Perihal Nona pernah aku ceritakan dalam tulisan sebelumnya. Gadis cantik nan anggun dengan gaya kekinian itu belum menunjukan kabar baik di awal Maret ini.

Bagaimana tidak, ia dijanjikan akan dilamar Februari 2020 ini. Namun, kini Maret makin melaju dengan jaraknya yang tak bisa dibendung oleh raga.

Dari yang aku amati, Nona tidak pernah muncul di grup WhatsApp kami. Anti ghibah club adalah nama group WhatsApp persahabatan kami yang tak lekang oleh bully sesama anggota..

Ririn, salah seorang di antara kami, memberikan nama anti ghibah club. Hal ini dilakukan karena ia begitu hobi membangun chemistry melalui gosip-gosip faktual seputar kampus, rumah tangga, persahabatan, dan yang paling penting adalah persoalan lipstik beserta seluruh serdadunya. Tidak lupa pula merek fashion kenamaan akan bertengger dalam grup setiap pekannya.

Belakangan ini, tidak ada lagi sindiran untuk Nona. Mungkin kami semua lelah menunggu kabar Nona yang tak kunjung dilamar oleh doi.

Cita-cita Para Member Anty Ghibah Club

Cita-cita adalah tujuan setiap orang yang selalu ingin dicapai. Tidak ada seorang pun yang menginginkan cita-citanya terhalang batu sandungan yang berkelok-kelok. Pun demikian dengan penghuni anti ghibah club.

Melihat Nona segera melangkahkan kaki menuju pelaminan adalah pengharapan dan doa yang tak kunjung usai di antara kami semenjak 2018 lalu sampai awal 2020 ini. Ya, 2020, tahun yang menjemput dengan segudang permasalahan bangsa yang tak berkesudahan.

Cita-cita sederhana kami para penghuni anti ghibah club adalah bertandang ke P******, tepat di kediaman Nona dan keluarga.

Ririn, misalnya, ia sudah menabung jauh-jauh hari untuk berangkat dari Papua menuju P******. Perjuangan Ririn ini tidaklah sederhana. Ini adalah bentuk kepedulian Ririn yang paling fundamental terhadap sahabat yang tak kunjung dilamar setelah sekian tahun imingi janji partai.

Imbob pun demikian. Ia sudah meminta izin jauh-jauh hari kepada sang suami, jikalau ia harus menghadiri pernikahan Nona dalam kondisi hamil besar.

Aku tidak pernah meragukan sikap kesetia-kawanan Imbob. Ia pasti dengan senang hati memboyong suami dan anaknya menuju P****** untuk menghadiri undangan pernikahan Nona.

Lain halnya dengan Ayu. Ia sibuk mencarikan Nona gandengan baru. Sahabat suaminya ia perkenalkan kepada Nona. Tidak tanggung-tanggung, Ayu menawarkan Nona laki-laki mapan yang siap menuju pelaminan. Maklum, calon yang ini adalah salah satu pelakon gelombang hijrah dekade ini.

Sementara Ita, ia kadang muncul dan kadang kala menghilang. Maklum, ia sendiri tinggal di daerah yang kurang terjangkau oleh sinyal telepon. Subhanallah, Indonesia di abad-21 masih saja demikian.

Lalu Asti, ia sibuk menanggapi Nona yang selalu memulai candaannya. "Ozily cepat besar yah nak, nanti nikahnya ama tante Nona aja."

Kalau aku lain ceritanya, aku masih betah tinggal di Makassar untuk menunggu perhelatan akbar Nona. Sebab kalau sudah balik kampung, akan lebih susah untuk mendapatkan izin.

Nona, Makin Optimiskah Ia?

Perihal keteguhan hati Nona jangan ditanya lagi. Ini seperti barang yang sudah di-cod dan siap diambil tanpa menunggu lama.

Gadis ini begitu sabar. Coba kita renungkan bersama, gadis mana yang siap menunggu pacar melamar sampai lima tahun ia tak kunjung dilamar? 

Nona, ya, Nona...

Jawabannya ada pada Nona. Ia menolak laki-laki lain yang serius dengannya hanya karena lima tahun yang ia lewati dalam suka duka bersama doi. Sementara teman seusianya sudah menikmati biduk rumah tangga dengan menimang momongan di tengah suasana haru kekeluargaan.

Siapa bilang lima tahun yang mereka lewati bersama tidak dirundung masalah? Mereka berulang kali putus-nyambung. Walhasil, ia tetap menanti seperti bola salju yang menunggu musim berganti.

Perihal kesabaran Nona sungguh aku tak bisa membahasakannya. Beberapa orang pernah bilang, "Terlalu baik beda tipis dengan terlalu bodoh." Tapi bagi Nona, ini adalah bentuk ikhtiar terakhir yang bisa ia lakukan untuk menjemput takdir baik bersama doi pada tahun 2020 ini.

Selasa kemarin, story ig Nona bertengger di beranda ig-ku. Bunyi statusnya kurang lebih begini; "Doa, mohon dilindungi dari penyakit berbahaya........"

Aku pun dengan usil membalas story-nya, "Doa, didekatkan dengan jodohnya kapan?"

Spontan Nona menjawab, "Tiap hari kali!"

Nona yang dirundung kegelisahan filosofis sepanjang tahun 2017 sampai paruhan 2020 ini masih optimis mempertahankan pujaan hatinya. Sikap optimis Nona di tengah kegelisahan filosofisnya ini adalah bentuk kewajiban moral yang bersifat mutlak tanpa syarat dan bersifat universal sebagaimana yang dimaksudkan oleh Immanuel Kant dalam menjelaskan gagasannya tentang kategori imperatif perihal moralitas.

Aku sedikit menganalisis doa yang Nona haturkan; "Tuhan, mohon dekatkan aku dengan jodohku." 

Bagiku, doa Nona kali ini terlalu universal. Harusnya ia berdoa, "Tuhan, mohon jodohkan aku dengan si fulan." Misalnya demikian. 

Kenapa Nona harus berdoa demikian? Hal ini bagiku dilakukan agar Tuhan pun tidak keliru mengirimkan calon jodoh untuk Nona.

Coba pikirkan kembali, selama ini, yang datang melamar adalah laki-laki lain. Hal ini sudah berulang kali terjadi dan silih berganti dengan orang yang berbeda. Namun tetap saja Nona menantikan laki-laki yang ia pacari sekian tahun lamanya itu.

Jadi aku bisa menyimpulkan bahwa doa yang Nona kirimkan pada Tuhan terlalu Universal. Kadangkala membuat Tuhan bingung dengan keinginan hambanya.

Sikap Nona yang senantiasa mengadukan pada yang transendent (berdoa) perihal kegelisahan filosofisnya adalah bentuk pertahanan diri manusia dalam menghadapi kesepian dan kegelisahan melalui ajaran agama masing-masing.

Iqbal, sang filsuf kenamaan itu, bahkan telah sampai pada kesimpulan bahwa keadaan dasar jiwa manusia adalah kesepian. Maka ia membutuhkan yang transendent, yaitu sesuatu yang berada di luar dirinya dan melampaui kekuasaan mana pun.