Lazimnya, kita sering menganggap bahwa telanjang di ruang publik merupakan suatu hal yang tabu. Terlebih bagi orang Indonesia yang masih memegang teguh prinsip budaya ketimuran. Hal ini tentu tidak terlepas dari keterkaitannya dengan porno aksi atau pelecehan seksual.

Selain itu, telanjang di ruang publik terkesan tidak sopan atau bahkan bisa-bisa masyarakat menjuluki kita sebagai orang yang mengidap penyakit jiwa atau gangguan mental yang akan sulit diterima dalam pergaulan. Namun apa jadinya jika ada sebagian orang justru lebih menyukai hidup telanjang?

Kalau terkait aktivitas mandi atau dilakukan secara private, hanya diri sendiri atau di depan pasangan muhrim mungkin sah-sah saja. Tapi mereka melakukan aksi telanjang ini di segala aktivitas. Bahkan acara formal seperti meeting, bekerja, dan, lain sebagainya. 

Adalah kaum nudisme atau naturisme yang berani mendobrak kebiasaan kita dalam berpakaian selama ini. Mereka beranggapan bahwa naturisme dapat mendorong gaya hidup sehat dan lebih menyatu dengan alam.

Nudisme atau naturisme juga dianggap sebagai suatu konsep kejujuran dan saling menghargai, di mana orang dapat melihat diri kita dengan apa adanya dan tanpa ditutup-tutupi.

Terlepas dari apakah nantinya aksi telanjang itu akan mengarah pada erotisisme atau tidak, nyatanya kaum naturist mengeklaim bahwa apa yang mereka lakukan itu murni hanya penekanan dari kebebasan individu saja, tidak selalu mengarah pada aktivitas yang bersifat seksual saja.

Gaya hidup naturisme memang terasa asing di kalangan masyarakat Indonesia. Penganutnya pun terbilang sedikit walaupun sebenarnya klub nudis mulai banyak dijumpai di sebagian kota-kota di  Indonesia.

Tentu saja mereka tidak berani menunjukkan identitas secara terang-terangan mengingat bahwa hukum di Indonesia belum bisa beramah-tamah terhadap penganut aliran ini, belum lagi sanksi sosial dari masyarakatnya.

Berbeda dengan negara-negara Barat, di mana penganut naturisme lebih bisa diterima dan telah mempunyai ruang sendiri di mata masyarakatnya. Sah-sah saja, toh itu tidak merugikan orang lain (katanya). Senada dengan hal itu, maka penganut naturisme di Barat pun kian banyak.

Di beberapa negara justru dilegalkan dan difasilitasi. Salah satunya adalah Prancis. Negara dengan islamofobia tertinggi ini bahkan menjadi tujuan tempat tinggal yang ideal bagi penganut naturisme. Bagaimanapun, naturisme sudah menjadi tren dan gaya hidup baru yang dianggap lebih simpel dan gak ribet bagi sebagian orang.

Pertanyaannya, apakah naturisme memang demikian adanya?

Berbicara tentang naturisme, kok saya kepikiran mengenai gaya hidup masyarakat primitif zaman dahulu kala ya? Jangan jauh-jauh deh. Zaman sekarang jug masih bisa kita jumpai kok kehidupan suku pedalaman di mana kebutuhan sandang memang belum menjadi prioritas utama mereka.

Masyarakat primitif memang lebih getol mencari makan ketimbang harus memikirkan bagaimana caranya menutup aurat mereka. Memang tidak semuanya seperti itu. Tapi kalaupun ada yang berpakaian, biasanya itu untuk melindungi tubuh mereka dari berbagai macam gangguan binatang buas atau dari panas matahari dan dinginnya hujan.

Meskipun berpakaian versi mereka jauh dari memenuhi standard (misalnya hanya memakai koteka untuk menutupi bagian paling intim), setidaknya mereka menyadari bahwa tubuh itu adalah hak otoritas mereka. Dengan kata lain, masih tebersit adanya rasa malu di benak mereka.

Itu artinya naluri untuk berpakaian memang secara alamiah selalu ada pada diri manusia, bahkan pada manusia konservatif sekalipun. Ternyata teori ekonomi yang menempatkan bahwa kebutuhan sandang merupakan kebutuhan primer setelah kebutuhan pangan itu ada benarnya juga.

Sekarang bandingkan dengan kaum nudis yang naked, tanpa sehelai benang pun! Padahal mereka hidup di zaman modern, di tengah hiruk-pikuknya perkotaan di mana ketersediaan bahan sandang melimpah dan pakaian mudah diperoleh.

Well, keterkaitan aliran naturist dengan gaya hidup primitif itu sebenarnya bukan tanpa alasan, karena aliran tersebut ternyata bukan sesuatu yang baru. Istilah naturisme digunakan pertama kalinya pada tahun 1778 oleh seorang Belgia berbahasa Prancis, Jean Baptiste Luc Planchon (1734-1781), dan dianjurkan sebagai cara untuk meningkatkan hygiene de vie atau hidup sehat.

Sementara klub naturist paling awal dikenal dalam arti kata “barat“ didirikan di British India pada tahun 1891. So, naturisme itu ternyata telah ada sejak lama. Dan itu merupakan bagian dari sejarah peradaban bangsa Barat sebelum adanya masa renaissance (pencerahan).

Jadi naturisme itu sudah dianut oleh sebagian masyarakat Barat jauh sebelum mereka tersentuh gaya hidup modern. Mereka sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk beraktivitas dengan telanjang di ruang publik.

Di saat sebagian orang berlomba-lomba mengoleksi berbagai macam model busana demi menunjang gaya berpakaian yang modis, maka lain halnya dengan kaum nudis. Mereka justru lebih nyaman jika seluruh tubuhnya tak terbungkus, lebih bebas terkena hangatnya sinar mentari.

Tapi jangan salah, dengan menganut gaya hidup nudisme, mereka mengaku pekerjaan menjadi terasa lebih ringan. Contohnya saja jika dalam sepekan biasanya kita bisa mencuci 12-24 potong pakaian, maka mereka hanya mencuci setidaknya lima potong pakaian dan itu sudah termasuk pakaian dalam.

Ya jelas, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu tanpa berpakaian. 

Apakah mereka mempunyai rasa malu atau riskan bertelanjang seperti itu di depan umum? Jangan tanya soal itu pada mereka, karena nyatanya justru kenyamananlah yang mereka peroleh. Telanjang bukanlah soal melanggar norma. Lebih dari itu, mereka merasa lebih erat satu sama lain. Begitu klaimnya.

Jadi, apakah dengan gaya hidup nudisme membuat manusia akan kembali ke zaman primitif? Entahlah.