Nurhasanah mengembuskan napas terakhir pada Minggu (12 Juli 2020) jam 3 sore. Saya baru dapat kabar duka dari Dewi (pengisi suara Nobita) persis saat azan magrib berkumandang.

Rencananya saya mau melayat bareng-bareng bersama Bima (pengisi suara Gian), Santos (pengisi suara Suneo) dan Revi (pengarah dialog serial dan movie Doraemon), tapi  tidak jadi karena tiba-tiba di rumah hujan deras banget. Mereka bertiga tetap berangkat bareng, sementara saya menyusul bersama istri.

Ibu Nur (demikian biasanya saya memanggil) berkiprah sebagai pengisi suara Doraemon dalam rentang waktu yang sangat panjang. Dia menjadi dubber dari karakter robot kucing abad 22 itu lebih dari dua dasawarsa. Sempat diganti Silvi pada tahun 2006, tapi kemudian kembali diisi oleh Ibu Nur. Saking lamanya mengisi Doraemon, suara Ibu Nur begitu melekat pada tokoh kartun yang sangat populer itu.

Ketika diganti Silvi, suaranya terdengar asing di kalangan anak-anak dan terutama di telinga doraemoners (komunitas pencinta doraemon).

Berdasarkan hasil audisi dan proses seleksi yang ketat, Silvi sebetulnya terpilih sebagai pengganti yang terbaik, menyisihkan banyak peserta lain. Hanya saja karena Doraemon sudah telanjur menyatu dengan suara Ibu Nur, penggantian dubber ini kurang mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Bahkan tidak sedikit yang menyayangkan kenapa suara Doraemon diganti.

Tidak berlebihan kiranya kalau saya mengatakan bahwa Doraemon adalah Ibu Nur dan Ibu Nur adalah Doraemon. Doraemon dan Ibu Nur menjadi dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Kalau film animasi Doraemon tetap menjadi tayangan favorit dari dulu hingga sekarang, salah satu faktornya tentu tidak bisa dilepaskan dari karakter suara Ibu Nur yang begitu memikat.

Kekuatan suara Ibu Nur terletak pada nada seraknya yang unik dan natural. Meskipun nada seraknya diolah dari pangkal tenggorokan tapi suara yang meluncur dari mulut Ibu Nur tidak terkesan dibuat-dibuat.

Dengan corak dan warna vokalnya yang khas dan unik itu, Ibu Nur berkontribusi besar mendongkrak popularitas film Doraemon. Dalam konteks inilah saya menilai bukan film Doraemon saja yang melegenda, Ibu Nur juga adalah sang legenda.

Pada mulanya, Ibu Nur tidak langsung mendapat tawaran mengisi Doraemon. Sama dengan Silvi, Ibu Nur hanya menjadi pengganti. Sewaktu tayang perdana di layar kaca RCTI pada 1990 seiyuu pertama Doraemon bukanlah Ibu Nur melainkan Anita Riyadi. Baru pada tahun 1993, Ibu Nur menjadi tokoh di balik layar si robot kucing biru.

Semula Ibu Nur ragu apakah dirinya mampu “memerankan” Doraemon. Tapi berkat dorongan Prabawati Sukarta, pengisi suara Sizhuka sekaligus rekan kerjanya di RRI, Ibu Nur bersedia menjadi pengisi suara Doraemon.

Saya mengenal sosok Ibu Nur saat wanita kelahiran 1958 ini sudah memiliki jam terbang tinggi sebagai “pelaku suara”. Saat itu saya belum menyelam begitu dalam ke dunia dubbing, sementara Ibu Nur sudah berkiprah lama, baik sebagai dubber, penyiar RRI dan pengisi sandiwara radio.

Di mata saya, Ibu Nur adalah seorang voice talent yang matang dan bekerja penuh dedikasi. Menyadari profesinya banyak bersinggungan dengan suara, Ibu Nur terus menjaga, merawat agar pita suaranya tidak rusak.

Meski usianya terus bertambah, tapi kualitas vokalnya tidak tergerus. Suaranya tetap powerful. Tidak ada perubahan sedikitpun, baik pada warna maupun corak vokalnya. Saya bisa bilang begitu karena saya terlibat langsung dalam proses rekaman dan sulih suara film kartun Doraemon. Saat mengisi adegan Doraemon sedang marah, Ibu Nur mampu mengeluarkan suara dengan nada tinggi tapi tidak terdengar pecah dan sumbang.

Biasanya kalau mengisi adegan tokoh yang menuntut suara keras dan nada lantang, dubber senior (baca: dubber yang sudah berumur) mengalami batuk-batuk dan merasakan sakit di tenggorokan. Saya melihat Ibu Nur tidak menemui kendala dengan pita suaranya meskipun harus melontarkan kalimat dengan intonasi tinggi.

Hal yang membuat Ibu Nur sedikit kedodoran kalau dia berhadapan dengan kalimat panjang dan harus dibaca dalam satu tarikan napas. Misalnya Ibu Nur harus menirukan percakapan Doraemon yang nyerocos terus tanpa mau disela. 

Percakapan panjang tanpa jeda itu menjadi tantangan tersendiri bagi Ibu Nur mengingat umurnya sudah mendekati kepala enam. Dalam usia seperti itu, napas Ibu Nur tidak panjang sebagaimana dia masih muda. Meski demikian, Ibu Nur tetap berusaha membaca kalimat panjang dalam satu tarikan napas walau harus diulang-ulang.  

Selama berkolaborasi dengan Ibu Nur dalam menggarap dubbing film animasi Doraemon, saya lebih banyak merasakan suasana keceriaan. Kalau datang ke studio, tidak jarang Ibu Nur membawa makanan, kadang makanan ringan, kadang makanan berat. Makanan dengan porsi bersantap bersama tentunya, bukan cuma buat dirinya sendiri.

Semua jenis makanannya buatan dalam negeri, belum pernah dia membawa dorayaki, makanan khas Jepang kesukaan Doraemon. Bagi saya, tidak terlalu penting apa pun jenis makanannya. Yang lebih menjadi perhatian saya, kebiasaan Ibu Nur membawa makanan itu harus dimaknai sebagai alas kultural untuk merajut kebersamaan dan keakraban.

Keakraban makin bertambah karena Ibu Nur merupakan sosok perempuan yang berperangai ceria dan suka humor. Perangai ini sepertinya sudah dimiliki Ibu Nur sejak dari kecil. Tidak hanya di studio, di momen-momen pertemuan lain saya melihat guratan keceriaan selalu membalut wajahnya.

Namun jangan dikesampingkan juga totalitas penjiwaan Ibu Nur terhadap Doraemon. Si robot kucing yang diperankannya selama bertahun-tahun melalui medium suara itu tentu sudah menyatu dengan jiwanya, dan menurut saya, hal ini sedikit banyak turut memengaruhi sikapnya yang riang dan sumringah. 

Sebagaimana kita tahu, Doraemon bukanlah tokoh antagonis yang suka memasang wajah bengis. Doraemon terkenal berjiwa penolong, dan tidak jarang bertingkah kocak serta menggelitik.  

Kolaborasi penuh keceriaan ini tentu ingin terus saya lanjutkan, tapi takdir berkata lain. Ibu Nur mengalami stroke dan harus diopname di rumah sakit. Saya masih menaruh besar Ibu Nur sembuh total dan bisa kembali mengisi suara Doraemon. Kepulangan Ibu Nur dari rumah sakit menjadi kabar baik.

Setelah kondisi kesehatannya banyak mengalami perkembangan, saya memohon Ibu Nur datang ke studio. Tujuannya tidak lain ingin memastikan apakah Ibu Nur masih mampu mengisi suara Doraemon atau tidak.

Sungguh di luar dugaan, biasanya kalau sudah di depan mic, kata-kata bisa meluncur deras dari mulut Ibu Nur, kali ini dia mengucapkannya dengan tidak sempurna. Lidah dan mulutnya tidak selentur sewaktu Ibu Nur masih sehat. Saya meminta membaca kalimat panjang tanpa jeda. Dia berusaha tapi sebelum kalimat dibaca tuntas dia tersedu sedan. Saya masuk menghampirinya, isak tangisnya makin menjadi.

Ibu Nur terlihat sangat sedih. Dia harus mengakhiri mengisi suara Doraemon, berpisah dengan si robot kucing, berpisah dengan tokoh yang sudah begitu menyatu dengan jiwanya. Saya ikut merasakan kesedihan itu, dan studio IMMG yang telah banyak menghasilkan dubbing Doraemon menjadi saksi bisu perpisahan Ibu Nur dengan Doraemon.

Selamat jalan Ibu Nur, saya bersaksi Ibu Nur orang baik.