Terjadinya bencana banjir yang menimpa beberapa daerah di Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini telah menunjukkan kepada kita bahwa betapa daya dukung alam dan ketahanan lingkungan kita kini sudah sangat memprihatinkan dan mencemaskan.

Bencana banjir sebagai dampak ketidakseimbangan ekologis telah menimbulkan kerugian materil yang cukup besar, memicu gelombang pengungsi yang makin tak terkendali, dan mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit. 

Kondisi alam yang sedemikian rapuh dan rentan ini seolah-olah menjadi ‘lahan subur’ bagi tumbuhnya titik-titik baru bencana banjir yang kian merusak dan makin sering terjadi setiap beberapa kali dalam setahun; hingga nyaris tak dapat diprediksi kapan datangnya.

Tentu masih lekat dalam ingatan kita semua, bagaimana bencana banjir merenggut korban jiwa dan harta benda yang cukup banyak di daerah Sentani, Papua, dan merendam sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan pada beberapa bulan silam. 

Ribuan residu tebangan pohon dalam bentuk log dan sisa-sisa material pembalakan kayu, entah dari hasil legal maupun ilegal, ditemukan hanyut terbawa banjir dan menghantam pemukiman penduduk serta memutus beberapa jalan utama.

Hal serupa juga terjadi di lain tempat sampai hari ini, tepatnya di daerah Samarinda (Kalimantan Timur), Konawe (Sulawesi tenggara), Morowali serta Sigi (Sulawesi tengah). Penyebab utama banjir ini tidak lain akibat meluapnya sungai-sungai utama yang tentunya sangat dipengaruhi oleh tingginya intensitas curah hujan.

Tingginya intensitas curah hujan tersebut justru tidak dibarengi dengan kemampuan kawasan hutan di wilayah hulu (perbukitan/pegunungan) untuk menahan, menampung, maupun menyerap kembali air hujan yang jatuh ke lantai hutan. 

Akibatnya, aliran air hujan (run off) tidak lagi tertahan atau terserap ke dalam tanah; yang pada akhirnya menurun deras ke kawasan hilir dan menambah debit volume air sungai hingga berkali-kali lipat yang kemudian meluap menjadi limpahan air berskala besar yang kita sebut sebagai banjir bandang.

Banjir yang tercipta dengan limpahan air skala besar inilah yang kemudian menghempas ke daratan dan menerjang pemukiman penduduk yang ada di sekitarnya.

Deforestasi sebagai Sumber Bencana

Bencana banjir bandang merupakan satu dari sekian banyak dampak yang timbul akibat kerusakan hutan yang parah, terutama di wilayah hulu suatu daerah. Fenomena banjir bandang semacam ini seolah-olah mengingatkan kita sekali lagi bahwasanya hutan merupakan entitas mahapenting dalam konstruksi ekosistem kita.

Kawasan hutan, terutama dalam fungsinya sebagai daerah tangkapan air hujan, menjadi komponen alami yang demikian strategis yang seharusnya dipertahankan, dijaga, dan dilestarikan keberadaannya. Bukan malah dihabiskan melalui bentuk-bentuk kegiatan pengelolaan yang tidak lestari, seperti pembalakan liar, eksploitasi berlebihan, land clearing, dan sebagainya, yang malah memicu meningkatnya deforestasi di sepanjang titik-titik kawasan hutan yang strategis.

Deforestasi, dalam definisi FAO (2000), diartikan sebagai konversi lahan hutan untuk penggunaan lahan lain atau pengurangan yang tajam dari tutupan hutan di bawah ukuran 10%. Deforestasi mengisyaratkan kehilangan permanen tutupan hutan dalam periode yang panjang sebagai akibat dari beberapa faktor.

Faktor yang paling dominan mendorong laju deforestasi adalah aktivitas manusia dan gangguan alam. Misalnya areal kehutanan yang dikonversi menjadi lahan pertanian, penggembalaan ternak, pembukaan lahan untuk transmigrasi, kebakaran hutan dan lahan, aktivitas pertambangan, dan sebagainya.

Hal ini sejalan dengan pendapat Myers (1991), seorang ahli kehutanan, yang mendefinisikan deforestasi sebagai aktivitas penghancuran tutupan hutan secara sempurna. Di Indonesia, deforestasi sebagai akibat aktivitas pembalakan hutan terjadi dalam skala besar karena dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta pemilik HPH dan pedagang-pedagang kayu log.

Banyak kasus memperlihatkan di mana para pemilik konsensi HPH dan pedagang kayu melakukan penebangan log yang berlebihan, baik di area hutan produksi maupun di hutan konversi. Namun kebanyakan dari mereka tidak melakukan reforestasi, atau penanaman kembali, pada bekas area hutan yang dieksploitasi. 

Inilah faktor utama yang mendorong kerusakan hutan tropis di Indonesia menjadi makin parah, karena banyak lahan yang kosong menjadi hamparan alang-alang yang memicu terjadinya erosi tanah, banjir, tanah longsor, dan cuaca panas di sekitarnya.

Nol Deforestasi

Dalam kasus deforestasi, sektor industri yang bergerak pada usaha perkayuan maupun yang mengandalkan lahan hutan sebagai alat modal utama kerap menjadi sasaran kritik oleh banyak pihak atas terjadinya deforestasi. Salah satu pihak yang terus mendapat kritikan adalah industri pulp dan kertas serta industri yang terkait dengannya, yaitu perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Industri pulp dan kertas di Indonesia berkembang sangat cepat selama dua dekade terakhir. Ini yang menyebabkan kebutuhan bahan bakunya meningkat dengan cepat pula. 

Peningkatan kebutuhan bahan baku ini tidak diikuti dengan peningkatan ketersediaan suplai bahan baku dari HTI. Permasalahan inilah yang menyebabkan munculnya tekanan terhadap hutan alam di Indonesia.

Sebagai salah satu perusahan pulp dan kertas kelas dunia yang berbasis di tanah air, APP Sinar Mas juga kerap mendapat sorotan tajam terkait isu deforestasi ini. 

APP Sinar Mas Indonesia sudah sejak lama diketahui sebagai salah satu pemain besar di industri pulp dan kertas di Indonesia dan dunia. Perusahaan ini merupakan korporasi besar yang menaungi hampir seluruh pabrik pulp dan kertas yang masih bertahan sampai saat ini. Penguasaan lahannya pun merupakan yang terbesar di dunia. 

Dengan kapasitas produksi bubur kertas yang mencapai 12 - 18 juta ton per tahun, maka Sinar Mas telah menashihkan diri menjadi perusahaan produsen kertas terbesar di Indonesia serta pemain nomor tiga terbesar di dunia dengan jangkauan pemasaran di lebih dari 120 negara di enam (6) benua (sinarmas.com).

Untuk melawan isu deforestasi, dalam komitmen tertulisnya yang dikutip oleh berbagai situs organisasi lingkungan, menyatakan akan mengusung gagasan nol deforestasi dalam produksinya. Sebuah gagasan yang berisi komitmen untuk tidak lagi menebang hutan hujan (Tropical Rainforest) yang meliputi HCVF (High Conservation Value Forest) dan HCS (High Carbon Stock); serta hanya menerima pasokan kayu dari sumber-sumber legal seperti Hutan Tanaman Industri (HTI) atau dari hutan produksi lainnya.

Selain itu, APP Sinar Mas juga berkomitmen akan mengelola dengan bijak hak-hak dan inisiatif masyarakat adat dan komunitas lokal untuk dilibatkan secara aktif dalam komitmen nol deforestasi ini.

Komitmen nol deforestasi yang dicanangkan oleh manajemennya merupakan langkah terbaik yang perlu diapresiasi oleh semua pihak; terutama kepada seluruh pemasok bahan baku untuk menyesuaikan mekanisme produksinya agar sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta mengedepankan konsep kelestarian hasil (Sustained Yield). 

Sebagai korporasi besar yang menerima banyak pasokan kayu dari berbagai sumber, Sinar Mas dengan komitmen nol deforestasinya diharapkan bisa “memaksa” para pemasoknya untuk merapikan prosedur penyediaan stok bahan baku secara lebih transparan dan akuntabel.

Dengan komitmen ini pula, ia diharapkan bisa melakukan kontrol ketat terhadap semua pasokan kayu yang masuk, terutama dari mana sumber kayunya dan bagaimana praktik penguasaan lahannya; apakah sesuai dengan prinsip kelestarian serta memperhatikan hak-hak komunal atau tidak. Jika mekanisme dan komitmen ini dipatuhi, maka impian pengelolaan hutan nol deforestasi bisa menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, gagasan nol deforestasi yang diinisiasi APP Sinar Mas adalah salah satu dari sekian banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mencapai target pengelolaan hutan yang lestari, sehingga kegiatan produksi tidak menganggu ekosistem primer yang menyangga fungsi-fungsi kehidupan yang penting lainnya.

Sudah saatnya seluruh pihak yang bermain di wilayah produksi berbasis sumber daya alam untuk ikut serta dalam gerakan nol deforestasi ini, agar hutan dan sumber daya alam penting lainnya bisa terus dilestarikan untuk berbagai kepentingan besar lainnya di masa yang akan datang. Semoga!