Kirana ♈ Azalea
1 bulan lalu · 127 view · 5 min baca · Perempuan 26717_51596.jpg

Nong Darol Mahmada Panutan yang Pantas

Berkali-kali kajian keilmuan dibuldoser dengan pandangan tertentu. Para pelaku buldoser itu berlaku seolah-olah Mûsâ bin Amram menghujat Firaun [فرعون atau Pharaoh] era Mûsâ (Ramesses II?). 

Meskipun mereka belum tentu seperti Mûsâ, dan yang dihujat belum tentu seperti Firaun., tentu dengan menggunakan cara semacam ini sulit untuk menciptakan keharmonisan lingkungan.

Biasanya para pelaku buldoser ini adalah manusia yang memiliki sikap fanatik terhadap pandangan sempit, sehingga manusia yang berbeda—apalagi berlawanan—dengan pandangannya disebut dengan ungkapan tak mengenakkan perasaan. 

Sering kali manusia seperti itu begitu membenci mereka yang disebut dengan ungkapan perisak ruang rasa. Tak jarang kebencian dilampiaskan dengan tindakan merusak. Rasa sama sebagai manusia telah luntur tergusur oleh lekatnya pandangan yang terlalu diyakini kebenarannya.

Nong Darol Mahmada telah banyak mengalami sendiri rasanya mendapat perlakukan oleh para pelaku buldoser itu. Wanita yang lahir pada 23 Maret 1975 ini juga telanjur akrab dengan berbagai fitnah yang dialamatkan pada dirinya selalu. 

Setahu saya dan menurut pengakuan wanita yang biasa saya sapa Mbak Nong, dirinya adalah pemeluk Islām [الإسلام‎‎], walakin seberapa besar kadar ke-Islām -an Mbak Nong, saya tidak tahu menahu dan tidak perlu mencari tahu.

Dalam kitab mulia Alquran [القرآن الكريم] dituturkan:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ ۞ [القرآن الكريم سورة البقرة : ٢٠٨]


Mbak Nong tentu memiliki penafsiran tersendiri tentang kata كَافَّةً, yang mungkin memiliki banyak penafsiran.

Mbak Nong termasuk sosok yang menarik perhatian banyak kalangan, antara lain melalui catatan yang diterbitkan olehnya. Beberapa catatannya memantik semangat catatan lain untuk menanggapi guna memberi dukungan dan tolakan dengan cara yang sama dalam beragam bentuk yang tersedia. 

Sebagian lainnya menggunakan cara kejam dalam menanggapi, seperti berungkap semaunya dan bersikap tanpa memiliki rasa sama terhadap sesama manusia.

Bila menyempatkan waktu untuk sejenak membaca kemudian menelaahnya, catatan Mbak Nong memang tak terlampau megah dalam hal pembaruan gagasan. Namun melalui catatan yang ditampilkan, dapat dilihat keterkaitan pengalaman personal dan pergaulan sosial dengan wawasan keilmuan. 

Catatan Mbak Nong banyak memuat cupilkan kajian lintas ruang dan waktu, menampakkan perjalanan gagasan sejak zaman kekunoan hingga kekinian.

Membaca catatan Mbak Nong seakan berhadapan dengan sebuah peta yang disusun mengagumkan. Walau tak selalu sepakat dengan cuplikan yang dimuat, khazanah keilmuan yang dia lumat ditunjukkan. 

Melalui lumatannya, Mbak Nong berupaya mengaitkan dengan pengalamannya sendiri maupun pergaulan yang dihadapi. Dari sini dia mulai berunjuk gagasan untuk ikut serta membangun lingkungan dengan penuh yakin diri.

Dengan demikian, tampak jelas perjalanan gagasan tidak seperti terpenggal dan sebuah kajian tak lepas dari lingkungan sosial dan pengalaman personal. Pada aspek cara inilah Mbak Nong amat menawan dan sangat istimewa buat saya. 

Penuturan berisi dan tertata rapi disertai keterkaitan dengan kecenderungan keadaan yang ada menjadi cara kesukaan saya ketika membuat catatan. Itu tak lepas dari pengaruh Mbak Nong, pengaruh yang dengan gembira saya emong.

Mbak Nong tanpa sengaja telah mengajarkan pada saya mengenai ijtihād [اجتهاد‎‎], yang buat saya merupakan upaya untuk mempertahankan kaitan antara landasan agama dengan pergaulan sosial dan perjalanan personal. Upaya tersebut membuat ruang ijtihād terbuka menganga untuk semua orang, dipandang high intellectual maupun low intellectual, dianggap sebagai sosok picisan maupun sosok fenomenal.

Mengenai hasil ijtihād, tinggal diserahkan pada lingkungan. Kalau hasil ijtihād tersebut dipandang berguna untuk ruang rasa tanpa merisak ruang rasa manusia lainnya, tak masalah ijtihād tersebut mendapatkan penerimaan. 

Kalau tak dianggap demikian, cukup diabaikan saja, sehingga tanpa perlu bertindak kejam, ijtihād yang diabaikan akan mangkrak tak mengalami perkembangan. Di sinilah tampak penting terjadi sebuah perjumpaan maupun perbincangan.

Lebih lanjut, cara yang ditunjukkan Mbak Nong dalam menafsirkan Alquran membuat pembedaan pendekatan aqliyyah [عقلية] dan naqliyyah [نقلية] tampak sirna buat saya. 


Pendekatan naqliyyah biasa memaknai teks dengan merujuk sumber-sumber tekstual dalam mengambil kesimpulan. Namun dalam praktiknya, dalam proses pengambilan kesimpulan tersebut, kemampuan akal juga berpadu persama. 

Ketika teks Alquran dibaca, tentu akal ikut serta nego dengannya, membentuk ruang tersendiri ketika akal menyediakan cakupan dan teks Alquran memberikan batasan. Untuk apa saling dipertentangkan?

Pengaruh Mbak Nong yang paling megah buat saya ialah dalam memandang sebuah persoalan perlu ditilik dari beberapa sisi, paling tidak dari dua sisi yang saling dipertentangkan. 

Misalnya dalam persoalan `Ādam ketika memetikkan buah terlarang untuk menuruti kemauan Hawa. Sebagian kalangan girang betul menyebut Hawa adalah biang keladi terusirnya manusia dari Surga dan terdampar di planet Bumi hingga perbuatan tersebut dianggap sebagai kesalahan. Namun tanpa kemauan Hawa itu, tujuan awal penciptaan manusia sebagai khalīfah di Bumi bisa jadi tak akan terlaksana.

Tanpa ada perbuatan tersebut, mungkin Hawa dan `Ādam selamanya menjadi penghuni surga. Barangkali pula ungkapan bahwa “wanita tak pernah salah” ada tepatnya, karena dari peristiwa Hawa bisa dilihat kesalahannya pun memiliki kebenaran. 

Pula menunjukkan bahwa sejak awal pria memiliki sisi lemah terhadap wanita. Tak dimungkiri wanita sanggup membuat pria merangkak di hadapannya untuk memohon kasih sayang dengan penuh rasa sumringah, selantang apa pun pandangan rendah terhadap wanita digaungkan.

Dengan atau tanpa sadar, pada titik ini pria justru berlaku lebih rendah di hapan wanita. Tak salah kalau salah satu bagian tubuh wanita diberi nama dengan mencuplik asmā’ Allāh al-ḥusnā, ialah Raḥīm [رحيم]. 

Dengan atau tanpa sadar pula, pada titik ini Mbak Nong dengan gagah meluruhkan pengaruh pada saya. Pengaruh untuk tak lelah menebarkan sifat raḥīm, melawan perbuatan zalim.

Mungkin Mbak Nong tak semenawan Aspasia dalam berjuang bersama Periklēs membangung lingkungan. Barangkali Mbak Nong tak segagah ‘Ā’isha [عائشة‎‎] dalam menggerakkan kerumunan. 

Bolehlah Mbak Nong tak sepenting Ḥafṣah [حفصة] dalam berperan menyusun teks Alqur’an. Bisa jadi segala usaha Mbak Nong tak berdampak banyak laiknya Émilie du Châtelet dalam mengembangkan gagasan.

Walau demikian, Mbak Nong tetap menempati kapling permanen dalam kalbu. Kita bisa berbeda pandangan, tak dimungkiri kadang berlawanan, namun Mbak Nong tetap manusia yang laras, wanita yang tegas, panutan yang pantas. Buat Mbak Nong, semoga keteladanan darimu sepanjang saya mengayuh perjalanan membuahkan riḍhā Allah selalu.

Mengabadikan kekaguman dengan cara yang bisa dilakukan adalah perilaku wajar dari seorang pengagum terhadap perkara maupun peristiwa yang dikaguminya. Dari banyak cara yang tersedia, menulis adalah salah satunya. 

Satu bentuk unjuk rasa ini sudah lama sekali saya gandrungi. Apalagi beberapa karya maupun rekam jejak Mbak Nong banyak berpengaruh maupun bersinggungan dengan perjalanan yang saya alami.

Artikel Terkait