Penulis
1 tahun lalu · 245 view · 3 menit baca · Wisata 50111_11351.jpg
Dok. Pribadi

Noktah Merah Kota Lama Semarang

Lalu tanpa tangis mereka menyanyi: padamu negeri air mata kami. ~ Jembatan - Sutardji Calzoum Bachri

Menyusuri lorong-lorong bangunan bergaya indies; perpaduan baroque, gothic, art deco dengan lagam arsitektur tropis Jawa, segera imajinasi melesap ke masa silam. Selubung memori menguak reka-rekaan paradoks. Memandang takjub karya-karya kolonial, di sisi lain membayangkan bagaimana tak adil bumiputera bekerja memeras keringat tak berbalas upah. Tentu tangan-tangan eyang buyut kita yang literally membangun gedung-gedung ini, kan?

Dengan luas 31 hektare kota berjuluk Little Netherland van Java dirancang sebagai penawar rindu tuan-none Belanda pada kampung halaman. Klaster outstadt eksklusif dibuat terpisah dari sekitarnya. Demi menjamin keamanan Europeesche Buurt atau Kampung Eropa dikelilingi benteng segi lima, Vijhoek. Kini, jejak benteng lamat-lamat dapat disusuri dari tepi Kali Semarang ke Stasiun Tawang hingga sekitar Jalan Cendrawasih dan Sendowo.

Selain benteng dan kanal, fasilitas ibadah pun dibangun. Sebuah gereja bergaya rumah panggung yang kemudian pada 1894, oleh arsitek De Wilde dan Westmas direnovasi menjadi lebih megah lagi. Rumah ibadah itu berbentuk heksagonal dengan kubah menggelembung. Mirip dengan Gereja St. Pieter, di Vatikan. Inilah Gereja Immanuel alias Gereja Blenduk.

Bertepian dengan gereja terdapat Taman Srigunting. Pada masa kolonial lapangan ini tempat parade atau parade plein. Bisa dibilang sebagai plasa, alun-alun pusat segala aktivitas tuan-none Belanda. Bayangkanlah, di bawah rindang pohon-pohon asem itu, serdadu-serdadu kolonial berderap berlatih baris-berbaris.

Tak jauh di seberang, Gang Kepodang yang pernah nge-hit sebagai medan judi sabung ayam, kini licin ditapaki social media narcissist. Tembok lorong dibiarkan rustic dengan tekstur kasar alami (nature-inspired textures). Lalu, akar pohon tua yang menempeli dinding menjadi ornamen cantik nan unik. Saya bertanya, adakah rental busana aksesoris a la tuan-none Belanda di sekitar? Seperti tempat wisata di Jawa Barat sana. We are living in the intagramable society. 

Awan beradu binar mentari. Hantu kelabu membayangi Semarang. Saya menuju Jembatan Mberok. Bagian kota lama yang lebih sepi perhatian. Jembatan berpulas merah hati itu dibangun untuk memudahkan transportasi dari pesisir menuju Kota Lama Semarang. Jembatan juga jadi pelintasan warga di Masjid Besar Kauman, Gereja Blenduk, dan Klenteng di Pecinan. Jembatan Mberok menjembatani interaksi pelbagai etnis; Melayu, Jawa, Tionghoa dan Eropa.

Seketika, saya melantur pada puisi Jembatan Bapak Sutardji Calzoum Bachri. Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana, menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan, timbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita? 

Pemerintah kolonial menyebut jembatan itu Mberok Gouvernementsburg. Nama mberok sendiri berasal dari Bahasa Belanda brug, artinya jembatan. Lalu warna merah hati itu, bolehkah saya mengutip mendiang Ettore Sottsass; every color has a history, red is the color of the communist flag, the color that makes a surgeon move faster and the color of passion.

Dan bukannya waktu pernah menggoreskan, Henk Sneevliet pernah berkarier panjang di bilangan Kota Lama Semarang. Seabad lalu, saat itu usianya sekitar 30-an. Di negerinya Henk masuk daftar hitam. Lalu ia mencari penghidupan ke Hindia Belanda. Di sini sang perantau datang mengusung ideologi revolusioner. Henk membentuk klub diskusi tempat bertukar gagasan.

Sesuai jiwa zamannya (zeitgeist) ideologi Henk kala itu menarik yang muda yang militan; Semaoen, Musso, Alimin, Darsono, Mas Marco. Klub diskusi kecil mekar menjadi embrio Perhimpunan Demokratis Sosial Hindia/Indischee Sociaal-Demokratische Vereninging (ISDV).


Zaman bergerak. Seperti kita, sejarah tak bisa membahagiakan semua orang. Kadang malah mencuatkan trauma, banyak pula bermetamorfosis jadi syak wasangka. Di layar kaca guna kepentingan rating politik, catatan masa silam dieksploitasi untuk menghancurkan reputasi lawan. Gladiator selalu mencari pelbagai celah. Itulah dinamika intensitas politik, demikian katanya. Terserahlah, saya matikan saja televisinya.

Entah bagaimana ceritanya, pada Desember 1918 Henk dipulangkan ke Belanda. Yang jelas kini, jejaknya di sini entah berantah di mana. Barangkali labirin kota lama pun tak berkepentingan mengabadikannya. Wisatawan ke sini untuk menghabiskan waktu luang, bukan mengingat-ingat textbook sekolah yang memaksakan kebenaran mutlak. Saya diam sesaat, sekolah pun secara harfiah bermakna waktu senggang, dari Bahasa Latin schola, bukan?

Sudahilah tentang jembatan berpulas merah hati itu. Itu warna kebetulan saja. Biarlah Bapak Sutardji Calzoum Bachri meneruskan berpuisi: wajah yang diam-diam menjerit melengking melolong dan mengucap: tanah air kita satu, bangsa kita satu, bahasa kita satu, bendera kita satu. Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa kini ada sesuatu yang terasa jauh-beda di antara kita?

Cukup relevankah karya bapak penyair itu dengan panorama politik saat ini? Entahlah, mana tahu ikhwal politik memengapkan. Meski begitu, suatu waktu Bapak Jean Cocteau pernah bilang, the poet is a liar who always speaks the truth. 


Artikel Terkait