“Saya termasuk yang mendirikan Wanadri tahun 1964. Saya sempat baca di majalah, yang menolong jatuhnya pesawat Sukhoi itu Wanadri,” ujar Gus Sholah yang juga merupakan mantan Dewan Pengurus Pendaki Gunung Wanadri pada 1966-1967.

SAPALA (Santri Pencinta Alam) tak bisa dilepaskan dari perkembangan kepencinta-alaman di Indonesia. SAPALA bersama MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) dan SISPALA (Siswa Pencinta Alam) lahir dari rahim tumbuh kembang pendidikan karakter alam bebas. 

Tonggak kepencinta-alaman Indonesia dengan mengandalkan pendidikan karakter alam bebas dipelopori oleh WANADRI. Siapa yang tak kenal WANADRI, sebuah Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung dengan banyak peran dan prestasi bermarkas di Bandung yang didirikan pada tahun 1964 itu. 

Hal menarik di kalangan NU jarang yang tahu bahwa Gus Sholah atau Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid, saudara Gus Dur, adalah salah satu pendiri, pengurus, dan anggota WANADRI.

Seharusnya peran dan teladan Gus Sholah di WANADRI dijadikan tonggak kebangkitan Santri Pencinta Alam (SAPALA). Perkembangan SAPALA di Indonesia terlihat kembang kempis dan kurang ditangani dengan serius. Hal ini terlihat dari akumulasi peran dan prestasi SAPALA yang angin-anginan. 

Sejauh yang penulis ketahui, hingga saat ini, belum ada satu pun kegiatan pendataan jumlah dan kondisi SAPALA di Indonesia saat ini. Walaupun SAPALA masuk kawasan ekstrakurikuler, kepencinta-alaman pondok pesantren sudah saatnya bangkit dari hibernasi serta perlu ditingkatkan, baik dari segi kegiatan, prestasi, ataupun perannya di masyarakat. 

Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) juga menangani serius tentang pendidikan karakter ini. Dengan harapan pendidikan karakter dapat memecah jalan buntu dalam menyikapi kelesuan watak dan moral bangsa. Mereka berkampanye dengan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter. 

Namun kenyataannya, 18 butir itu sangat sulit diajarkan. Sebab karakter yang terbangun dan membekas harus bermula dari kebiasaan yang dibangun di lapangan untuk menjadi sikap keseharian. Salah satu caranya adalah menjadi pegiat ekstrakurikuler pencinta alam dalam artian SAPALA guna mendidik karakter santri menjadi disiplin. 

SAPALA dilatih untuk tangguh fisik dan psikis dalam menghadapi dinginnya puncak gunung, gelapnya gua, ganasnya arus liar, lebatnya hutan rimba, seramnya rawa, serta liarnya ombak lautan. Dengan maksud ke depan adalah untuk melatih keuletan melewati hambatan alam yang sangat diperlukan saat belajar, dakwah, dan kerja.

Di tengah kebingungan platform kenpecinta-alaman SAPALA, akhirnya lahirlah NU Backpacker yang berangotakan anak-anak muda NU yang sementara ini secara struktural bukan bagian BANOM ataupun lainnya. Kelahiran NU Backpacker dapat kita apresiasi sebagai tanda kebangkitan SAPALA di Indonesia. 

Kita lihat betapa bahagianya ruh SAPALA yang tergambar pada komunitas NU Backpacker ini saat peresmian di Batang, Jawa Tengah, pada Desember 2018. Peresmian sederhana di Puncak Patran, Bawang, Kabupaten Batang yang disaksikan oleh 220 anggota pencinta alam dari komunitas se-Jawa Tengah dan DIY. 

NU Backpacker berkomitmen untuk membangun pendidikan karakter berbasis alam bebas. Pendidikan yang berfokus pada proses pengubahan sikap dan tingkah laku untuk pendewasaan individu. Salah satu bentuk pendidikan karakter tersebut adalah interaksi luar ruangan dengan cara mengunjungi tempat yang dapat menumbuhkan cinta tanah air dan bangsa, NKRI Harga Mati!

Keberadaan dan peran penting pondok pesantren di tengah masyarakat sudah tidak asing lagi bagi kita. Termasuk Santri Pencinta Alam (SAPALA) menjadi bagian integral yang tidak bisa dipisahkan. Pondok pesantren dengan berbagai keunikannya telah banyak mewarnai perjuangan bangsa kita dalam perjuangan melawan imperialisme dalam merebut kemerdekaan. 

Seharusnya hal ini membuat SAPALA menjadi percaya diri, sakti, dan trengginas untuk ikut berkembang pesat beriringan dengan keunikan tersebut. Dinamika perkembangan SAPALA tak lepas dari perhatian pesantren itu sendiri. Wilayah Indonesia yang kaya gunung, hutan hujan tropis, sungai, jeram, tebing, danau, rawa, gua, dataran tinggi, dan laut merupakan aset besar bagi perkembangan kepencinta-alaman pondok pesantren. 

Tumbuhnya kegiatan alam bebas bagi SAPALA ataupun NU Backpacker dalam bentuk petualangan tersebut sangat baik dan tepat sebagai bentuk praktik lapangan pendidikan karakter. Dengan melihat timeline di era 1970-an, kegiatan ini masih dianggap spesial, eksklusif, mahal, dan bisa dibilang sebagai kegiatan luar ruangan yang menakutkan. 

Namun saat ini, dengan beriring pentingnya pendidikan karakter, akhirnya menjadi tren. Alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah-Nya. Oleh karena itu, SAPALA dan NU Backpacker harus mengawalnya. 

Termasuk tugas pokok pelestarian alam yang dapat diwujudkan dengan berbagai di antaranya dengan bil hal, bil lisan, bil qolam, serta bil qolbu hingga dapat dan berhasil membangun sebuah karakter climber serta dapat meminimalisasi dua karakter yang kurang menguntungkan lainnya, yaitu karakter camper dan quittera

Kemajuan ekstrakurikuler SAPALA mempunyai nilai plus bagi pondok pesantren itu sendiri. Jika melihat animo dan tren tinggi dari masyarakat terhadap pendidikan karakter alam bebas, sudah saatnya SAPALA dan NU Backpacker menggodok platform pendidikan karakter berbasis alam bebas yang lebih tajam untuk mendukung program ekstrakurikuler pondok pesantren. 

Ini adalah kerja lintas disiplin, di mana SAPALA berada di zona ekstrakurikuler dan NU Backpacker berada di zona luar gerbang. 

Alam itu setia, tak akan pernah mengkhianati yang mencintainya. Alam adalah guru terbaik dalam pembentukan karakter manusia. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Soe Hok Gie. 

Salah satu program nyata dari pendidikan karakter alam bebas adalah pelaksanaan DIKSAR (Pendidikan Dasar), sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon petualang alam bebas agar berkarakter kuat. Ia juga merupakan sarana regenerasi anggota SAPALA dan NU Backpacker. 

Pendidikan dasar ini tidak bisa dilakukan asal-asalan sebab penuh tekanan, penuh persiapan, dan perlu finansial yang tidak sedikit. DIKSAR merupakan pintu gerbang kurikulum pendidikan karakter pecinta alam. Kegiatan tersebut adalah ritual sakral yang wajib bagi pendidikan karakter alam bebas. 

Kita tahu bahwa kegiatan di alam bebas memiliki risiko yang tinggi menyangkut keselamatan jiwa. Oleh sebab itu, kematangan penyelenggaraannya harus benar-benar diuji di sini. Adapun materinya, antara lain: navigasi darat, SAR, materi rawa, penyeberangan basah dan kering, long march, jungle survivalarus deras, dan panjat tebing.

NU Backpacker sudah memiliki 21 cabang di kabupaten/kota di Indonesia, serta 6 cabang di luar negeri. Adapun SAPALA, kalau didata per pondok pesantren seluruh Indonesia, jelas merupakan jumlah yang sangat besar. Ini sangat potensial! Mereka saatnya bertemu dalam satu gagasan besar. 

Perlu diadakan sebuah gladian SAPALA-NU Backpacker yang akan membahas program-program krusial pendidikan karakter alam bebas bagi santri. Adapun NU Backpacker sudah melakukan GATNAS (Gathering Nasional) internal pada tanggal 19-20 Januari 2019 di Puncak Pinus Becici, Mangunan, Bantul, Jawa Tengah. Kita tunggu saja gayung bersambut. Salam lestari!