Muktamar ke-43 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung mengusung tema “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia” dan dalam muktamar ini Presiden Jokowi mengapresiasi tokoh-tokoh NU yang terus mengawal kebangsaan, toleransi dan sejumlah isu persatuan NKRI.

Presiden mengatakan "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada NU yang terus mengawal kebangsaan, mengawal toleransi, mengawal kemajemukan, mengawal Pancasila, mengawal UUD 1945, mengawal kebinekaan kita, mengawal NKRI," Rabu (22/12/2021). News.detik.com.

Berbicara masalah toleransi di Indonesia, satu tokoh dari kalangan NU yang terus dibicarakan hingga hari ini, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan menjadi inspirator bagi generasi muda hari ini dalam membangun sikap agama yang damai dan cinta. Ulama cerdas ini merupakan bapak dari perdamaian dan toleransi.

Satu abad sudah usia NU di Indonesia, sejak awal kemunculannya NU merupakan penerus estafet dari perjuangan Walisongo yang merupakan para penyebar agama Islam di pulau Jawa mengikuti Ahlussunnah dilestarikan dari generasi ke generasi.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Walisongo mudah diterima oleh masyarakat Jawa sebab toleransinya dengan adat/budaya lokal dengan sangat bijak, para penyebar Islam mendekati pribumi dengan cara persuasif, mengakulturasikan budaya yang ada dengan ajaran Islam sehingga penduduk lokal tidak mudah tersinggung.

NU ada tidak lepas dari gerakan kaum Wahabi di Hijaz yang ingin menyebarkan purifikasi dalam menjalankan agama yang menganggap selama ini penuh dengan bid'ah dan khurafat. Wahabi diawali Muhammad bin Su’ud dan Muhammad bin Abdul Wahab pada 1790-1805. Ajaran Wahabi kemudian meluas ke Nusantara dan terpengaruh dengan ajarannya yang ingin memurnikan Islam.

Juga cikal bakal lahirnya NU berasal dari Wahab Chasbullah pada 1924. Namun ketika itu belum direstui oleh Hasyim Asy’ari, di kalangan tradisionalis ulama yang cukup disegani. Melihat kelompok modernis dipandang tidak menghormati kelompok tradisionalis.

Kemudian Asy’ari pun menyetujui pendirian NU pada 31 Januari 1926. Dengan kata lain Wahab Chasbullah menawarkan konsep dan kemampuan organisatoris sementara Hasyim Asy’ari memberikan legitimasi keagamaan.

Dari penjelasan di atas tentang cikal bakal lahirnya NU, ada dua alasan yang bisa ditarik kesimpulan. Pertama, NU ingin mempertahankan tradisi dan yang kedua kaitannya dengan gerakan Wahabi yang ada di Hijaz.

Sebagaimana diungkapkan Deliar Noer, NU didirikan dengan dua maksud, yaitu untuk mengimbangi Komite Hijaz yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan golongan pembaru dan untuk berseru kepada Ibnu Saud, penguasa baru di tanah Arab, agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan.

Basis NU adalah masyarakat pesantren yang memandang bahwa tradisi klasik merupakan suatu  keharusan yang harus dipegangi umat Islam. Karena itu, doktrin yang dikembangkan dan dipertahankan adalah Ahlusunnah.

Doktrin ini digunakan muslim tradisionalis untuk membedakan dengan muslim modernis dan pada saat yang sama untuk melindungi diri dari gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh muslim modernis.

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, penulis Acehnologi mengistilahkan doktrin ‘trilogi pemikiran NU’ yaitu di bidang tauhid (teologi) mengikuti Asy’ari dan al- Maturidi, menganut salah satu mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) dalam fikih, dan mengikuti al-Junaidi, al-Baqillani, dan al-Ghazali dalam tasawuf.

Karena itu, kata peneliti yang pernah ditetapkan sebagai Peneliti Muda Indonesia oleh AIPI dan Oktroei Roosseno pada 2012 bahwa dalam tradisi pemikiran NU, warna-warna pemikiran di luar trilogi tersebut jarang sekali diterima.

Keberhasilan NU menghimpun pengikut menumbuhkan solidaritas dan integritas yang kuat dan menjadikan NU sebagai salah satu kekuatan sosial politik, kultural dan keagamaan yang berpengaruh selama bertahun-tahun. Gagasan yang pertama kali ketika NU dibentuk bukanlah dari wawasan politik, melainkan dari wawasan sosial keagamaan.

Meskipun demikian wawasan tersebut tidak lantas menjadikan NU mengabaikan soal-soal politik. Bahkan pemikiran NU dalam berpolitik mempunyai sikap, yaitu al-tawasut, berbuat secara moderat dalam berbagai bidang kehidupan. Al-i’tidal, menegakkan keadilan dan al-tawazun bahwa seorang muslim harus menunjukkan keseimbangan dalam perbuatan.

Dalam sejarah pemikiran dalam Islam, terdapat pemikiran yang menyalahi ajaran Islam. Salah satunya gerakan radikalisme yang berujung pada sikap intoleransi sehingga meresahkan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.

Islam sebagai agama mesti hadir dalam menawarkan ideologi keagamaan yang moderat yaitu dengan moderasi beragama dalam mengatasi radikalisme. Moderasi Islam diposisikan menjadi arus utama pendidikan, prinsip moderasi merupakan perspektif pemersatu dalam keberagaman di negara multikultural.

Selain NU, ada Muhammadiyah yang merupakan gerakan pembaru Islam terbesar di Indonesia dan organisasi sosial keagamaan yang unik dengan karakteristiknya masing-masing.

Karena itu, dua kelompok gerakan Islam ini (pengikutnya) harus bisa membawa wajah Islam pada agama cinta, kedamaian, toleran, dan ramah serta menangkal pemikiran radikalisme ekstrim yang tidak memanusiakan manusia.

Menurut hemat penulis, jika ditelisik akar lahirnya dua gerakan ini dengan sikap objektif, Indonesia bangga mempunyai dua organisasi Islam ini. Walaupun mempunyai epistemologis yang berbeda, tetapi mempunyai pergerakan visi yang sama menjaga nilai-nilai ajaran Islam, sosial kemanusiaan dan sikap nasionalisme.

Nasihat menyejukkan dari Ahmad Syafii Maarif di kata pengantar buku “Jejak Pembaharuan Sosial dan Kemanusiaan: Kiai Ahmad Dahlan” barisan intelektual muda untuk toleran dan berilmu, baik Muhammadiyah dan NU dalam beragama sehingga corak Islam bisa ditampilkan dengan agama yang ramah.

Dengan agama Islam yang ramah dan beragama dengan cinta dalam rangka menampilkan Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Nah, selama Muhammadiyah dan NU bergandengan tangan, bangsa ini tetap merasa aman dari ancaman radikalisme ekstrim.

NU dan Muhammadiyah, dua pembaru ini mempunyai pengikut serta paradigma tersendiri dalam pembaruan. Walaupun berbeda, justru inilah khazanah kekayaan budaya maupun pemikiran Islam di Indonesia.

Muhammadiyah, membangkitkan umat Islam dan bangsa Indonesia menuju cita-cita yang berkemajuan, dalam beragama maupun dalam berbangsa. Sementara NU menjaga nilai-nilai keislaman secara tradisi, mengusung konsep secara moderat di tengah-tengah kehidupan multikultural.   

Selamat Muktamar NU ke-34 di Lampung, semoga menjadi gerakan pencerah dan penyejuk di tengah kehidupan berbangsa dan beragama.

Bahan Bacaan:

Amirul Ulum. Muassis Nahdlatul Ulama: Manaqib 26 Tokoh Pendiri NU. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. Akar Intelektual Politik Islam di Indonesia. Aceh: Sahifah, 2018. M. Ali Haidar. Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih dan Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.