 508 view · 4 menit baca · Sejarah 95075_24785.jpg
Inovasi Unsrat

Nyai Ontosoroh dan Konstruksi Baru

Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Noer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) -yang dilarang di era Orde Baru- saat ini mulai menghiasi rak-rak toko buku terkemuka. 

Roman sejarah ini mengajak kita membaca peristiwa dan pemikiran yang bergeliat di era kolonial, tentang cinta, politik, imaji-imaji kebangsaan. Tokoh utama dalam keempat novel ini adalah Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh.

Yang menarik di balik tokoh utama bernama Minke (samaran untuk Tirto Adi Suryo, tokoh penerbitan surat kabar era kolonial) adalah peran dan pengaruh Nyai Ontosoroh, seorang perempuan bersuamikan Belanda (Herman Mellema) dengan dua anak yang satu lelaki (Robert Mellema) dan satu perempuan (Annelies). Terpelajar, berwawasan, dan memiliki perusahaan susu.

Sebutan Nyai ternyata memiliki konteks sosial dan historis yang menarik untuk diulik. Apa dan bagaimana di balik sebutan Nyai di era kolonial? Satu-satunya buku (terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang membahas perihal konteks sosiohistoris Nyai adalah karya Reggie Baay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda (Komunitas Bambu, 2010).

Reggie Baay mengulas permulaan keberadaan seorang Nyai dalam struktur sosial masyarakat Hindia Belanda sebagai berikut:

Ketika para pegawai VOC tiba di Nusantara sekitar 1600, dimulailah kemunculan para nyai. Perempuan pribumi yang tidak hanya mengurus rumah tangga orang kolonial tetapi juga tidur dengannya dan pada banyak kasus, menjadi ibu dari anak-anaknya. Hal itu bukanlah hal baru pada abad ke-17. Namun kedatangan VOC membuatnya berangsur-angsur menjadi ciri dan sifat sebuah sistem yang cukup kekal dalam kehidupan masyarakat Eropa di Hindia Belanda (hal 1).

Mengenai latar belakang sosial seorang Nyai dijelaskan, ...bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga Pribumi miskin di Jawa (hal 51). 


Dari latar belakang para Nyai yang berasal dari keluarga miskin, dapat kita duga bahwa motifasi mereka untuk menjadi seorang Nyai tentu saja adalah kebutuhan ekonomi sebagaimana dikatakan, Bagi kebanyakan nyai bisa dikatakan bahwa hidup dalam pergundikkan adalah cara bertahan hidup, sebuah permasalahan yang pragmatis (hal 53).

Reggie Baay memotret sejumlah kekuatiran akan dampak sosial anak-anak hasil pergundikkan demikian, bahwa anak-anak ini dapat membahayakan ketertiban kolonial (hal 163). 

Mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah “anak-anak emas” (gouden kind). Mereka adalah anak hasil pergundikkan dimana ayah mereka merupakkan pengusaha sukses, pejabat tinggi atau orang yang memiliki pekerjaan penting dan mereka ini menerima sejumlah keistimewaan (hal 163-164)

Kelompok kedua adalah anak-anak yang dikategorikan “laskar para Indo-Paupers” (het leger van Indo-paupers). Mereka adalah, anak-anak yang kahir dari hubungan campur hidup dalam lapisan paling rendah masyarakat Hindia Belanda (hal 168). Mereka inilah yang kerap mengalami berbagai prasangka negatif, perlakuan diskriminatif. 

Dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya membuat konstruksi baru seorang Nyai Beberapa sifat dan karakteristik positif tokoh Nyai Ontosoroh dapat kita lihat al.,

Nyai Yang Pandai Mengelola Perusahaan

Dalam sebuah percakapan dengan Annelies, tokoh Minke bertanya: “Apa pekerjaanmu sesungguhnya?” “Semua, kecuali pekerjaan kantor. Mama sendiri yang lakukan itu”. Jadi Nyai Ontosoroh melakukan pekerjaan kantor. Pekerjaan kantor macam apa yang dia bisa “Administrasi?” tanyaku mencoba-coba. “Semua. Buku. Dagang, surat-menyurat, bank…” (2011:45)

Nyai Yang Gemar Membaca dan Mempelajari Situasi


Saat Minke mengundang Magda Peters guru sastranya di HBS yang penasaran bagaimana seorang Nyai yang sudah menjadi ibu mertua Minke adalah seorang yang dapat belajar secara otodidak, “Magda Peters sekarang memeriksa buku-buku dalam lemari. Sebagian besar bundel majalah yang dijilid indah. Seakan ia hendak memeriksa isi kepala Nyai” (2011:344).

Nyai Yang Berani Menentang Sistem Hukum Kolonial Yang Diskriminatif

Dalam sebuah persidangan yang mencekam dan mendebarkan perihal status Annelies yang akan dibawa ke Belanda yang kelak akan memisahkan hubungan Nyai Ontosoroh dan Annelies, dengan tegas dan berani Nyai Ontosoroh melakukan perlawanan di sidang pengadilan sbb:

“Aku, Nyai Ontosoroh alias Sanikem, gundik mendiang Tuan Mellema, mempunyai pertimbangan lain dalam hubungan antara anakku dengan tamuku. Sanikem hanya seorang gundik. Dari kegundikkanku lahir Annelies. Tak ada yang menggugat hubunganku dengan mendiang Tuan Mellema, hanya karena dia Eropa Totok. 

Mengapa hubungan antara anakku dengan Tuan Minke dipersoalkan? Hanya karena Tuan Minke Pribumi? Mengapa tidak disinggung hampir semua golongan orangtua golongan Indo? ... Kalau orang Eropa boleh berbuat karena keunggulan uang dan kekuasaannya, mengapa kalau Pribumi jadi ejekkan, justru karena cinta tulus?” (2011:426).

Upaya konstruksi ulang terhadap tokoh Nyai melalui Nyai Ontosoroh yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya sebenarnya bukan barang baru dan telah dikerjakan terlebih dahulu baik oleh penulis Indo-Eropa sebagaimana dijelaskan Regie Baay:

“Penggambaran nyai yang diberikan oleh Pramoedya Ananta Toer mirip dengan yang ada dalam terbitan bahasa Melayu karya penulis-penulis Indo-Eropa seperti Kommer, Wiggers dan Francis. Mungkin Pramoedya Ananta Toer memang memperoleh inspirasi dari mereka. Apakah hanya kebetulan saja bahwa salah seorang tokoh dalam Aarde der Mensen membaca buku Njai Dasima karya Francis? 

Apakah sebuah kebetulan bahwa cara yang digunakkan Nyai Ontosoroh ketika hendak menentukan nasib sendiri, mengingatkan kita kepada Nyai Isah dari karya Wiggers? Akhirnya, apakah sebuah kebetulan juga bahwa tokoh utama Minke dalam Kind van Alle Volken menulis cerita tentang seorang nyai yang membiarkan dirinya tertular cacar agar bisa terlepas dari nasibnya, seperti Nyai Paina dalam ceritan Kommer?”(2010: 209-210).


Bahkan dua puluh tahunan sebelum Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Bumi Manusia-nya, S.M. Ardan, seorang sastrawan dan kritikus film menolak citra serba negatif mengenai sosok Dasima dalam roman Tjerita Nyai Dasima karya G.Francis pada tahun 1896. Pada tahun 1960, Ardan membuat versi baru Tjerita Njai Dasima yang dipublikasikan sebagai cerita bersambung berjudul Njai Dasima dalam koran Warta Berita, September-Oktober 1960.

Menurut J.J. Rizal dalam pengantar buku Nyai Dasima mengatakan, “Tokoh Nyai Dasima diidealisasi oleh Ardan sebagai perempuan korban struktur sosial kolonial yang ingin mengembalikkan posisi dirinya, mempertahankan jati diri dan harga diri dengan memberontak terhadap kungkungan cara hidup pernyaian bentukkan tuan putih. Nyai Dasima oleh Ardan diberi keberanian dan kekuatan untuk mengungkapkan hal itu, seperti yang tercermin dalam kata-katanya:…” (2013:xii)

Orang muda perlu membatja kisah-kisah mereka. Bukan sekedar cerita cinta di masa Hindia Belanda, melainkan imaji-imaji kebangsaan dan perjumpaan dialektis dengan ideologi besar dan pemikiran-pemikiran filosofis yang kelak membentuk negeri bernama Indonesia. Sebuah novel ketika nama Indonesia belum ada dan tidak disebut-sebut dalam tetralogi karya Pramoedya.

Artikel Terkait