Sebagai lulusan santri, membahas kisah masa lalu selama hidup di pesantren bersama alumni satu pesantren lainnya, merupakan keberkahan tersendiri.  Hal yang rasa-rasanya tak pernah habis dibicarakan.

Walaupun hari ini kami sudah menjadi alumni, namun pengalaman selama menjadi santri seolah terpatri dalam memori.   Saat kumpul di acara reunian misal, saya dan teman saya bisa menghabiskan waktu semalaman hanya untuk mengenang masa lalu selama di pesantren dulu.   

Jujur saja, dalam beberapa kesempatan tertentu, saya memang kerap mengeluh dan menyesal karena pernah menjabat sebagai santri di pesantren bukan siswa di SMA negeri seperti yang saya idam-idamkan.

Tak mendapat privilege belajar ilmu umum sebanyak SMA-SMA negeri, keunggulan nama sekolah yang membuat PTN top three ingin melirik saat SNMPTN,  rasanya jadi beban tersendiri untuk hati kecil ini. 

Hanya ada saja hal-hal ngangenin yang rasanya cuma dirasakan oleh kaum santriwan dan santriwati.  Bolehlah jika hal-hal seperti ini dikatakan privilege kaum santri.  Privilege inilah kiranya yang kerap kali saya jadikan obat penawar, ketika sedang kalang-kabut iri setengah mati dengan teman-teman kuliah yang pernah mencicipi indahnya bangku SMA. 

Salah satu privilege yang dimiliki, tentulah keunikan ketika santri jatuh hati.  Dalam masalah percintaan, sudah barang tentu terdapat perbedaan mendasar antara kisah cinta yang terjalin di pesantren dengan sekolah menengah biasa.  Jikalau di sekolah non-pesantren, saat sedang jatuh cinta kita dapat dengan mudah bertemu dengan pujaan hati, beda cerita dengan santri di pesantren. 

Dengan adanya aturan ketat pemisahan cowok-cewek di pesantren, membuat hal-hal lumrah yang biasa dilakukan remaja saat sedang jatuh cinta tak bisa dilakukan di sini.  

Namun, aturan seketat apapun, nyatanya tak mampu menghalangi santriwan dan santriwati yang tengah dimabuk cinta.  Karena tentu saja, santri punya cara-cara tersendiri untuk mengakali aturan yang satu ini dan menunaikan keinginan hati yang tengah dibuat berbunga-bunga oleh kehadiran si doi. 

Mulai dari menjadikan organisasi sekolah sebagai tempat jatuh hati.  Bukan hanya sekedar wadah pengembangan bakat saja, namun juga wadah untuk mencari jodoh.  Wadah untuk PDKT, ataupun cuci mata, mengagumi si doi dari kejauhan.

Mengingat kebanyakan acara-acara organisasi di pesantren kerap kali melakukan penggabungan antara santriwan dan santriwati.  Maka jangan kaget, jika hendak rapat organisasi pun (yang disatukan antara cowok dan cewek) dijadikan kesempatan curi-curi pandang bagi kaum santri.  

Bagaimana tidak? Rapat organisasi adalah waktu dimana kita bisa bertemu dengan pujaan hati.  Bahkan beberapa teman saya, sempat-sempatnya membeli baju khusus hanya untuk dipakai menghadiri rapat akbar dengan putra.  Niat sekali bukan? Intinya mereka ingin tampil semenawan mungkin. 

Bukan hanya di rapat organisasi saja, setiap kali ada kegiatan pondok, libur panjang di rumah, ataupun lomba dimana cowok-cewek bisa bertemu, merupakan kesempatan yang kerap kali dimanfaatkan santri untuk menjalin dan mengembangkan kisah cintanya. 

Bagi yang pacaran, biasanya jalan-jalan ke tempat-tempat tertentu ketika sedang ada libur panjang dari pesantren.  Jalan-jalan yang terkesan biasa saja, jadi spesial untuk kedua sejoli karena jarang-jarang mereka bisa begini.  Hanya bisa ditunaikan saat pesantren mengadakan libur panjang.

Bagi mereka-mereka yang hanya bisa mengagumi dari jauh, tanpa bisa mendekati, cukuplah jadi stalker di sosial medianya.  Terpesona dengan foto-fotonya yang sudah difilter berkali-kali di instagram.  Mencari info lebih banyak dengan menghubungi dan bertanya pada teman-teman sepermainannya.    

Bukan hanya momen-momen seperti itu saja yang dimanfaatkan santri ketika sedang jatuh cinta.  Terdapat beberapa oknum yang turut serta membantu dan berperan aktif dalam hal satu ini.  Mulai dari mak-mak dapur, petugas kebersihan, hingga penjaga kantin turut berkonspirasi dalam percintaan kaum santri.

Merekalah kurir-kurir terhormat, petugas pos perasaan, yang kerap kali mendapat tugas besar untuk menyampaikan sepucuk surat seorang santri kepada pujaan hatinya di ujung sana.  Bukan hanya surat, bahkan dalam beberapa kesempatan hadiah berupa makanan atau barang berharga.

Nantinya mak-mak dapur akan menitipkan surat tersebut pada santri lain yang kenal dengan penerima surat.  Setelah santri yang dititipi surat tersebut memberikan surat pada si penerima, maka senyum malu-malu akan tersungging dari bibir si penerima surat.  

Bukan hanya hatinya saja yang heboh mendapatkan surat, teman satu asrama pun turut serta meramaikan kisah cintanya.

Mulai dari “cie-ciee” hingga keluhan iri teman jomblonya yang tak kunjung mendapatkan surat seperti itu.  Makanya, dalam beberapa kasus, kerap kali surat diberikan secara diam-diam, untuk mencegah terjadinya keributan di asrama tentunya. 

Nah, kiranya itulah romantisme anak pesantren.  Hanya kisah cinta sederhana, hanya momen biasa, namun aturan-aturan pondok kerap kali membuat momen sederhana itu menjadi istimewa dan spesial untuk dikenang dalam memori. Bahkan walau itu berkaitan dengan si mantan yang dari jauh-jauh hari sudah seharusnya dilupakan.