Cak Nur biasa dikenal Nurcholish Madjid anak pertama dari pasangan H. Abdul Madjid dan Hj. Fathonah, terlahir di lingkungan pesantren jombang, jawa timur. Dari keluarga NU (Nahdatul Ulama) tetapi berafiliasi politik modernis, yaitu Masyumi.

Ide dan gagasan Cak Nur tentang sekulariasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima masyarakat Islam Indonesia.

Terutama di kalangan penganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatis). Mereka menganggap bahwa pemahaman Cak Nur telah menyimpang dari teks-teks Alquran dan Sunnah.

Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama, namun bebas yang dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Di tahun 1968, seri artikelnya berjudul Moderniasi ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi dimuat dimajalah Pandji Masyarakat dan Liga Demokrasi. Definisi moderniasi secara sederhana yaitu rasionalisasi sehingga menjadi suatu keharusan bagi seorang Muslim.

Selain itu Cak Nur juga meyampaikan gagasan “Islam Yes, Partai Islam No” berangakat dari kekecewaan antara partai-partai islam yang tidak berhasil membangun image positif. Dengan kata lain menolak partai Islam bukan pada Islamnya tetapi pemanfaatan partai politik Islam.

Disisi lain gagasan Islam yes partai islam no menunjukkan bahwa Cak Nur memandang umat Islam tidak patut mendirikan negara Islam dengan menjadikanya politik Islam sebagai bendera politiknya, hal ini dikarenakan bangsa Indonesia sebagai negara yang majemuk.

Namun, impetus pembaharuaan pemikiran Cak Nur berawal dari perjalanan ke Amerika Serikat dan kemudian ke Perancis, Turki, Lebanon, Suriah, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, Mesir, dan Pakistan.

Saat berefleksi ke dunia Barat maupun ke dunia Islam, Cak Nur sadar akan adanya jarak antara ide-ide Islam dengan realitas kehidupan di dunia Muslim. Dunia barat yang telah sedemikan banyak dikritiknya, menunjukan banyak dimesnsi dan prestasi positif.

Sejak saat itu, mulai terlihat perubahan-perubahan arah pemikiran Cak Nur. Ketertarikanya pada segi baik Humanisme yang sebelumnya dicapnya sebagai agama baru.

Dinamika dan polemik antara konservatisme dan progresivisme merupakan diskursus umat Islam. Oleh karenanya, ketika istilah ‘pembaharuan’ dikemukakan, sikap umat Islam menjadi ragu antara setuju dan tidak setuju.

Keberanian Cak Nur mengambil langkah yang kurang populer dengan mengutamakan gerakan pembaruan, meskipun berisiko mengundang kritik luas, merupakan momen bagi seorang intelektual garda depan.

Kritikan dari koleganya Prof. H. M. Rasjidi (1972) dalam bukunya "Koreksi terhadap Drs Nurcholis Madjid tentang Sekularisasi". Rasjidi mengeritik keras cara-cara Cak Nur dalam menggunakan istilah yang dapat menimbulkan pengertian menyesatkan di kalangan muslim.

Dilanjutkan Prof. Dr. Faisal Ismail tentang ide sekularisasi dan desakralisasi dengan cara konstruktif, kritis, apresiatif. Baginya, substansi pemikiran “Islam sebenarnya dimulai dengan proses sekularisasi dan ajaran tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi”.

Kemudian Ahmad Wahib (1981), dalam bukunya ia menuturkan, “kurang terus terang bila Nurcholish mengartikan sekuler semata-mata dengan dunia atau masa kini dan sekedar mengatakan bahwa semua yang ada kini dan di sini adalah hal-hal sekuler: nilai sekular, masyarakat sekular, orang sekular dan lain-lain”.

Benturan antara visi dan tradisi menimbulkan perdebatan intelektual yang melelahkan. Perdebatan yang menyita banyak waktu itu, telah terperangkap pada persoalan semantik, dan gagal membicarakan isu-isu yang substansial.

Karena itulah, Cak Nur menyarankan suatu kebebasan berpikir, pentingnya ide yang lebih maju, sikap terbuka, dan kelompok pembaruan yang liberal. Bisa menumbuhkan pikiran-pikiran segar.

Skala kontrversi dan kesungguhan visi Cak Nur menjadi semakin meluas dan kuat karena intensitas dan densitas liputan media, terutama oleh majalah Tempo dan Pandji Masyarakat yang menjadi inisiaotor utama dari polemik ini.

Selama ini masyarakat kita mengenal Cak Nur sebagai tokoh kontroversial yang banyak menyuarakan ide pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Padahal bukan hanya itu saja, Cak Nur juga menyampaikan pemikiran sufistik yang berpaham noe-sufisme atau tasawuf modern.

Pemikiran neo-sufisme Cak Nur mempunyai kontinuitas dengan tasawuf Ibnu Taimiyah dan tasawuf modern Hamka serta pemikiran-pemikiran Fazlur Rahman sebagai pendiri neo-sufisme dalam pentas sejarah peradaban dunia.

Sejarah membuktikan kewarasan gagasan, keteguhan pendirian, kelurusan niat dan kesederhanaan hidup sang pemikir membuat ide-ide semula disalahpahami dan dicerca pada waktunya bisa dipahami, diapresiasi dan diadopsi.

Pelajaran terpenting, pemikiran yang berbeda, mestinya disikapi secara arif dan bijaksana. Sebagai wujud kreasi manusia, pandangan terhadap hal-hal tertentu, tak dapat dipungkiri, tidak selamanya sama antara seseorang dengan lainnya.

Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Cak Nur dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, makam ini dikhususkan yang telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia.

Singkat kata, pokok-pokok pembaruan pemikiran Cak Nur tidak akan haus karena kepergiaanya, malahan kian aktual dalam menghadapi tantangan globalisasi saat ini. Pemikiran Nurcholish Madjid tetap relevan dan menjadi warisan bangsa ini.