Saya bukan penggemar Srimulat. Konsep komedi slapstick yang mereka usung kerap gagal membuat saya tertawa. Lelucon kasar semacam itu mengeksploitasi manusia. Bukan tipe komedi yang menyindir, mengejek dan memelintir ide atau peristiwa. Setidaknya komedi slapstick mengandung unsur menertawakan penderitaan, kecelakaan dan penganiayaan.

Di Srimulat, dalam sosok Tessy misalnya, identitas transpuan yang ditampilkan menjadi obyek tertawaan. Modal andalan almarhum Gogon adalah bentuk rambut sisa di depan sementara bagian kepala lainnya botak. Dengan perspektif penonton film, ulasan ini dibuat. Ulasan ini tidak mengandung bias penggemar yang merindukan nostalgia ataupun pembenci yang mencaci Srimulat.

Pentas komedi khas Srimulat membuka Srimulat: Hil Yang Mustahal Babak Pertama. Penonton langsung disuguhi nostalgia grup lawak tradisional legendaris ini. Alur cerita kemudian beralih ke Gepeng (Bio One). Pria bernama asli Fredy Aris itu kerap dirisak dan disepelekan baik secara halus maupun terang-terangan. Ia hanya pemain gamelan Srimulat yang ingin sekali pentas di panggung komedi Srimulat. Cita-cita Gepeng pun tidak terlalu didukung ayahnya

Beruntungnya, ia tidak sendirian. Gepeng ditemani Basuki (Elang El Gibran) yang kerap memberi motivasi untuk mewujudkan mimpinya. Srimulat lalu mendapat panggilan ke Jakarta untuk pentas di TVRI dalam format layar kaca. Mereka akhirnya diundang menghibur Presiden Soeharto.

Pak Teguh (Rukman Rosadi) memberi kesempatan Gepeng untuk ikut rombongan ke Jakarta. Sebagai bos besar Srimulat, ia punya feeling tajam pada talenta Gepeng. Asmuni (Teuku Rifnu Wikana) diminta Pak Teguh menjadi mentor bagi Gepeng. Sekalipun Tarzan (Ibnu Jamil) meragukannya. Gepeng akan menghadapi sinisme dan risakan halus Tarzan.

Di Jakarta, Gepeng jatuh cinta dengan Royani (Indah Permatasari). Royani adalah putri Babe Makmur (Rano Karno), juragan kontrakan yang ditempati oleh rombongan Srimulat. Jatuh cintanya Gepeng ternyata merusak konsentrasi hingga mengancam karirnya di Srimulat.

Di Jakarta pula, para anggota Srimulat mulai mencari identitas panggung mereka masing-masing dan kepemimpinan Pak Asmuni (Teuku Rifnu Wikana) dalam membimbing Gepang serta mengelola anggota grup diuji.

Film ini berlatar belakang tahun 1981. Di mana Srimulat sudah mapan berdiri dan cukup dikenal. Film ini tidak menceritakan masa awal pembentukan Srimulat. Sekalipun sudah relatif ditungggu kehadirannya oleh penonton, popularitas Srimulat baru sebatas panggung-panggung komedi di Jawa.

Srimulat belum terlalu dikenal oleh orang Jakarta, apalagi di Indonesia. Kesempatan tampil di TVRI pun menjadi pengalaman pertama mereka melawak lewat format televisi. Pada era kedigdayaan otoritarianisme Orde Baru, membuat tertawa Presiden Soeharto yang mengundang mereka menjadi harga mati.

Sekalipun saya bukan penggemar komedi slapstick, film ini berhasil mengundang tawa para penggemar lelucon kasar dan fans Srimulat. Pelesetan akronim, kelucuan-kelucuan khas Srimulat seperti mata tercolok gelas dan kaki terinjak termasuk plot komedi horor sukses membuat penonton tertawa lepas.

Bentrok logat medok Jawa dengan dialek Betawi menjadi lelucon pelepas tawa yang sempurna. Scene Babe Makmur dengan Basuki dan Gepeng mengingatkan kita pada saut-sautan spontan khas logat Betawi Babe Sabeni (Benyamin Sueb) dan Mandra dengan Basuki dan Pak Bendot dalam serial Si Doel Anak Sekolahan.

Walapun begitu, film ini gagal menampilkan jalinan cerita yang meyakinkan. Pada awal film, kita diberi sinyal cerita “the making of Gepeng” sebagai inti. Kemudian ada suguhan krisis kepercayaan diri Tessy (Erick Estrada).

Dua simpul kisah itu sayangnya tidak dieksplorasi lebih mendalam. Padahal tegangan antara peran pelawak yang di atas panggung penuh tawa  dengan tekanan mental untuk membuat penonton gembira, tentu menarik bila disajikan dalam film.

Alasan Pak Timbul (Dimas Anggara) pergi ke dukun pun tidak jelas. Tampaknya sutradara Fajar Nugross memang tidak bermaksud menyejajarkan kontras tajam antara komedi Srimulat dengan pergolakan batin para anggotanya. Walaupun alur cerita bisa lebih kuat jika perbedaan tajam antara konflik batin dan komedi Srimulat ditampilkan.

Bahasa Jawa yang jadi elemen dasar dan dominan dalam dialog film ini, dilafalkan dengan fasih oleh para pemain tanpa terdengar kaku. Saya bukan generasi yang sempat menonton Gepeng. Gepeng sudah meninggal jauh saat saya pertama kali menonton televisi.

Namun berdasarkan referensi sekilas dari youtube, tampaknya Bio One relatif berhasil mereplikasi sosok Gepeng. Tidak heran bila sutradara film Hanung Bramantyo menyebut Bio One seperti kerasukan arwah Gepeng. Istri almarhum Gepeng pun sampai terharu melihat aktingnya.  

Elang El Gibran sukses mengembalikan sosok almarhum Basuki ke dalam layar bioskop. Celetukan-celetukan dengan bahasa Jawa yang diucapkan agak cempreng akan mengobati kerinduan fans Srimulat pada almarhum Basuki. Bio One dan Elang El Gibran layak mendapat tantangan mengeksplorasi peran-peran serius dalam film selanjutnya.

Morgan Oey juga patut diberi kredit atas perannya sebagai almarhum Paul Polli. Cara bicara Morgan identik dengan Paul Polli. Hanya tampilannya yang agak janggal. Paul Polli lahir tahun 1926, sehingga representasi Morgan Oey tampak masih seperti pria berusia 20an untuk setting tahun 1980an.

Ibnu Jamil dan Teuku Rifnu Wikana bermain seusai standar dalam memerankan , masing-masing, Tarzan dan Asmuni. Standar  dua aktor senior dalam film ini. Zulfa Maharani (Nunung) dan aktris lain bermain cukup aman.

Dimas Anggara yang tampak berusaha keras memerankan sosok almarhum Timbul. Jika tidak berulang kali dipanggil “Pak Timbul” dalam cerita, sulit sekali mengenali sosok yang sedang ditonton adalah duplikat Timbul.

Selain itu, relevansi kehadiran tokoh Timbul juga kurang terasa. Sosoknya tidak menambah atau mengurangi jalan cerita. Porsi peran Timbul dapat dialihkan ke karakter lain. Ini adalah problem naskah cerita.

Rano Karno menjadi pemeran pendukung paling memikat. Rano Karno, sebagai Babe Makmur, telah bertransformasi menjadi Babe Sabeni (karakter Benyamin Sueb dalam Si Doel Anak Sekolahan) dalam film ini. Sosok babe juragan kontrakan Betawi yang sering bentrok dengan transmigran Jawa dalam bentuk komedi.

Dari aspek sinematografi, potongan video mentah (footage)  tentang Jakarta yang ditampilkan agak mengganggu. Penyebabnya, kualitas video yang rendah. Namun untuk latar belakang kota Solo dan Jakarta era 1980an lain, cukup aman.

Srimulat Hil yang Mustahal: Bagian Pertama (2022), sukses menyajikan nostalgia lawakan Srimulat. Dari sisi komedi dan akting beberapa pemain, film ini bisa disebut berhasil. Untuk genre film nostalgia grup lawak legendaris, film ini lebih layak ditonton dibanding Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 2.

Namun, dari aspek cerita, film ini gagal menampilkan alur kuat dan berbobot. Potensi-potensi drama dalam film ini dibiarkan menjadi tanggung, tidak dikembangkan untuk memikat penonton. Mungkin penonton takkan lama mengingat inti cerita film ini setelah keluar bioskop.