Situasi Israel/Palestina kian mencekam. Israel berada di posisi superior, sedang Palestina kian inferior. Alih-alih negara kawasan menormalisasi hubungan dengan Israel sembari menempatkan kesepakatan damai untuk Palestina, ternyata justru makin membuat Palestina kian terpojok dan sulit bergerak memerdekakan dirinya.

Pada 15 September lalu, UEA bersama Bahrain menandatangani kesepatakatan normalisasi dengan Israel. Peritiwa itu diwadahi oleh Amerika Serikat. Hasil dari kesepakatan itu terlihat dari pesawat Israel, yakni Pesawat El Al dengan nomer penerbangan Y971 yang diperbolehkan landing di Abu Dhabi.

Peristiwa bersejarah itu semakin menguatkan nilai historisitasnya dengan kata “Damai” yang dituliskan dalam tiga bahasa, yakni Arab, Inggris, dan Yahudi. Namun, bukankah semua itu, termasuk kata “Damai”, mengandung nilai politis? Kita patut mencurigai, bukankah kata “damai” itu hanya untuk kalangan tertentu saja?

Pesawat El Al berisi para delegatus dari negara-negara terkait, yakni Israel dan AS. Para penumpang pesawat itu antara lain menantu Donald Trump, Jared Kushner yang juga adalah penasehat senior Trump, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Ada lagi satu hal yang mengejutkan. Penerbangan pesawat El Al dari Tel Aviv menuju Abu Dhabi tentunya melintasi wilayah Arab Saudi. Ini menjadi sinyal bahwa situasi kedua negara itu sedang mencair. Bukan tidak mungkin bila suatu saat nanti Arab Saudi akan mengikuti langkah yang sama dengan UEA dan Bahrain (walaupun hingga saat ini Arab Saudi belum memberikan suaranya untuk normalisasi).

Penerbangan itu bukannya tanpa alasan. Penerbangan bersejarah itu berpangkal pada normalisasi hubungan. Tapi, tentu ada sesuatu yang hendak digapai oleh negara-negara tersebut.

Pertama, UEA adalah negara kaya baru. Mereka tentu membutuhkan bantuan negara lain yang lebih kuat kekuatan militernya. Tujuannya agar negara mereka aman. Lagian, UEA sedang tidak harmonis dengan Iran misalnya, yang punya kekuatan militer mumpuni di Timur Tengah.

Kedua, pilpres AS sudah berada di depan mata. Normalisasi yang sedang berjalan sekarang ini merupakan manuver politik dari Donald Trump yang ingin naik lagi dalam pilpres. Bukan tidak mungkin manuver-manuver ini mendongkrak elektabilitasnya untuk bersaing dengan Joe Biden.

Ketiga, dan ini yang menjadi masalahnya, adalah nasib Palestina. Kesepakatan yang dibuat dalam normalisasi itu adalah pembicaraan soal Palestina. UEA berharap agar normalisasi itu bisa membuat hati Israel melunak untuk kemudian membatalkan aneksasi di wilayah Palestina.

Apakah normalisasi itu akan berhasil dalam kaitannya dengan Palestina?

Belakangan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memberitahukan kepada publik bahwa kabar tentang aneksasi itu hanya sebatas pada status menunda (delay), bukan untuk membatalkannya (cancel). Itu artinya aneksasi akan tetap dilaksanakan walau entah kapan aneksasi itu akan dilaksanakan.

Tentu langkah-langkah negara-negara Arab ini adalah perjudian atas nasib Palestina. Nasib Palestina benar-benar bagai telur di ujung tanduk. Palestina begitu terpojok dengan normalisasi ini. Alih-alih memperoleh sedikit angin segar dari negara-negara Liga Arab yang berusaha melindungi Palestina, justru angin tersebut berubah menjadi racun ganas bagi Palestina.

Palestina berang dengan situasi ini. Perjuangan mereka terasa sia-sia. Harapan mereka seakan-akan pupus dengan normalisasi itu. Kelihatan bahwa negara-negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel hendak mencari aman untuk negara mereka sendiri. Ada keprihatinan tetapi cenderung egois.

Apa yang bisa dibuat?

Kemerdekaan merupakan kebutuhan terdesak rakyat Palestina. Gary M. Burge pada tahun 2002 silam, pernah menulis sebuah buku berjudul Whose Land, Whose Promise?. Buku tersebut berisi tentang situasi sebenarnya yang terjadi di Israel/Palestina. 

Ada begitu banyak kisah-kisah kelabu yang tidak diketahui banyak orang, tetapi berhasil diangkat oleh Burge: penindasan, penganiayaan, penghancuran pemukiman-pemukiman sampai pembunuhan yang dilakukan oleh orang Israel terhadap masyarakat Palestina yang terjadi hampir setiap harinya.

Hanya dengan kemerdekaan saja Palestina bisa keluar dari situasi mencekam ini. Kemerdekaan adalah hal mutlak bagi Palestina agar penindasa, penganiayaan, penjajahan dapat terselesaikan dan kelayakan hidup bisa tercapai. 

Untuk kemerdekaan itu, mereka membutuhkan suara internasional, karena kebanyakan negara Liga Arab telah berancang-ancang untuk normalisasi hubungan dengan Israel. Dalam hal ini, Palestina perlu meminta suara PBB. Dan PBB harus berani mengambil sikap tegas!

Ketegasan PBB sangat dibutuhkan. Bukankah sejak didirikan tahun 1945, PBB sudah memiliki komitmen kuat untuk pemeriliharaan perdamaian dan keamanan internasional, hubungan persaudaraan antar negara, mempromosikan pembangunan nasional, peningkatan standar kehidupan yang layak bagi bangsa-bangsa, dan HAM? (kemlu.go.id)

Kendati demikian, Palestina harus menunggu nasib baik itu datang sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sepanjang hayat hanyalah cerita tentang kepahitan dari penderitaan di bawah kaki Israel yang kini ditambah dengan kaki-kaki negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel. Entah kapan akan berakhir, kita berharap Palestina segera merdeka.