Manusia adalah makhluk sosial, yang berarti bahwa selama manusia hidup di dunia dalam menjalankan segala kegiatan dan aktivitasnya pasti berinteraksi dengan manusia lain.

Tidak ada manusia di bumi ini yang mampu hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Bahkan, tokoh selevel Superman saja, kalau ditantang untuk hidup tanpa berinteraksi dengan yang lainnya, pasti ia akan menolaknya. 

Hal ini dikarenakan eksistensi serta fungsionalitas blio berpijak dari adanya proses interaksi juga, yaitu dengan berinteraksi sosial dengan para musuh-musuhnya, meskipun sifatnya negatif. Bagaimana jadinya kalau ia hidup tanpa bersosialiasi? bakal jadi pengangguran dong.

Salah satu bentuk interaksi yang sering dilakukan orang-orang, terkhusus anak muda di zaman sekarang adalah nongkrong. Iya, nongkrong. Bukan nongkrong yang bermakna "berjongkok", tetapi kegiatan kumpul-kumpul dengan orang lain, dan biasanya diiringi dengan aktivitas lainnya.

Bagi anak muda di era sekarang, kegiatan nongkrong bukan hanya dijadikan kegiatan seremonial saja, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Apalagi dielaborasikannya secangkir kopi, diiringi musik band-band indie, dan tempat yang estetik, bisa djadikan konten-konten edgy untuk menghiasi sosial media.

Stigma Negatif tentang Aktivitas Nongkrong

Pada beberapa kesempatan, saya sering mendengar anggapan-anggapan negatif yang menyatakan bahwa nongkrong itu adalah kegiatan yang negatif, karena hanya membuang-buang waktu dan uang secara percuma.

Anggapan membuang-buang waktu dilandasi karena obrolan di dalam tongkrongan sering berisi omongan-omongan yang tidak berfaedah dan terkadang hanya digunakan sebagai ajang untuk gibah atau menceritkan orang lain. Tidak hanya itu, anggapan lainnya adalah kegiatan yang dilakukan dalam tongkrongan adalah berkumpul hanya untuk bermain gim saja.

Dalih dalam perihal membuang-buang uang dikarenakan kerap kali ketika nongkrong harus ada biaya yang harus dikeluarkan, apalagi nongkrongnya di tempat yang tergolong elite. Belum lagi cost untuk transportasi, berupa biaya untuk bahan bakar dan biaya tak terduga lainnya.

Timbulnya stigma negatif dari orang-orang yang beranggapan bahwa nongkrong itu tidak berguna bisa jadi disebabkan oleh pembiasaan yang melihat suatu hal dari satu sudut pandang saja. Mungkin ketika orang tersebut  nongkrong, yang dilakukannya bersama teman-teman tongkrongannya adalah hal-hal yang yang memang dirasa kurang bermanfaat, dan hanya membuang-buang waktu, seperti gibah, menceritakan keburukan-keburukan orang lain, atau obrolan-obrolan yang dirasa tidak memiliki manfaat.

Oleh karena itu, ketika mereka bercerita seperti apa nongkrong itu. Jawaban mereka hanya berisikan pengalaman-pengalaman yang dirasa tidak berguna, hanya membuang-buang waktu dan uang.

Orang-orang tersebut melupakan, bahwa ada sisi lain dari nongkrong yang bersifat positif. Oleh karena itu saya ingin membahas dan mengulas kegiatan yang positif yang bisa dilakukan serta memiliki manfaat baik yang diperoleh ketika nongkrong.

Hal-Hal Positif Yang Bisa Dilakukan Ketika Nongkrong

Nongkrong pada hakikatnya adalah aktivitas kumpul secara bersama-sama dengan orang lain, diisikan dengan kegiatan ngobrol atau bercakap-cakap dengan orang lain. Dengan adanya proses interaksi, maka nantinya terjadi kegiatan untuk saling bertukar informasi. Dengan begitu, kegiatan nongkrong bisa digunakan sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperkaya sudut pandang tentang suatu hal.

Berbagai macam informasi bisa diperoleh di dalam tongkrongan. Mulai dari informasi dunia perpolitikan, agama, sosial, budaya, dan masih banyak lagi hal lain yang bisa diperoleh.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pemahaman serta informasi yang saya peroleh ketika nongkrong bersama teman-teman satu almamter atau dari lintas almamater, yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda-beda.

Saya beranggapan, bahwa tongkrongan itu adalah platform Wikipedia yang bisa diajak ngobrol, karena semua informasi tersedia disitu. Tergantung dengan siapa yang diajak untuk ngobrol, serta ilmu pengetahuan apa yang dikuasinya.

Selanjutnya tongkrongan bisa berfungsi sebagai ruang untuk bertukar dan beradu ide gagasan. Sering saya lihat bahwa pemikiran-pemikiran liar dan luar biasa dihasilkan di meja tongkrongan.

Mungkin juga, ketika dahulu para founding father kita dalam menghasilkan gagasan-gagasan untuk membangun bangsa ini, awal mulanya diperoleh ketika mereka melakukan diskusi-diskusi di meja tongkrongan---meskipun di saat itu sepertinya belum dikenal istilah "nongkrong".

Adanya kegiatan bertukar atau beradu gagasan ini saya rasakan ketika seringnya saya nongkrong bersama teman-teman satu organisasi saya di kampus, untuk membahas suatu isu yang terjadi atau membahas hal-hal yang berkaitan dengan program kerja serta kebijakan yang akan dilakukan di dalam organisasi tersebut.

Banyak gagasan yang sering tersampaikan ketika kami berada di tongkorngan, yang mana menurut saya gagasan yang mereka sampaikan cukup luar biasa dan yang sering kali gagasan yang dikemukakan, saya tidak kepikiran untuk memikirkan gagasan-gagasan tersebut.

Hal ini tentunya berimplikasi baik kepada roda organisasi yang kami jalankan berjalan dengan baik, karena tidak pernah kehabisan ide dan gagasan. Ada saja pembaruan ide gagasan yang berguna dalam menentukan sebuah kebijakan dalam menjalankan roda organisasi.

Tidak hanya itu, nongkrong bisa digunakan sebagai curhat dan meminta pendapat terkait dengan penyelesaian berbagai problematika hidup. Permasalahan seperti percintaan, keuangan, perkuliahan, dan masalah-masalah lainnya yang penyelesaiannya bisa diperoleh dari petuah dan saran-saran yang disampaikan oleh teman di meja tongkrongan.

Hal demikian bisa terjadi karena setiap manusia itu unik, dan mempunyai pengalaman masing-masing. Siapa tahu, mungkin lawan bicara kita di tongkrongan pernah merasakan masalah yang sama, atau pengalaman-pengalaman yang bisa dibagikan, sehingga diperoleh jalan keluar dari suatu permasalahan yang dihadapi.

Saya sendiri juga sering curhat ke teman-teman saya terkait dengan masalah yang sedang saya hadapi, ketika sedang nongkrong.

Nasihat dan saran dari mereka, serta kesediaan mereka untuk membantu untuk menyelsaikan masalah saya, berimbas pada terselesaikannya masalah-masalah yang saya hadapi.

Mengganti Kegiatan yang Dirasa Kurang Bermanfaat

Dalam mengatasi hal yang terkadang dirasa negatif dan sia-sia untuk dilakukan ketika nongkrong, sebenarnya bisa diatasi. Perihal buang-buang waktu bisa diatasi dengan mengubah materi obrolan yang biasanya hanya ghibahin teman, menjadi materi obrolan yang bermanfaat, dan bisa membatasi kuantitas serta frekuensi waktu untuk pergi nongkrong.

Komunikasi terhadap teman tongkrongan juga perlu ditingkatkan. Saya rasa perlu dibuat semacam kesepakatan, baik secara eksplisit maupin implisit oleh teman-teman nongkrong kita terkait dengan kegiatan serta pembahasan apa yang dilakukan.

Terkait adanya biaya yang dikeluarkan, kembali kepada diri kita masing-masing. Preferensi menu makanan dan minuman yang dipesan ketika nongkrong, bisa diakali dengan memesan menu yang sesuai dengan kesanggupan finansial kita.

Dengan demikian bisa dikatakan, bahwa sebenarnya nongkrong itu bukanlah berisi kegiatan-kegiatan yang negatif melulu. Ada juga sisi positif dan manfaat yang diperoleh. Salam tongkrongan~