…mesin diperkosa biar optimal, sementara nilai Oktan Pertalite, relatif rendah.

Produk Inovatif Peningkat Kinerja Pertalite

Memperoleh bensin berkualitas Pertalite jadi agak repot karena antri baik pada saat hendak mengisinya ke dalam tangki kendaraan bermotor, maupun ketika mengunduh aplikasi mypertamina

Belum nanti kudu menyalakan piranti elektronik penebar sinyal foton bergelombang tinggi, agar aplikasi itu bisa digunakan, di area yang rawan kebakaran?

Tenang, ada Revvo89. Suatu nama produk olahan bensin dengan nilai Oktan 89 tapi kualitas setara Pertamax 92. Satu liter harga bensin harganya berkisar Rp. 12-an ribu, fluktuatif mengikuti harga minyak dunia.

Bensin yang memiliki nilai Oktan 89 tersebut, tersedia di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum, SPBU, bernama Vivo. Sebuah SPBU yang menyediakan bahan bakar minyak yang berkualitas dengan sentuhan sains dan teknologi Jerman.

Pertalite jika diperuntukkan sebagai energi pendorong kendaraan bermotor, sebenarnya justru boros. Soalnya, mesin diperkosa biar optimal, sementara nilai Oktan Pertalite, relatif rendah.

Tapi apabila bensin Pertalite dalam tangki kendaraan bermotor ditambah ‘vitamin’ dalam bentuk pil ajaib ECO Racing buatan anak-anak muda Institut Teknologi Bandung, ITB, maka boleh juga kok tarikan laju kendaraan bermotornya meski menggunakan bensin kualitas Pertalite.



…bahwa pengelolaan riset dan pengembangan menjadi pokok kinerja paling penting dari sebuah PTNBH…

Keren yang Sebenarnya dari Status Berbadan Hukum

Produk inovatif seperti ECO Racing kreasi anak bangsa  ini, menjadi potret sebuah institusi perguruan tinggi negeri, PTN, yang telah siap menyandang predikat berbadan hukum, Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum, PTNBH.

ECO Racing satu produk inovatif dalam lingkup peningkat kinerja bensin karya anak negeri sebagai buah proses belajar dan mengajar yang disertai kegiatan riset dan pengembangan yang sistematis dan mandiri.

Terdapat perpaduan antara proses belajar mengajar, sistem administrasi, serta pengelolaan riset dan pengembangan, yang memacu baik mahasiswa maupun pengajar untuk berlomba-lomba menerapkan ilmu pengetahuan, yang ditebar lalu diserap, kemudian dikembangkan menjadi karya-karya inovatif, yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Riset Pengembangan dan Produk Inovatif, menjadi poin kunci bagi perguruan tinggi negeri yang menyandang predikat berbadan hukum.

Artinya, pengelolaan modal, kapital, baik Capex maupun Opex, menjadi tersangga oleh tak hanya kegiatan belajar dan mengajar semata. Namun juga karya-karya nyata, sebagai hasil mengembara ilmu pengetahuan, yang jelas-jelas dibutuhkan oleh masyarakat luas sebagai salah satu pemangku kepentingan, stakeholder, bagi PTNBH tersebut.

Bukan lantas sudah terlanjur memperoleh predikat sebagai PTNBH, lalu PTN itu lalu mengandalkan pemasukan dari mahasiswa ataupun mahasiswi baru, melalui jalur Mandiri semata.

Ingat ya, orang tua calon mahasiswa pun mahasiswi itu juga bagian dari stakeholder PTN, so please don’t disappoint them.

Jadi, dalam menyadari bahwa pengelolaan riset dan pengembangan menjadi pokok kinerja paling penting dari sebuah PTNBH, maka ITB bisa menjadi salah satu PTN yang bisa menjadi studi banding, benchmark.

Pengelola PTN-PTN lain se-Indonesia Raya tak perlu malu-malu untuk belajar, ngangsu kaweruh, menimba pengalaman dan pengetahuan sama ITB, perihal bagaimana mengelola suatu PTNBH yang efektif, sambil mengembangkan inspirasi yang bakal terpetik.

Nggak usah terlalu bangga sama pemeringkatan versi lembaga-lembaga independen nasional ataupun internasional, terus disebar-sebar via sosmed buat membangga-banggakan almamater. Padahal pemeringkatan yang demikian, bukanlah pengakuan yang sebenarnya, karena poin-poin penilaiannya yang serba relatif.

Menjadi PTNBH yang memenuhi harapan stakeholder, khususnya kebermanfaatan bagi masyarakat luas dengan produk-produk inovatif yang dibutuhkan, itu lebih utama dan itu menjadi satu kata pengakuan, yaitu; Keren.



…kemajuan sains dan teknologi suatu bangsa, seiring dengan sejarah perkembangan perguruan-perguruan tinggi pelopornya...

Tiga Pelopor Pendidikan Tinggi di Indonesia

Ciri-ciri perguruan tinggi yang dibentuk pada masa orde baru, yaitu perguruan-perguruan tinggi yang berdiri setelah tahun 1968, selain namanya sama dengan kebanyakan nama teritori angkatan perang, yakni Komando Daerah Militer, Kodam, di setiap propinsi, maka perguruan tinggi tersebut juga memiliki fakultas pertanian.

Adapun dilingkup ilmu-ilmu dasar, yakni matematika dan ilmu pengetahuan alam, bahkan hingga 20-an tahun kemudian baru ditetapkan menjadi program dan program studi, kemudian dalam perjalanannya beberapa tahun kemudian, baru menjadi fakultas.

Semacam semangat belajar teknologi terapan terlebih dahulu, baru kemudian mengupas aspek sains.

Kayak nenek moyang orang Indonesia tempo dulu, mengetahui, memahami dan terampil dalam membuat tape, juga tempe. Baru mengerti bahwa pembuatan tape dan tempe itu melalui proses fermentasi, sekian ratus tahun kemudian.

Menarik untuk menelaah kemajuan sains dan teknologi suatu bangsa, seiring dengan sejarah perkembangan perguruan-perguruan tinggi pelopornya.

Untuk Indonesia, maka biang proses belajar mengajar format perguruan tinggi itu jelas, Universitas Indonesia (UI), yang lalu berkembang menjadi ITB, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Adapun tiga besar pelopor pendidikan tinggi adalah ketiga saudara kandung perguruan tinggi negeri, yaitu; UI, ITB, IPB, yang ketiganya sudah terbentuk jauh-jauh hari sebelum Indonesia menjadi negara yang diakui memiliki kedaulatan, oleh dunia.

Suatu universitas, memiliki ciri kaya akan fakultas sebagai penampung minat pembelajaran yang tak hanya sains namun juga non sains. Sementara, Institut lebih bersifat wadah yang khusus memberi kesempatan pembelajaran dalam lingkup tertentu saja yang diakomodir, apakah Teknik, Pertanian ataupun Keguruan.

Sudah barang tentu, ketiga PTN pelopor di Indonesia tersebut telah memiliki fakultas sains yang berdiri terdahulu dibanding fakultas-fakultas lain, sejalan dengan konsep perguruan tinggi yang terpengaruh oleh bangsa yang berkoloni waktu itu, Belanda.

Keberadaan sarana berjalannya proses belajar dan mengajar dilingkup sains pada ketiga perguruan tinggi tersebut, yang mendahului fakultas-fakultas lainnya, mewakili cara berpikir bangsa Eropa yang mengutamakan telaahan ilmu-ilmu dasar, sains, sebelum mengkreasi suatu teknologi terapan.



…menafikan fakta bahwa dalam hal ranah Riset, Pengembangan dan Konsultasi, maka ada tiga nama besar…

Ego Almamater Melunturkan Semangat Studi Banding

Dalam perjalanannya, pasca kemerdekaan, perguruan-perguruan tinggi di Indonesia cenderung lebih memilih untuk menentukan pola belajar dan mengajar yang spesifik, kebijakan tersendiri, termasuk mengakomodir kebijakan politis di wilayahnya  berada.

Termasuk pula, dalam perkembangannya, perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang lahir belakangan dari UI, ITB dan IPB, cenderung malu-malu kucing untuk melakukan studi banding pada ketiga pelopor perguruan tinggi tersebut, yang dalam catatan sejarah memang patut diakui telah menginspirasi dunia pendidikan bagi bangsa Indonesia, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan.

Suatu kecenderungan yang menunjukkan ego yang keluar dari konteks akan makna semangat menumbuhkan kapabilitas Riset, Pengembangan dan Konsultasi.

Ego yang sejatinya menafikan fakta bahwa dalam hal ranah Riset, Pengembangan dan Konsultasi, maka ada tiga nama besar pelopor pendidikan tinggi Indonesia, yakni UI, ITB, IPB, sebagai tempat melakukan studi banding, menggali inspirasi.

Padahal, proses pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia dengan adanya konsep PTNBH mengarah ke hal-hal yang bersifat pengelolaan pengetahuan, berbagi dan menumbuhkan inspirasi bagi kemajuan bangsa.



…bibit padi yang tak tergantung hanya pada kualitas komposisi kimia tertentu dalam suatu produk pupuk…

Perguruan Tinggi dan Ranah Penelitian Pengembangan

Apabila dalam bahasan awal dari ITB telah menginovasi ECO Racing yang bisa menjadi alternatif pilihan meraih solusi guna meningkatkan performa kualitas bensin Pertalite, maka dalam hal pemersiapan ketahanan pangan nasional, harapan pun jatuh pada IPB guna menginspirasi riset dan pengembangan produk pertanian.

Misal, riset untuk mengantisipasi gagal panen padi, yang konon kabarnya saat ini terdapat ketergantungan akan suatu jenis pupuk, karena kualitas bibit padi yang beredar saat ini, hanya dapat tumbuh apabila menggunakan pupuk, yang selalu dibuat langka dan mahal bagi petani.

Riset dan pengembangan akan bibit padi yang tak tergantung hanya pada kualitas komposisi kimia tertentu dalam suatu produk pupuk, menjadi kunci yang sangat diharapkan agar ketersediaan pangan bisa bertahan di bumi Ibu Pertiwi.

Menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga perguruan tinggi dalam menginovasi kualitas bibit padi, agar kelak tetap menghampar luas di sawah, menopang ketahanan pangan nasional.

Dan itu, menjadi ranah perguruan tinggi yang tak hanya menjalankan proses belajar mengajar pendidikan tinggi, namun juga sebagai lembaga riset dan pengembangan teknologi.

Kelak, balai-balai penelitian yang saat ini kinerjanya di bawah pengelolaan setiap kementerian yang terkait, bisa dipertimbangkan untuk dilimpahkan, dialihkan kewenangan pengelolaan litbang, penelitian dan pengembangannya, kepada perguruan-perguruan tinggi.

Mengapa demikian?

Karena, perguruan tinggi memiliki sarana dan prasarana penunjang berjalannya proses pengelolaan pengetahuan, yang diperkaya oleh para pelaku proses tersebut yang masih memiliki integritas dan murni, sebagai sumber gagasan melakukan riset-riset inovasi.