2 tahun lalu · 467 view · 4 menit baca · Seni 9488666868_468274d37b_b.jpg
Kini Anda adalah seorang sastrawan, Paman Bob!

Nobel Sastra untuk Bob Dylan, Kusala Sastra untuk Iwan Fals, dan AMI untuk Dee

Sehari sebelum Bob Dylan dinobatkan menjadi salah satu jawara sastra dunia melalui pemberian hadiah Nobel di bidang sastra, seorang penyair legendaris yang dikenal dengan rasa cinta dan permainannya dengan hujan—terutama pada bulan Juni—juga menerima sebuah penghargaan tingkat nasional di negaranya, yaitu Habibie Awards.

Pak Sapardi Djoko Darmono, itulah namanya, penyair yang juga berkawan dengan seorang pemberi berita bernama Den Sastro. Bersamaan dengan diberikannya penghargaan tersebut kepada beliau sebagai salah satu ikon budaya di negaranya—dalam hal ini sastra—beliau pun membuat sebuah pernyataan yang unik; bahwa di masa depan nanti, mungkin puisi akan berbentuk gambar.

Bukan sindiran, bukan celaan. Pak Sapardi serius, dan beliau memang mengatakannya dalam sebuah artian positif. Dinamika zaman yang terus menghasilkan kemajuan peradaban dalam aspek teknologi, terutamanya di bidang komunikasi dan media, adalah sesuatu yang mau tidak mau juga masuk dan mengubah tubuh sastra.

Sebagaimana diberitakan di portal online Kompas, puisi di masa yang akan datang tidak semestinya berbentuk kata-kata, menurut hemat beliau. Sebagaimana narasi sastra yang bisa diangkat ke layar kaca, beliau optimis puisi mungkin bisa diangkat ke ranah kesenian rupa. Toh, diangkat ke kesenian musik saja akhirnya sukses kan, Pak Sapardi? *lirik Bu Reda dan Pak Ari*

Pendapat inilah yang mungkin dibawa oleh semesta hingga ke relung-relung pikiran para komite Nobel ketika berdiskusi untuk memutuskan siapa yang layak mendapat hadiah sastranya. Perubahan—atau mungkin perluasan—akan definisi sastra, puisi, atau syair sebagai konsekuensi dari kemajuan zaman dan era teknologi adalah sesuatu yang dirasa perlu untuk merevitalisasi makna sastra yang cenderung melempem.

Sebagaimana dilansir dari salah satu opini di New York Times, minat baca perlahan menurun di seluruh dunia, dan itu mengancam posisi sastra. Namun alih-alih berpikiran seperti opini tersebut, yang merasa bahwa kebangkitan sastra ada di tangan para pemegang pena, komite Nobel cenderung berpihak kepada Pak Sapardi; bahwa meningkatkan minat terhadap sastra tidak melulu harus diiringi dengan meningkatkan minat membaca.

Mungkin, sastra tersebutlah yang harus diubah sehingga dapat sejalan dengan apa yang diminati atau digemari massa. Alhasil, nama penyanyi yang seperti batu menggelinding itu pun tercatat sebagai musisi pertama yang mendapatkan hadiah sastra paling bergensi di sistem tata surya tersebut.

Apakah ini hal yang buruk? Yah, kalau pendapat saya, sama sekali tidak. Bagi saya, mendukung atau menyetujui pemberian Nobel sastra kepada Paman Bob jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada mendukung salah satu pasangan Pilgub DKI.

Salah satu cuitan di twitter yang saya temukan dan cukup menggelitik—dan merangsang pikiran—datang dari salah seorang novelis terkenal yang narasi sastranya sudah diangkat ke layar kaca, yaitu Jodi Picoult. Penulis My Sister’s Keeper ini pada dasarnya mengapresiasi kemenangan Paman Bob, namun mengakhiri cuitannya dengan tagar #ButDoesThisMeanICanWinAGrammy.

Bu Jodi melanjutkan di cuitan selanjutnya bahwa beliau tidak bermaksud buruk dengan tagar itu. Malahan, beliau menyukai Paman Bob sebagai seorang penyair. Namun tetap saja, tagar tersebut membuat saya ingin berimajinasi; bagaimana jika seandainya, penghargaan Kusala Sastra diberikan kepada Iwan Fals sedangkan Anugerah Musik Indonesia (AMI) diberikan kepada Sang Supernova, Dee?

Dasarnya cukup logis, sebenarnya. Iwan Fals bisa saja “ditarik” ke dunia sastra melalui cara yang sama dengan Bob Dylan; lirik lagu yang menyiratkan perjuangan, sehingga dianggap layak sebagai sebuah puisi revolusioner. Andai begini; lirik Bongkar, Bento, atau Wakil Rakyat jika dinikmati sebagai bait-bait kata tanpa ada bayangan lagu dan musik, tidakkah rasanya akan kurang lebih serupa dengan menikmati bait-bait pada puisi Wiji Thukul?

Sedangkan untuk Dee, jangan ditanya. Beliau sendiri yang sempat memasukkan dirinya ke blantika musik Indonesia melalui Rectoverso dan Perahu Kertas. Jika saja beliau serius dalam perihal musik, bukan tidak mungkin namanya selain sebagai penulis juga bersanding dengan Kunto Aji dan Afghan sebagai musisi.

Frasa kuncinya sebenarnya hanya satu, yaitu fleksibiltias seni. Dalam hal ini, Pak Sapardi jelas ada benarnya. Mentang-mentang sastra tumbuh dan hidup dalam baca tulis, tidak berarti ia tidak bisa berdiri dan tumbuh di dalam dunia audio visual. Bagaimana pun, seni sastra tetap memiliki sifat-sifat seni, yaitu fleksibel dengan seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan seni rupa, musik, peran, atau panggung.

Ketika perjalanan waktu menimbulkan adanya pembauran bidang-bidang seni dan mengaburkan garis di antara satu bidang seni dengan yang lainnya, maka tetap mengotak-ngotakkannya kepada tradisi yang sudah lama dipegang sebagai dasar bidang seni tersebut malah bisa merusak makna seni itu sendiri.

Kalau kata Tan Sri P. Ramlee, manusia adalah hamba kepada seni, bukan sebaliknya. Jika seni itu rupanya mampu dan mau berubah bentuk dan lepas dari tradisi dasarnya, maka tugas manusia adalah mengikuti perubahan tersebut sambil tetap menjaga esensi seninya, bukan esensi bidangnya.

Lirik-lirik lagu yang liris, bermakna dalam, dan menggugah hati adalah puisi karena di dalamnya ada esensi keindahan dan kedalaman makna kata. Ketika ia digubah menjadi lagu, maka kita bisa saja menginterpretasikannya menjadi dua; sebagai lagu atau musikalisasi puisi.

Itu artinya, jika saya ingin mengatakan Bento dan Like A Rolling Stone sebagai sebuah musikalisasi puisi karena liriknya menggetarkan jiwa saya, apakah saya salah? Tidak kan? Atau jika saya ingin menganggap Akulah si Telaga sebagai sebuah lagu karena mendengar duet Ari Reda, itu juga tidak diluar aturan kan? Atau jika saya ingin menikmati Rectoverso sebagai sebuah fiksi musikal, pun tidak apa.

Tentang meningkatkan minat terhadap sastra, bacaan, dan segala semboyan idealis itu, saya rasa tidak perlu menimbulkan adanya pengotak-ngotakkan. Meningkatkan minat baca tidak semestinya berarti meningkatnya minat terhadap sastra, pun minat terhadap sastra berarti harus meningkatkan minat baca seseorang.

Minat baca terhubung kepada ilmu pengetahuan, sedangkan minat terhadap sastra terhubung kepada seni. Maka, jika salah satu upaya untuk meningkatkan minat kepada sastra adalah dengan mencampurnya dengan bidang seni lain, saya rasa itu adalah sesuatu yang baik.

Artikel Terkait