Sivitas akademika bertanggungjawab penuh dalam usaha peningkatkan kualitas lingkungan hidup. Baik di lingkungannya ataupun di masyarakat. Kampus sebagai agen perubahan dan penggerak kehidupan ilmiah harus mampu memberikan solusi atas isu-isu lingkungan hidup yang sedang berkembang. 

Sebagaimana hal tersebut telah diamanatkan di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa dituntut untuk selalu cerdas dan kritis terhadap penemuan ataupun ide-ide yang mendukung terciptanya spirit ekokampus atau green campus.

Ekokampus adalah sebuah konsep solutif tentang pengelolaan lingkungan hidup di area kampus yang melibatkan semua elemen sivitas akademika. Adapun bentuknya bervariasi sesuai dengan inovasi dan ciri khas masing-masing kampus. 

Program ekokampus atau green campus bersifat sukarela. Artinya sudah saatnya didukung dan digarap serius dan penuh tanggungjawab moral. Spirit ekokampus akan terlihat efektif jika dimunculkan dalam bentuk kesadaran tinggi pada tiap-tiap individu. 

Kemudian bisa diharapkan untuk berkembang meluas menjadi kesadaran kolektif dalam mendukung semua program pelestarian lingkungan hidup. Salah satu wujud spirit ekokampus paling sederhana serta dapat dipraktekkan secara langsung perindividu adalah penghematan penggunaan kertas. 

Tak dapat disangkal bahwa kehidupan mahasiswa sangat bergantung dengan kebutuhan penggunaan kertas. Dan telah mafhum serta sahih bahwa kertas adalah barang yang cukup sulit tergantikan peranannya walaupun teknologi sudah maju. Kertas menjadi sebuah kebutuhan krusial yang menempati daftar kebutuhan makhluk sosial. 

Semua lini dan bidang kehidupaan hampir memerlukan barang yang bernama kertas ini. Mulai dari pendidikan, perkantoran, perdagangan, keagamaan, dunia hiburan hingga seni semuanya memerlukan kertas. Untuk dunia pendidikan baik siswa, mahasiswa atau bahkan pengajarnya memerlukan kertas dalam jumlah yang tak sedikit. 

Adalah hal yang sangat tidak mungkin jika sama sekali tanpa atau tidak memerlukan kertas. Untuk itu perlu solusi inovatif sebagai penyeimbang dua kutub tersebut. Baik secara konvensional, taktikal ataupun teatrikal. Hingga tidak ada lagi sejumlah besar kertas terbuang sia-sia. 

Inovasi pengurangan penggunaan kertas salah satunya sudah dilakukan oleh Universitas Terbuka. Sebuah universitas berbasis pengajaran jarak jauh ini cukup cerdas dalam inovasi penghematan penggunaan kertas. Bentuknya berupa tugas akhir yang berjenis nonskripsi atau disebut dengan Tugas Akhir Program (TAP). 

Pengganti skripsi hemat kertas ini diberlakukan bagi mahasiswa program sarjana yang sudah memenuhi persyaratan baik administrasi maupun akademik sebagai salah satu syarat kelulusan dengan nilai TAP minimal C. TAP tidak menghabiskan kertas dalam jumlah besar. 

Jika dibandingkan dengan skripsi yang boros dengan rata-rata pemakaian ratusan lebih halaman. TAP pada Universitas Terbuka hanya memerlukan beberapa lembar kertas saja. Faktor utama yang membuat hemat kertas pada TAP Universitas Terbuka adalah jenis tugasnya berbentuk soal sederhana dengan jawaban uraian singkat padat. 

TAP Universitas Terbuka adalah nonskripsi yang tidak memerlukan waktu berbulan-bulan dalam pengerjaanya. Cukup terjadwal beberapa hari saja sudah bisa dirampungkan. Lain halnya dengan skripsi yang berdurasi panjang. Skripsi ditulis setelah melalui kegiatan penelitian mendalam. 

Kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan formal analitis dan sistemik. Hingga menghasilkan jilidan kertas yang tebal. Dalam artian untuk membukukannya diperlukan jumlah kertas yang tak sedikit. 

Pada TAP Universitas Terbuka bimbingan cukup dilakukan dengan kombinasi komunikasi lisan, via daring serta beberapa catatan di lembar kertas secukupnya. Di sisi lain skripsi harus melewati jalan panjang berliku. Skripsi biasa diawali dengan lembar-lembar kertas rapi saat pertama kali melakukan pengajuan judul ataupun proposal. 

Kemudian kertas rapi tersebut berakhir dengan coretan-coretan revisi. Belum lagi pengerjaan dengan aturan-aturan yang mempengaruhi penggunaan kertas. Semisal aturan spasi renggang, batas margin, serta pengetikan yang tidak boleh bolak-balik. Ditambahan lagi dengan berlembar-lembar kertas lampiran. 

Selanjutnya mahasiswa datang membawa segebok kertas proposal penelitian untuk kemudian siap untuk diperiksa. Maka dengan tenangnya alat tulis sang dosen menggores kertas kesana-kemari sebagai bentuk visual sebuah revisi. Yang artinya pula perlu kertas baru lagi untuk kunjungan revisi berikutnya. 

Bukan hanya dua tiga kali bahkan bisa lebih dalam sebuah proses pemborosan kertas yang berulang-ulang. Sudah berapa lembar kertas yang terbuang. Tentunya pula untuk setiap kali perbaikan akan selalu ada menambah jumlah halaman kertas. 

Maka jelas terlihat di sini telah terjadi sebuah aksi pemborosan kertas yang sistematik dalam jangka waktu yang panjang. Angka besar mengerikan jika dikalikan dengan total mahasiswa yang sedang melakukan skripsi. Faktor revisi merupakan penyumbang pemborosan kertas yang cukup signifikan. 

Mahasiswa dipaksa untuk mencetak berulang kali hingga bisa dianggap memenuhi kriteria. Pada TAP Universitas Terbuka tidak ada proses panjang seperti itu. Nonskripsi yang diberlakukan di Universitas Terbuka berbentuk soal yang menghendaki jawaban uraian yang singkat padat. 

Soal-soal TAP dikemas dalam bentuk kasus pembelajaran kegiatan pengembangan serta dilengkapi dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan berupa kerangka masalah. Adapun sifat ujiannya juga tidak menghendaki revisi yang berulang-ulang menghabiskan kertas. Karena pada TAP selain ada sesi tutup buku ada juga sesi buka buku. 

Pada sesi buka buku kesalahan jawaban yang tak perlu terjadi bisa dihindari. Sehingga tidak buang-buang kertas untuk revisi seperti yang terjadi pada skripsi. Sejenak kembali mengingatkan dan menyegarkan kesadaran kita tentang kertas yang terbuat dari bubur kertas. Sedang bahan pembuat bubur kertas berasal dari batang pohon.

Kemudian kita tarik kesadaran ini ke dalam inovasi yang bernama jalur nonskripsi. Maka di situ terlihat kesungguhan dan keseriusan kita dalam mengurangi konsumsi penggunan kertas. Dengan menghemat pemakaian kertas maka secara otomatis telah memberikan alasan bagi pohon untuk tidak ditebang. 

Hingga fungsi ekologis hutan dapat dipertahankan. Hal terlihat paradoks ketika terjadi konsumsi kertas besar-besaran di lingkungan yang katanya mempunyai spirit ekokampus. Nyatanya yang terjadi adalah menggilanya pemakaian kertas. 

Adalah sebuah paradoks ketika kita mampu berteriak lantang kepada perambah hutan, sementara di sini masih membuang-buang kertas dalam jumlah besar.Selain Universitas Terbuka ada beberapa universitas yang mulai atau bahkan sudah melaksanakan model nonskripsi yang tentunya mendukung usaha menghemat pemakaian kertas. 

Seperti Universitas Indonesia dengan sistem magangnya untuk mengganti jalur skripsi dan UPI dengan sistim penempuhan tiga mata kuliah tambahan yang berbeda dari perkuliahan yang telah diambil sebagai pengganti jalur skripsi. 

Inovasi jalur non skripsi tersebut memberikan peluang meningkatnya daya kreasi mahasiswa yang selama ini hanya terpaku pada pola skripsi yang tradisionalis. Perlu ditegaskan kembali bahwa skripsi itu hanya salah satu bentuk dari tugas akhir. 

Banyak pilihan lain seperti membuat karya film dokumenter atau pembuatan artikel ilmiah yang lebih simpel dan menghemat penggunaan kertas. Perlu diketahui juga bahwa skripsi sudah tidak lagi dijadikan sebagai syarat satu-satunya penentu kelulusan.

Hal itu sesuai dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah RI No. 60 Tahun 1999 Tentang Pendidikan Tinggi pasal 16 ayat (1), yang berbunyi “Ujian akhir suatu program studi, suatu program sarjana dapat terdiri atas ujian komprehensif atau ujian karya tulis, atau ujian skripsi.” 

Artinya memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk memilih jalur skripsi atau nonskripsi. Jadi dengan kata lain jalur skripsi itu bukan sesuatu yang wajib. Masih ada jalur lain yang bisa ditempuh. Ini kesempatan emas untuk mewujudkan spirit ekokampus dalam bentuk praktek langsung usaha pelestarian lingkungan hidup dengan menghemat pemakaian kertas.