Pelajar
1 tahun lalu · 360 view · 3 min baca menit baca · Budaya 22146_81716.jpg

Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Budayanya

Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provinsi yang terletak di sebelah timur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasca diproklamirkan kemerdekaan, NTB dalam pemerintahannya banyak terjadi dinamika (perubahan). Setelah melalui ikhtiar yang panjang, akhirnya melalui UU Nomor 64 Tahun 58 tanggal 14 Agustus 1958 NTB resmi berdiri menjadi salah satu bagian dari provinsi di Indonesia dengan gubernur pertamanya, yaitu AR. Moh. Ruslan Djakranigrat.

Meski secara yuridis pembentukan provinsi NTB terjadi pada tanggal 14 agustus 1958, namun penyelenggaraan pemerintahannya masih menggunakan Undang-Undang lama yang dibuat saat Indonesia masih menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat). Adanya tumpang tindih ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, yaitu sampai tanggal 17 Desember 1958.

Pada tanggal yang sama, terjadi pula likuidasi atas daerah Lombok dan Sumbawa sehingga masuk ke dalam wilayah NTB sehingga menjadi seperti saat ini dengan ibu kotanya adalah kota Mataram yang berada di pulau Lombok. Hari likuidasi inilah yang secara resmi menandai terbentuknya Provinsi NTB hingga saat ini.

Berdasarkan geografisnya, provinsi NTB terdiri dari dua pulau, yaitu:

1. Pulau Lombok

Lombok adalah nama sebuah pulau yang kini menjadi salah satu bagian dari provinsi NTB. Pulau Lombok termasuk pulau yang kecil di kepulauan nusantara, namun bagi provinsi NTB merupakan salah satu pulau yang besar.

Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas pulau Sumbawa, namun penduduknya lebih banyak dibanding dengan penduduk pulau Sumbawa. Lombok Berasal dari bahasa sasaq “Lombo” yang artinya “lurus”, namun banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga banyak orang yang mengartikan pulau Lombok sebagai “Pulau Pedas”, padahal cabe dalam bahasa sasak/lombok adalah “sebia” (dibaca “sebie”)

2. Pulau Sumbawa

Sumbawa adalah sebuah pulau yang terletak di Provinsi NTB. Pulau ini dibatasi oleh selat alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok) selat sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan serta laut Flores di sebelah utara. Kota terbesarnya adalah Bima yang berada di bagian timur pulau ini.

Samawa adalah sebutan Sumbawa yang biasa digunakan oleh penduduk lokal Sumbawa. Berubahnya kata samawa menjadi Sumbawa lebih dipengaruhi oleh penjajahan Belanda pada masa lampau, tepatnya pada zaman kolonial Belanda.

Penjajah Belanda menyebut Samawa dengan kata Zhambava dan seiring waktu dan juga penyebutan dengan lidah Indonesia Zhambava menjadi Sumbawa. Sama halnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Jawa menjadi Java.

Selain memiliki dua pulau, Provinsi NTB juga memiliki tiga suku yang tersebar di pulau Lombok dan pulau Sumbawa, yaitu Sasaq di Lombok, Samawa di Sumbawa, dan Mbojo di Bima. Tiga suku tersebut lebih dikenal di NTB dengan istilah SASAMBO.

NTB bisa dibilang relatif kecil jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi yang lain di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, dsb. Walaupun demikian, NTB sangat terkenal (famous) dengan keindahan-kindahan alamnya seperti pantai, gunung, dan air terjun (water fall)-nya, sehingga tidak sedikit wisatawan lokal maupun asing yang terhipnotis dengan keindahan alamnya. Dan inilah yang menjadi nilai plus bagi Provinsi yang penduduknya mayoritas muslim ini.

Tidak hanya itu, NTB juga terkenal dengan keanekaragaman budayanya. Misalnya budaya peresean yang menjadi budaya masyarakat Sasaq di Pulau Lombok yang sekaligus juga menjadi destinasi berwisata para wisatatawan mancanegaraBudaya yang satu ini merupakan sebuah seni bela diri tradisonal peninggalan dari nenek moyang masyarakat sasaq yang diperankan oleh dua orang yang disebut pepadu.

Seni bela diri tradisional ini menggunakan rotan sebagai pemukul yang masyarakat sasaq menyebutnya dengan istilah penjalin yang ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan beling yang ditumbuk halus, dan perisai sebagai pelindung yang dikenal dengan istilah ende yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau.

Acara budaya peresean ini telah berlangsung secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu, dan acara ritual adat peresean ini dahulu biasanya digelar disaat musim kemarau tiba untuk memanggil hujan. Oleh karena itu, Tradisi atau budaya peresean ini sangat disakralkan oleh masyarakat suku sasaq di Lombok, tapi karena sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamikanya maka, penggelaran tradisi presean saat ini digelar pada event-event tertentu saja tanpa ada motif untuk memanggil hujan, seperti pada perayaan HUT kemerdekaan Republik Indonesia, Hari jadi kabubaten/kota di pulau Lombok, dan pada saat menjelang bulan Ramadhan.

Tradisi peresean diyakini oleh masyarakat sasaq sebagai ajang untuk membuktikan kejantanan seorang pria, oleh karena itu peresean dilakukan khusus oleh orang pria saja.

Itulah salah satu budaya dari berbagai macam budaya atau tradisi yang ada di Nusa Tenggara Barat. Walaupun dengan kebhinekaan budaya itu, tapi tetap tunggal ika dan tentunya dalam bingkai toleransi.

Artikel Terkait