Seperti saat menikmati aroma toko kue yang harum ketika oven-oven dibuka dan hasil panggangan roti siap disajikan di display, sensasi sama saya rasakan waktu memasuki toko buku. Bau lembaran kertas buku yang khas ditambah setumpuk imaji tentang nikmatnya membaca buku baru membuat saya begitu bersemangat.

Majalah baru, novel-novel baru, hingga komik baru adalah teman setia saya di masa kecil hingga remaja. Beranjak dewasa, menu buku saya bertambah. Kini saya juga berburu buku-buku nonfiksi untuk tambahan koleksi perpustakaan mini di rumah.

Membaca buku sama halnya dengan menikmati kue-kue yang lezat. Kita mencicipi halaman demi halaman, dari awal sampai akhir, di keheningan yang sebenarnya dalam tubuh kita begitu riuhnya. Melalui keheningan itulah tubuh kita bekerja keras, berusaha menerjemahkan harmoni banyak bumbu yang diolah sang koki, sang penulis.

Dari buku yang sama, kita akan menghasilkan deskripsi kelezatan personal, yang berbeda dengan deskripsi kelezatan orang lain. Mengapa? Karena lidah dan otak sejarah manusia mewarisi narasi yang berbeda-berbeda sebagai landasan kita mempersepsikan entitas di lingkungan sekitar.

Bagi warga Jawa Timur yang suka masakan asin seperti saya, misalnya, selalu menilai masyarakat Jawa Tengah begitu berbeda karena mereka menyukai makanan bercita rasa manis, gudeg contohnya. Dominasi masakan asin di masa kecil sangat memengaruhi saya saat menikmati masakan Jawa Tengah yang kini menjadi tempat tinggal baru. Jadi gudeg di mata saya yang berasal dari Jawa Timur menjadi berbeda dengan gudeg di mata suami saya yang asli dari Jawa Tengah.

Dan kami pun akhirnya menghasilkan deskripsi kelezatan sebagai sebuah kebenaran yang beragam. Ya, karena memang tidak ada yang salah dalam kebenaran kelezatan yang macam-macam itu. 

Rujak cingur bagi saya lezat, selezat gudeg, selezat mi aceh, selezat empek-empek, selezat ayam taliwang, atau kata anak saya selezat lasagna, takoyaki, dan steik. Kebenaran kelezatan itu sesungguhnya sangat bergantung pada pengetahuan dan hasrat masing-masing individu.

Jadi dari lembaran-lembaran kertas buku itulah saya belajar tentang kebenaran milik saya yang senantiasa berubah setelah berbagai diskusi dengan teman-teman saya yang membawa kebenaran masing-masing. Atau setelah saya membaca buku-buku lain yang membawa pengetahuan-pengetahuan baru. Sungguh akhirnya saya senang karena dapat menyerap banyak kebenaran karena kini saya bisa menikmati indahnya pelangi dari sudut pandang toleransi dan saling menghargai.

Multitasking

Namun, menurut saya, sepotong kebenaran dalam buku seperti halnya sajian kuliner yang kita nikmati, tak akan bisa ditemukan tanpa proses hening, proses mengunyah pelan-pelan dan minum sesudahnya. Era Web 2.0. dengan semangatnya membuat dunia sedatar mungkin hingga mendesakkan wacana komunikasi banyak arah seketika itu juga, membuat keheningan menjadi barang mahal. Temuan Web 2.0 menciptakan makhluk baru yaitu makhluk multitasking - seorang manusia (satu subjek) dengan banyak kata kerja.

Di era Internet, tubuh kita menjadi kesusahan untuk diam. Adalah hal yang wajar jika seseorang membaca artikel di web sambil menikmati Youtube, menikmati gambar-gambar di Instagram, mengikuti status-status orang lain di Facebook dan Twitter, bahkan chatting

Semua dilakukan bersamaan sehingga tangan, mata, dan indra kita yang lain menjadi begitu sibuknya. Tak ada lagi ruang hening yang memungkinkan organ kita berpikir riuh tentang sebuah hakikat, sebuah kebenaran. Seakan kita tahu semua di saat bersamaan, padahal ironinya yang kita tahu sesungguhnya hanyalah permukaan.

Jika kertas yang menjadi medium buku adalah penanda sebuah kesulitan, ketidakefisienan, hal yang tak ekonomis, tradisional, maka dunia digital menjadi oposisi binernya. Sebuah era kemudahan, efisiensi, murah, dan modern. Konsekuensinya sekali lagi, Anda didudukkan dalam posisi seakan-akan tahu semua, namun sesungguhnya tak tahu apa-apa.

Oposisi biner itu selaras dengan pemaknaan pertama dan kedua, mengikuti cara berpikir Roland Barthes, seorang semiolog, tentang mitos. Di tataran pertama, kertas adalah medium untuk barang cetakan seperti buku, surat kabar, dan majalah, serta medium untuk tulis-menulis dengan pensil atau pena. 

Namun, makna kertas di lapis kedua adalah medium yang mahal, tidak efisien, dan intinya mencerminkan perilaku yang tidak modern. Pemaknaan sesat ini lahir karena kesalahan kita sendiri yang selalu mengagumi budaya asing sehingga modernitas kerap dimaknai sebagai sebuah garis lurus.

Pertanyaan selanjutnya, apa konsekuensinya jika seseorang disebut tak modern? Tidak ada jawaban yang pasti, namun bayangan saya mungkin seperti seseorang yang mengenakan kebaya atau sarung lantas berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Anda jelas akan mendapat banyak tatapan merendahkan.

Padahal apabila kita membaca tulisan Malcolm Bernard yang berjudul Fashion Sebagai Komunikasi, jelas sekali bahwa industri pakaian tidak ada kaitannya dengan pemikiran yang modern atau sebaliknya. Hla kita ini membeli pakaian dengan pemaknaan yang diberikan iklan, desainer, dan media. Kode makna itu lantas digaungkan secara terus-menerus di media massa maupun media sosial.

Serat kain dan jahitan pada pakaian yang kita kenakan sesungguhnya tak bermakna apa pun. Kitalah yang memanusiakannya. Hal yang sama berlaku untuk pakaian-pakaian yang harganya mencapai jutaan hingga miliaran rupiah keluaran rumah mode eksklusif, sejatinya tidak punya makna yang membanggakan, kecuali justru penderitaan para pekerja dengan upah rendah di bisnis fashion multinasional. 

Inilah yang saya maksud dengan kebenaran personal, kebenaran yang saya tahu tentang industri fashion sehingga sia-sia sekali apabila saya menilai seseorang dari pakaiannnya.

Saya pribadi sangat menghargai kertas sebagai medium untuk belajar, khususnya belajar tentang diri sendiri sekaligus memetakan posisi saya di tengah-tengah dunia yang serbamembingungkan. Saya tak bisa membayangkan apabila yang saya konsumsi hanyalah potongan-potongan informasi di web, blog, atau media sosial (medsos). Alih-alih menemukan diri sendiri melalui kesadaran kritis, saya justru terombang-ambing dalam ‘ekstasi’ hidup yang penuh kesadaran palsu.

Itulah mengapa saya memilih buku dengan kertas sebagai medium sebagai teman perjalanan menjalani kehidupan dewasa. Dengan bekal buku saja saya masih sering terpeleset, apalagi kalau hidup saya hanya berbekal medsos.

Seorang teman saya yang bekerja sebagai redaktur di sebuah media online pernah bercerita tentang fenomena click bait yang sebenarnya dia benci, namun anehnya malah dicari, dan lucunya justru dicintai netizen

Clickbait ini, bagi saya, merupakan bentuk lain dari yellow journalism yakni jurnalisme sensasional, jurnalisme bersenang-senang yang tidak mengindahkan etika, dan yang paling memprihatinkan adalah produk jurnalisme yang tidak mengandung substansi sama sekali.

Lebaran adalah masa paceklik berita karena laporan semua wartawan biasanya terkait mudik, harga sembako, dan open house pejabat. Saat jenuh, teman saya itu kemudian menemukan berita dari media asing tentang Miyabi, mantan bintang film porno di Jepang. Merekonstruksi berita dari media asing itu, dia kemudian membuat berita sendiri yang berjudul Miyabi Mengucapkan Selamat Idul Fitri.

Yang terjadi selanjutnya adalah traffic berita melonjak drastis, melampaui berita tentang kecelakaan lalu lintas yang biasanya juga mendapat traffic tinggi. Dia pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perilaku warganet. Lantas apakah itu yang disebut perilaku modern?

Surat Kabar

Sekarang, saya mengajak Anda mengingat lagi surat kabar yang pernah sangat berjaya di masa lalu. Sama seperti buku, medium utama surat kabar adalah kertas. Jadi mudah bukan melihat posisi koran di era sekarang? Koran adalah barang yang kuno, bacaan orang tua, dan tidak ekonomis atau dengan kata lain mahal. 

Jadi kata orang modern, bodoh sekali apabila masih ada orang yang membeli koran sementara berita gratis ada di mana-mana. Cukup beli kuota, pasang aplikasi berita dan media sosial, semua beres. Anda bisa tahu apa pun yang terjadi di dunia secara real time.

Citra inilah yang menurut saya justru menjadikan kita sangat tidak beres. Di koran, jangan harap Anda menemukan berita semacam Miyabi Mengucapkan Selamat Idul Fitri, kecuali itu berita dengan space kecil di sudut-sudut halaman. Kenapa? Karena berita tentang Miyabi sebenarnya adalah berita yang sangatlah tidak penting. Jadi kalau tidak penting, ya jelas tidak punya manfaat sama sekali.

Koran dengan space kertas yang terbatas sangat mengutamakan informasi yang nilai beritanya tinggi. Yang dimaksud dengan nilai berita tinggi adalah berita tersebut sangat memengaruhi kehidupan masyarakat. 

Saya ambil contoh berita tentang transparansi anggaran pemerintah, pelayanan publik, kerukunan antarumat beragama, bantuan sosial, kebijakan ekspor-impor, dan berita-berita sejenis yang memicu daya kritis masyarakat. Bukan jenis berita yang yang dijual para politikus yang sekali lagi tanpa substansi-yang dikutip semena-mena dari Twitter mereka tanpa konfirmasi dan konteks lengkap-demi mengejar klik.

Readers choice sebagai basis media online bekerja sangat berbeda dibandingkan editor choice yang menjadi basis media cetak berkarya. Readers choice adalah pola pikir yang sangat mengikuti selera pasar dan selera media sosial yang kini menjadi ruang publik untuk bersenang-senang, bergembira, dan pelarian setelah penat bekerja. Jelas narasi panjang tidak laku di medium ini.

Narasi panjang hanya laku di media cetak, kalaupun ada di media online, hanya segelintir yang menggunakannya. Konsekuensi langkah berani (memasang narasi di portal online) tersebut bisa langsung dilihat di Alexa, perusahaan Amazon.com yang menyediakan data traffic web.

Pertama, durasi membaca artikel yang sangat pendek, tak sampai 1 menit. Kedua, tingkat kepentalan menyimak berita yang juga tinggi karena pembaca merasa bosan, tidak nyaman, dan yang paling jelas tentu sikap enggan berpikir.

Koran memang memiliki kelemahan mendasar yakni tingkat keterbacaan sebuah berita yang tidak bisa dihitung secara akurat. Namun, kelemahan tersebut di sisi lain juga membawa keuntungan bagi masyarakat karena konsep editor choice-lah yang diterapkan. 

Keuntungan lain adalah sebagian besar koran di Tanah Air telah terverifikasi Dewan Pers. Jadi kita mendapat jaminan tentang akurasi masing-masing berita. Medium kertas memang memaksa sistem pemberitaan menjadi sedemikian ketatnya dibandingkan medium online.

Lewat berita-berita dengan konteks lengkap, secara bertahap kita bisa menilai apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan ideologi media yang produknya kita nikmati. Bukan sebaliknya kita menjadi manusia nirsadar yang terlena dengan tulisan-tulisan click bait sensasional tanpa isi.

Perhatikan beberapa judul ini. Koleksi Tas Artis A, yang Ketiga Sungguh Mencengangkan; Ini yang Dipikirkan Pria Itu Saat Menikahi Gadis di Bawah Umur; Begini yang Dirasakan Sang Model Saat Didekati Bos Mobil Mewah; Prabowo Meninggal Ditabrak, Keluarga Berduka; atau Lima Ramuan Ini Bisa Bikin Anda Selalu Jantan, Pernah Jadi Orang Terkenal, Simak Kini Nasibnya. Nah, bagaimana kita bisa belajar mengenali diri sendiri lewat berita-berita semacam ini?

Saya sungguh setuju dengan pemikiran John Naisbitt bahwa orang yang menolak teknologi sama konyolnya dengan orang yang sangat bergantung pada teknologi. Tulisan ini bukan hendak mengajak kita untuk menjauhi media sosial dan Internet karena menjauhi sebuah kemajuan dan menolak keniscayaan, menurut saya, membuat kita seperti katak dalam tempurung.

Namun, terlalu terpaku pada teknologi, khususnya Internet, juga tidak baik. Berbelanja informasi di medsos, media online, dan blog-blog sampah yang bertebaran di Internet sebagai pengganti pengetahuan adalah cara instan yang menyesatkan. Tindakan nirpikir akan membuat kita melupakan kemanusiaan kita sebagai makhluk berotak dan berasa.

Kita butuh titik equilibrium agar bisa menjalani fitrah kemanusiaan secara benar, butuh sepi agar bisa menikmati keramaian, sedih agar tahu rasanya bahagia, berdialog dengan dengan diri sendiri agar tahu nikmatnya berdialog dengan orang lain, menangis agar tahu betapa bahagianya tertawa, peduli agar tahu bagaimana menyikapi maraknya arogansi, dan masih banyak lagi lainnya.

Buku menawarkan kebijaksanaan sebagai sebagai bekal menghadapi ruang-ruang gelap di dunia maya. Jadi, tidak seharusnya kita perlakukan lembar-lembar halamannya menjadi sekadar romansa dan nostalgia karena terpaku pada layar sentuh yang begitu merasuki hidup kita.