Beberapa jam yang lalu, trailer (cuplikan) dan beberapa spoiler (bocoran) seri terbaru James Bond yang berjudul No Time To Die (NTTD) telah resmi rilis ke publik. Film aksi spionase ini merupakan film yang ke-25 dari karakter James Bond rekaan penulis Ian Fleming itu.

Adalah hal yang sungguh menggemaskan bagi saya ketika nonton film-film agen flamboyan 007 yang sudah berjilid-jilid itu. Gemasnya, dia itu seorang agen spionase atau bahasa kerennya operator intelijen yang sekaligus sebagai eksekutor target.

Jelas, jarang ditemui di dunia nyata tentang dua tugas yang menjadi satu itu. Fiksi memaksanya menjadi satu paket tugas yang keren plus gadis Bond-nya yang terkenal cantik dan seksi itu. Ini jelas kontradiktif dengan konsep intelijen, makin cerdas akan makin menganulir seksisme. 

Film No Time To Die (NTTD) yang digarap oleh EON Productions ini rencananya akan rilis pada bulan April 2020. Film yang disutradara oleh Cari Joji Fukunaga ini diperkuat oleh skenario ciamik yang ditulis oleh beberapa orang, antara lain Neal Purvis, Robert Wade, Scott Z Burns, dan Phoebe Waller-Bridge.

Seperti yang sudah-sudah, film-film James Bond berkutat tentang dar der dor muntahan amunisi dipadu dengan aplikasi ilmu dan teknologi serta hangatnya gadis Bond. Begitu pun dalam No Time To Die (NTTD) , berkutat pada misi penyelamatan seorang ilmuwan yang diculik.

Ada juga tiga pemeran utama wanita, yaitu: Lea Seydoux, Ana de Armas dan Lashana Lynch, yang akan meramaikan karakter dar der dor bersama Craig. Khususnya, Lashana Lynch yang akan ditantang untuk memerankan karakter khas agen-agen yang “mati satu tumbuh seribu” ala MI6.

Dalam bahasan kali ini, saya akan menyorot hal lain yang belum pernah dibahas oleh para penggemar Bond.   Hal menarik pertama seperti yang sudah disebutkan di atas tentang tugas ganda James Bond sebagai spionase sekaligus sebagai eksekutor.

Ini tentunya bertolak belakang dengan tradisi keintelijenan Inggris yang terkenal rapi dan ningrat itu.

Seperti yang biasa terlihat dalam fiksi James Bond, kita sering melihat keterlibatan badan intelijen Inggris MI6 (em ai six) yang mungkin para penggemar James Bond kurang memperhatikan bagian tersebut. Inilah hal menarik yang kedua.

Dalam fiksi James Bond MI6 terlihat sangat dominan, padahal badan intelijen tersebut hanyalah salah satu bagian saja dari total MI (Military Intelligent) yang dimiliki Inggris.

Yang lainnya, seperti MI5 (Military Intelligent 5) yang khusus berurusan dengan ancaman intern dalam kerajaan Inggris. Termasuk peristiwa teror kemarin yang terjadi di London Bridge, sepenuhnya dibawa pengawasan MI5 (Military Intelligent 5)

Sedang MI6 (military Intelligent 6) yang berkantor pusat di Vauxhall, London itu khusus memerangi ancaman di luar kerajaan Inggris.

Ada pula MI1 yang khusus bagian pemecah kode, MI2 yang menangani kontraintelijen Rusia dan Skandinavia, MI3 menangani kontraintelijen Eropa Timur, MI4 khusus rekon wilayah udara, dan MI8 menangani intersep komunikasi militer. MI14 dan MI15 khusus urusan kontraintelijen Jerman.

Kemudian ada MI19 mengurusi tawanan perang, dan MI17 sebagai pusat pengendali sebagaimana CIA di Amerika Serikat.  

Sedang urusan operasi penyamaran yang sebenarnya cocok bergabung dengan James Bond adalah MI9, plus MI10 yang lihai dalam analisis senjata. Termasuk pergantian MI6 yang seharusnya adalah MI17 sebagi pusat atau Headquarter.

Hal menarik ketiga adalah James Bond yang Inggris banget itu tidak pernah menggunakan persenjataan produksi Inggris sendiri yang memang produknya sering bermasalah.

Bolehlah Bond berbangga dengan tunggangan Aston Martin dan Range Rover yang Inggris banget itu. Namun, untuk senjata, tidak. Senjata-senjata yang digunakan Bond kebanyakan produk Jerman semisal seri Walther dan seri HK (Heckler and Kock).

Sebenarnya pemakaian senjata produk Jerman itu tidak asal comot dalam untuk dimasukkan bagian skenario film.

Sepertinya tim riset persenjataan karakter Bond sudah menyadari bahwa persenjataan produk Inggris semisal senapan serbu SA80 yang menjadi persenjataan standar pasukan kerajaan Inggris itu tak layak digunakan Bond.

Sebab, di dunia nyata, senapan tersebut memang cacat dan sering macet serta mengharuskannya untuk disempurnakan sistemnya oleh pabrikan senjata German menjadi SA80 A2 L85.  

Itulah mengapa James Bond tak pede dan minder membekali dirinya dengan senapan SA80 dan senapan-senapan Inggris lainnya yang terkenal berat di tangan itu.  

Hal menarik lainnya adalah seri-seri James Bond yang mengutamakan kesempurnaan penampilan dan pluralisme ras tersebut, tak pernah mengangkat bagian dari kebesaran kekuatan Inggris semisal British Gurkhas atau pasukan Gurhka Inggris yang etnis banget itu. 

Adalah menarik jika ini dilibatkan sebagai tema-tema James Bond selanjutnya. 

Itulah sekelumit koreksi dan hal-hal menarik yang mungkin bisa menjadikan James Bond lebih baik untuk seri-seri ke depannya. Bukan hanya mengotak-atik gadis Bondnya yang kadang terlihat dungu itu.