Kisah ini bukan cerita Romeo-Juliet yang tragis akibat perbedaan kelas di zaman Inggris klasik. Bukan pula kisah Faust dan Margaretha yang gila berkat akal budi di abad pencerahan Jerman. Namun, sedikit mirip dengan Layla-Majnun yang tulus mencinta meski buruk rupa di Timur Tengah. 

Berlatar belakang pertemuan nalar kritis dua sejoli dengan kondisi sosial yang dinamis. Mungkin pengisahan tokoh pewayangan antara Bima dan Arimbi relevan menggambarkan NU-Muhammadiyah dalam pusaran konflik bathin anak manusia.

Terlihat kesal raut muka seorang laki-laki pagi itu membaca pesan teks perempuan idamannya melalui smartphone. Pesan itu ia baca berulang-ulang dengan bunyi, “Sebelum besok bertandang ke rumah alangkah baiknya mempertimbangkan hal-hal ini; aku bukan penganut golongan pacaran sebelum menikah, sedangkan saat ini aku belum kepikiran untuk menikah. 

Sebab ada banyak hal yang aku janjikan kepada orang tua yang saat ini belum sempat kutunaikan. Selanjutnya, setelah berbincang dengan bapak dan ibu panjang lebar dengan sangat berat hati status Kemuhammadiyahanmu menjadi titik berat penerimaan dirimu sebagai bagian dari keluarga”.

Maklum, momen lebaran kala itu adalah waktu yang tepat untuk bersilaturahmi kepada sanak saudara dan handai taulan. Peluang dan kesempatan mengenal lebih dekat keluarga calon pasangan hidup merupakan sesuatu yang wajar bagi anak muda yang ingin serius membangun rumah tangga. 

Toh, masih pada Bulan Syawal resepsi pernikahan banyak juga digelar di berbagai tempat untuk melanggengkan status suami-isteri. Namun, tidak berlaku bagi laki-laki perantauan ini yang hidup di kota hampir sepuluh tahun. Balasan pesan instan perempuan idaman yang berasal dari desa ini sungguh membuatnya terkejut tak kepalang tanggung memikirkan aliran-aliran keagamaan di Indonesia.

Konon, pertemuan dua sejoli ini terjadi di ruang publik yang membahas tentang persoalan politik nasional yang menuntut organ gerakan mahasiswa terlibat. Patut diduga pasangan ini adalah aktivis mahasiswa yang mengenyam pendidikan tinggi di kota. 

Tetapi siapa mengira keduanya berbeda organ mahasiswa Islam ini, meski soal pemahaman beragama mereka berdua sepakat pluralisme Islam. Tetap saja latar belakang aliran kegamaan merupakan tolok ukur mempersunting gadis desa yang kental kebudayaan Islam-Tradisionalnya.

Lelaki bermuka kesal itu senyatanya memang belajar di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan sempat memimpin satu organisasi kemahasiswaan Islam-Modern tersebut. Namun, sepanjang pengakuannya memajukan Islam dalam kehidupan beragama, tradisi masyarakat tidak dapat ia lepaskan pada konteks yang sedang ia alami. 

Pelajaran yang selama ini ia peroleh dari Muhammadiyah sekeyakinannya hanyalah ilmu-amaliah dan amal-ilmiah. Memang harus diakui, perempuan idaman yang mempunyai latar belakang Nahdlatul Ulama ini terlebih memimpin organ mahasiswa Islam-Nasionalis menciptakan dialektika batiniah sendiri bagi seorang pemuda yang sedang kasmaran. 

Kedua sejoli yang sama-sama mengidolakan Mahbub Djunaedi ini terpaksa berpisah karena perbedaan identitas belum menghendaki hidup berpasang-pasangan dan berdampingan.

Dikotomi Kultural Desa-Kota              

Membaca kisah percintaan dari seorang teman di atas, jujur membuat saya tertarik menganalisis fenomena kultural desa-kota dalam kehidupan beragama. Sungguh, jika perbedaan sholat subuh antara NU dan Muhammadiyah menggunakan doa qunut atau tidak. Perbedaan sholat tarawih dan witir yang berjumlah 23 atau 11 rakaat. 

Maupun penetapan 1 syawal dengan metode hilal atau hisab. Kenyataannya perbedaan-perbedaan itu membuka perdebatan baru tentang identitas sosial dalam pandangan hidup seseorang di era pasca kebenaran.

Padahal, jauh-jauh hari Clifford Geertz (1976) sudah mengingatkan bahwa abangan, santri, dan priyayi merupakan tipe budaya yang mencerminkan organisasi moral kebudayaan  Jawa, maka susunan dalam tataran bagaimana orang Jawa selalu menentukan sikap di semua ranah kehidupan. Maka tiga subtradisi keagamaan masyarakat Jawa diatas oleh Geertz dikaitkan secara luas dan umum dengan tiga inti struktur sosial di Jawa yaitu desa, pasar, dan birokrasi pemerintahan.

Kita tak perlu memperdebatkan lagi jika laki-laki bermuka kesal itu berasal dari Suku Minangkabau sedang perempuan idaman berlatar belakang masyarakat Jawa. Karena keduanya mengamini dilahirkan dari rahim feodalisme Jawa yang kuat. 

Sebab itulah, diskursus kebudayaan Geertz relevan kita kutip disini. Namun, mari kita perdebatkan saja mengenai diferensiasi ruang yang mempengaruhi cara pandang seseorang memutuskan nasib manusia di kemudian hari.

Beberapa pakar seperti Mitsuo Nakamura, Ricklefs, Anthony H. Johns, dan W.Keeler yang mengkaji Islam Indonesia itu melihat dikotomi desa-kota sungguh nyata di lapangan. Para ahli Islam Indonesia itu menggunakan simbol-simbol (berupa kebudayaan Jawa) untuk menjelaskan posisi Islam di Jawa (Kim, Hyung-Jun: 2017). 

Serupa pendapat Keeler (1987) bahwa tindakan, kemampuan berbicara, nasib, dan interaksi orang Jawa dalam keluarga, kehidupan desa, dan tengah-tengah orang yang berbeda status, konon dipengaruhi oleh kekuatan spiritual milik mereka sendiri dan orang lain.

Artinya, kasus NU-Muhammadiyah dalam konflik batin teman saya di atas adalah persoalan ruang yang berbeda diantara unsur-unsur kebudayaan yang menyertainya dalam kehidupan beragama. 

Mungkin, teman saya itu perlu belajar banyak dari Arimbi yang mencintai Bima dengan cara memohon restu kepada Kunthi (ibunya). Tapi perlu diingat! Perpindahan ruang keluarga Pandawa ke hutan merupakan perjuangan keras Bima melawan raksasa yang bernama Arimba. 

Meski Bima telah membunuh kakak Arimbi dalam pertempuran hebat di hutan. Tapi Arimbi tetap mencintai Bima dengan penuh perasaan tanpa adanya kebencian. Maka perbedaan status Bima dan Arimbi itu sesungguhnya dipersempit oleh latar tempat yang sama yaitu hutan dan kehidupannya.

Jadi, konflik batin yang dirasakan oleh teman saya ini cukup kita jadikan bahan pertimbangan saja dalam mengambil keputusan pada kehidupan sosial. Jika fenomena kultural desa-kota dalam kehidupan beragama ini tidak ingin kita pikirkan lebih mendalam lagi. 

Alangkah baik, seyogyanya kita mundur saja bila ingin mempersunting kembang desa. Sembari minum air kelapa muda di desa tetangga perempuan idaman itu. Teman saya yang sedang kasmaran ini pada akhirnya mengumpat di muka saya; Asu!.