Nuklir, satu kata yang mengembalikan ingatan kita pada kejadian yang menakutkan, yang mengakibatkan kerugian besar bagi umat manusia. Radiasinya menyebabkan begitu banyak gangguan pertumbuhan makhluk hidup, dari mulai luka, kemandulan, sampai terjadinya mutasi gen.

Sebut saja bom atom Nagasaki dan Hirosima di tahun 1945, atau peristiwa meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cynorbil yang mengakibat paparan radiasi yang dahsyat, walaupun sudah bilangan tahun. Kengerian terhadap nuklir bertambah dengan film-film Hollywood yang menggambarkan kerusakan yang disebabkan radiasi nuklir.

Tapi, kalau dibandingkan dengan kecelakaan lalu lintas yang setiap tahun mencatat jutaan jiwa terenggut, paparan radiasi nuklir tidak begitu, selama penggunaannya sesuai prosedur. Seperti peristiwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Fukushima Daichi, Jepang. Walau terdapat korban luka bakar, tapi tidak sampai merenggut nyawa manusia.

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pemanfaatan teknologi nuklir hanya untuk menghasilkan energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Namun lebih dari itu, pemanfaatan teknologi nuklir saat ini telah merambah dunia pertanian, kesehatan, lingkungan, dan industri.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) merupakan satu-satunya lembaga pemerintah yang mempunyai dan mengeoperasikan fasilitas nuklir untuk melakukan penelitian. Salah satu hasil penelitiannya adalah pengembangan ilmu bahan yang sangat dibutuhkan di dunia industri dan kesehatan.

Salah satu teknologi yang sangat berguna untuk manusia adalah dengan adanya teknologi nuklir. Teknologi yang melibatkan reaksi inti atom sudah banyak diaplikasikan dalam berbagai hal. Banyak negara maju yang sudah menggunakan teknologi nuklir dalam berbagai aspek, mengingat teknologi nuklir sangat bermanfaat.

Di tanah air sendiri, sejak tahun 1954, sudah dicetuskan mengenai pengembangan dan pemanfaatan dari teknologi nuklir. Di Indonesia, terdapat Lembaga Pemerintahan non-Kementerian, yaitu Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Lembaga ini mempunyai tugas, seperti melakukan penelitian, pengembangan dari teknologi nuklir.

Agar tidak su'udzon berkepanjangan dengan sang Nuklir, yuk kenalan dengan Nuklir. Agar kita bisa berteman dengan Nuklir dan pastinya di bawah pengawasan BAPETEN yang memang bertugas sebagai pengawas penggunaan Nuklir di Indonesia.

Pengendalian dan Pemanfaatan Nuklir di Sekitar Kita

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, tentang pemanfaatan pengendalian tenaga nuklir untuk kehidupan manusia, yang ternyata banyak sekali hal-hal bermanfaat dan membantu kehidupan manusia, yang tanpa kita tahu itu merupakan radiasi nuklir.

Untuk kesahatan, radiasi nuklir dimanfaatkan untuk rongent, terapi kanker payudara dan prostat. Dengan aplikasi teknologi nuklir, telah dikembangkan sejumlah peralatan medis dan produk kesehatan untuk menangani penyakit.

Untuk bidang industri, sinar gamma dapat dipakai untuk mengecek sistem beton bertulang pada gedung atau memindai komponen mesin industri; tes kebocoran, baik pada bangunan maupun pada badan pesawat. Contohnya dalam pengujian kolom beton di masjid Baiturrahman di Aceh setelah gempa dan tsunami.

Untuk ketahanan pangan, dengan meradiasi materi genetik tanaman dan selanjutnya memilih varietas tanaman bersifat lebih unggul. Kemudian ada pengawetan makanan dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma, tanpa mengubah bentuk, aroma, dan rasa. Bahkan kualitas makanan bisa bertahan lebih lama.

Untuk lingkungan, pemakaian radioisotop untuk hidrologi memungkinkan eksplorasi air tanah di daerah yang dilanda kekeringan. Kemudian, dengan teknik Analisis Aktivasi Neutron, bisa untuk menguji kelayakan air di bawah tanah. Ini telah dilakukan pada sungai bawah tanah Ngobaran dan air tanah di Wonosari, Gunung Kidul.

PLTN Mandek

Dibanding bidang-bidang lainnya, pemanfaatan bahan radioaktif dalam bidang energi menjadi yang paling minim prestasi. Ambisi pemerintah untuk membangun PLTN guna menopang kebutuhan energi nasional pada kenyataannya masih mandek di tataran wacana.

Padahal, terhitung sudah sejak periode 1970-an pemerintah Indonesia merencanakan pembangunan PLTN di Tanah Air.

Sejauh ini, Indonesia baru sebatas memiliki 3 reaktor nuklir yang terletak di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta yang difungsikan untuk keperluan riset. Ketiga reaktor tersebut bekerja menciptakan reaksi fisi berbahan uranium dan elektron yang kemudian akan menghasilkan elektron baru dan energi panas dengan rata-rata 200 mega elektron volt.

Dalam skema PLTN, energi tersebut akan ditangkap untuk menggerakkan turbin yang kemudian dapat memproduksi listrik, sementara hasil neutron akan dibuang.

Sebaliknya, pada sistem kerja reaktor riset yang ada di Indonesia, energi panas itu justru tidak digunakan. Adapun hasil reaksi yang digunakan hanya elektron baru atau neutron untuk keperluan teknik radiasi. Selain itu, neutron itu juga digunakan untuk produksi radioisotop dari uranium, molibdenum, dan sebagainya untuk radiofarma.

Lebih lanjut, salah satu kendala yang dihadapi dalam rencana pembangunan PLTN di Indonesia tak lain ialah soal pendanaan yang besar. Ditaksir, untuk menghasilkan sekitar 1.000 mega watt listrik, diperlukan setidaknya modal sebesar Rp40 triliun.

Dalam hal ini, kebutuhan investasi awal yang besar tentu menciptakan risiko finansial yang tak kalah besar untuk para pemodal. Hal ini mengakibatkan sangat sedikit investor yang berani menanamkan uangnya dalam proyek PLTN di Indonesia.

Padahal, operasional PLTN akan menghabiskan ongkos yang lebih murah karena bahan bakar yang digunakan relatif lebih sedikit. Semisal saja, bila PLTU membutuhkan sekitar 2 ton batu bara untuk bahan bakar, maka PLTN hanya membutuhkan sekitar 20 gram uranium.

Selain tantangan dari sisi investasi, kendala mendasar yang menyebabkan realisasi pembangunan PLTN di Indonesia mandek sampai saat ini ialah keengganan pemerintah secara politis.

Sumber energi berbahan dasar fosil diprediksikan di tahun 2025 akan sirna dan habis, penggunaan dan penggalian batu bara di setiap daerah di Indonesia yang makrak dan banyak menyebabkan banyak korban berjatuhan karena tidak ada reklamasi. Oleh karena itu, mari kita dukung pembangunan PLTN di Indonesia.