Coba kalian pikirkan, jika ada orang yang lebih tua sedang duduk di kursi dan kalian akan melewati orang tersebut, apa yang akan kalian lakukan? Dari sini kita akan menyadari  adanya perubahan lingkungan di era globalisasi yang mengubah perilaku atau gaya bergaul orang-orang, termasuk di Indonesia.

Namun, tidak bagi orang Jawa yang masih mempertahankan tradisi  budaya mereka yang telah diwariskan secara turun temurun. Ada pepatah orang Jawa yang mengatakan “ngunduh wohing pakarti” yang berarti setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Itu artinya orang Jawa sangat memperhatikan setiap hal yang akan dia katakan atau lakukan, salah satunya tentang budaya sopan santun. Mereka biasanya akan menundukkan kepala kepada orang yang lebih tua, atau kepada orang yang lebih dihormati sebagai bentuk dari kesopanan terhadap orang tersebut.

Dalam tata kebahasaan, bahasa Jawa juga memiliki tingkatan bahasa. Tingkatan tersebut tergantung dengan kepada siapa orang tersebut akan berbicara. Ketika berbicara, orang tersebut juga akan memperhatikan mimik wajah, postur tubuh, serta intonasi suara.

Hal tersebut merupakan penerapan budaya sopan santun orang Jawa yang di dalamnya terdapat tata krama, seperti menghargai yang lebih muda, dan menghormati orang yang lebih tua. Dalam budaya Jawa, tata bahasa dan tata susila menjadi pedoman dalam menjaga kesopanan.

Menurut GKR. Wandansari (Ketua lembaga dewan adat Keraton Surakarta Hadiningrat)  tata bahasa dalam berbahasa harus betul-betul laras yang berarti si penerima bisa menerima dengan hati yang bahagia. Jadi laras berarti kita dapat melaraskan antara pribadi kita dengan yang diajak bicara.

Laras adalah cara kita menyampaikan sesuatu agar dipahami dan menunjukkan sikap hormat terhadap orang yang kita ajak bicara. Misalnya pada orang yang lebih tua kita mengatakan “Simbah sampun dhahar?” (Kakek sudah makan?) sedangkan pada orang yang sebaya kita mengungkapkan “kowe wis mangan?.”

Dalam bahasa tersebut bukan berarti kita membedakan satu dengan yang lain melainkan dalam hal penyampaian, dialek atau logat tersebut bisa menunjukkan rasa hormat atau rasa sayang. Sedangkan tata susila berarti jelas dalam berpakaian.

Orang Jawa diharuskan berpakaian sopan dan menjaga kesusilaan diri karena terdapat ungkapan “ajining diri ana ing lathi, ajining raga saka busana, ajining awak saka tumindak” yang berarti kita harus menjaga lisan, mengenakan pakaian yang sopan dan apa yang kita lakukan mencerminkan diri kita sendiri.

Di sini kita akan melakukan perilaku yang sangat menjaga kesopanan (Subasita) yaitu tentang  bagaimana cara kita untuk membawa diri kita dalam pergaulan, baik pada orang yang lebih tua, muda, maupun anak-anak untuk menyampaikan bagaimana sebetulnya diri kita berinteraksi.

Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan “nuwun sewu,” atau “nderek langkung” ? Kata-kata tersebut banyak kita temukan di daerah Jawa Tengah, atau Yogyakarta yang berarti permisi. Kata tersebut biasanya diucapkan ketika ada orang yang lebih muda akan melewati orang yang lebih tua di depannya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, orang Jawa sangat memperhatikan setiap tingkah lakunya. Ungkapan tersebut adalah bentuk dari sopan santun untuk menyapa dan menghormati orang yang lebih tua.

Selain itu, orang Jawa sering mengatakan “pangapunten” yang berarti maaf jika bertemu dengan orang yang baru pertama kali dijumpai, atau ketika hendak ingin bertanya. Ada ungkapan “monggo pinarak” yang artinya silakan mampir kepada orang yang misalnya sedang lewat di depan rumah untuk sekadar berbasa-basi.

Ada mitos orang Jawa seperti anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu karena akan sulit mendapatkan jodoh. Mungkin bagi sebagian orang mitos ini terdengar tidak masuk akal, tetapi orang Jawa bermaksud mendidik anak perempuan mereka agar tidak duduk di depan pintu karena akan menghalang-halangi orang untuk masuk atau keluar rumah.

Ada lagi misalnya, jika ada anak-anak yang keluar rumah pada saat magrib, maka anak itu akan diculik oleh wewegombel. Mitos ini memberi pesan kepada anak-anak agar tidak keluar rumah pada saat magrib karena pada jam itu orang-orang mulai beristirahat setelah pulang dari kerja.

Mitos-mitos orang Jawa dibuat demi kebaikan orang untuk menjaga sopan santun. Tetapi, apakah budaya Jawa ini masih terus dijalankan? Masih walaupun tidak sebanyak dahulu. Dalam lingkungan keraton tentu adat istiadat ini masih dijalankan, dan diberikan secara turun temurun kepada para penghuni keraton.

Namun, jika kita melihat dari lingkungan sekitar budaya sopan santun ini mulai mengalami kelunturan. Mengapa? Faktor globalisasi, dan tren budaya barat menjadikan budaya Jawa mulai hilang. Orang-orang bersikap terbuka terhadap budaya yang masuk tetapi sayangnya mereka tidak menyeleksi budaya itu.

Buktinya kita dapat menemukan orang-orang di zaman ini memakai baju yang kurang sopan jika dilihat, dan adanya trend tutur kata tertentu yang dianggap “keren” jika kita mengucapkannya. Bahkan bisa dibilang bahwa sekarang kita sering mendengar kata-kata yang tidak nyaman masuk ke telinga.

Mereka merasa bahwa saat ini zaman sudah berubah (terutama masyarakat kota), dan budaya Jawa dianggap sebagai budaya kuno yang sudah tidak zaman lagi. Padahal jika dilihat, para leluhur memberikan petuah-petuah ini agar manusia memiliki adab, atau perilaku yang sopan.

Bahkan di sini ditemukan ahli-ahli Jawa yang berasal dari luar negeri. Padahal banyak turis mengatakan bahwa Indonesia orangnya sangat ramah, dan memiliki keragaman budaya yang unik. Justru malah mereka yang ingin mempelajari budaya Indonesia sedangkan orang Jawa sendiri mulai meninggalkan budaya ini.