Pada tahun 1953, ilmuwan-ilmuwan asal Inggris menemukan berjalannya proses alih informasi Kode Genetik.

Melalui sistem interaksi Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) yang berbentuk bagai dua untai benang berbentuk tangga yang terpilin ganda (double helix), dengan tiga jenis Ribonucleic Acid (RNA) dalam proses memproduksi protein dalam bagian sel tubuh, Ribosom.

Begitu rumit proses sintesa protein dalam tubuh makhluk hidup yang melibatkan mekanisme alih informasi Kode Genetik unik pada setiap individu, membuahkan hadiah Nobel bidang Biokimia pada awal tahun 1960-an, kepada ilmuwan-ilmuwan asal Inggris tersebut.


Kode Genetik.

Rumit dan unik, karena pada untaian double helix setiap Kode Genetik dalam DNA, terdapat urutan pasangan asam amino yang meski berpasangan tetap, namun tak sama persis berurutan untuk setiap individu pemiliknya.

Berpasangan tetap, karena asam amino bernama Adenin selalu berpasangan dengan asam amino bernama Timin. Sementara asam amino bernama Sitosin bakal berpasangan dengan asam amino bernama Guanin.

Menjadi unik, karena urutan asam-asam amino yang saling berpasangan tetap tersebut, tak beraturan. Oleh karenanya, dalam hal manusia, bakal memiliki Kode Genetik yang unik bagi dirinya maupun bagi keturunannya, sebagai Kode Genetik warisan.

Kode Genetik juga menjadi penentu keunikan sebaran protein dalam wujud suatu Ras, baik asli maupun hasil persilangan antar Kode Genetik multi Ras.


Rekayasa Genetika.

Pemahaman tentang Kode Genetik, DNA dan RNA menjadi revolusi tersendiri, menyingkap tabir misteri bagaimana keunikan sifat genetis dan fisiologis bisa menetap lalu diwariskan temurun.

Dalam penerapannya, pengetahuan mendasar tentang mekanisme sintesa protein dalam tubuh makhluk hidup, telah banyak menuai manfaat.

Khususnya dalam hal rekayasa genetika terhadap flora pun fauna untuk menjadikan bentuk, volume, berat juga cita rasa mereka lebih disukai oleh manusia.

Dalam hal manfaat bagi manusia, maka pemahaman tentang sistem alih informasi Kode Genetik melalui perintah DNA yang dilaksanakan oleh RNA dalam Ribosom, menjadi bagian dari upaya penelaahan terkait pengembangan ilmu medis.

Adapun untuk keperluan merekayasa genetika terhadap manusia agar menjadi sosok yang ideal, masih belum dinilai sebagai pengetahuan yang mendesak untuk diterapkan.

Mengingat, proses merekayasa genetika terhadap manusia, dipandang sebagai hal yang tak pantas bagi manusia, terlebih proses menurunkan keturunan bagi manusia telah dibatasi syarat dan kondisinya oleh banyak keyakinan, dalam bingkai Agama.


Pilihan Baik Atau Jahat.

Antara kebaikan dan kejahatan berselisih tempat terbatasi oleh benang pemisah yang sangat tipis. Setiap niatan berbuat baik, berkelindan sebaliknya dengan niat jahat.

Lalu, penerapan suatu ilmu pengetahuan yang sejatinya dapat bermanfaat bagi manusia untuk berkehidupan lebih baik, menjadi suatu rencana jahat yang justru membahayakan manusia, itu pilihan.

Pengembangan sistem alih informasi Kode Genetik melalui mekanisme kolaboratif antara DNA dan RNA memang berpeluang menjadi senjata pemusnah massal terhadap Ras tertentu, bahkan semua manusia di Bumi.

Upaya mencegah pilihan jahat terhadap penyalahgunaan suatu mekanisme mendasar dalam mikro sel organik tersebut, menjadi inti tuturan alur film petualangan sang agen rahasia fiktif berkode 007 dari satuan MI6, dinas rahasia negara Inggris, berjudul; No Time To Die.


No Time To Die.

Film ke 25 serial James Bond besutan EON Production Ltd. ini dibintangi oleh Daniel Craig, aktor yang sukses mengubah opini tentang sosok James Bond.

Dalam film-film sebelumnya yang diperankan oleh aktor-aktor Inggris pendahulunya, sosok James Bond digambarkan begitu flamboyan, tak pernah kalah. 

Baru kemudian Daniel Craig merubah tipikal James Bond menjadi jauh lebih muram, ironis dan dingin, lebih tepat mewakili gambaran sosok pemegang lisensi untuk membunuh.

Berdurasi lebih dari 2,5 jam, No Time To Die menjadi film pertama serial James Bond yang dibesut oleh sutradara Amerika, Cary Joji Fukunaga. Arahannya berpengaruh pada gaya bertutur, bergeser dari cita rasa Inggris.

Sempat tertunda lebih dari setahun dari rencana tayang awal pada tahun 2020 karena Pandemi, film ini sebenarnya berpeluang kontroversial karena memberikan gambaran peluang penyalahgunaan sistem alih informasi Kode Genetik, sebagai senjata pemusnah massal.

Saat itu, dunia tengah seru mempersoalkan kepentingan vaksinasi massal yang belum begitu jelas bahan dasar vaksinnya, guna memerangi Pandemi.

Selain itu, pengunduran proses produksi karena mundurnya calon sutradara asal Inggris, Danny Boyle yang pernah sukses membesut film sekaliber Slumdog Millionaire, untuk menata kisah No Time To Die.

Sepanjang 25 kali aksi James Bond digambarkan sebagai karya layar lebar, terdapat beberapa judul terbaik dari setiap pemerannya, sejak pertama kali ditayangkan tahun 1962.

From Russian With Love (1963) diperankan Sean Connery, For Your Eyes Only (1981) diperankan Roger Moore, License To Kill (1989) diperankan Timothy Dalton dan Casino Royale (2006) diperankan Daniel Craig, berhasil menggambarkan sosok James Bond secara manusiawi.

Juga, dalam film-film tersebut tak mengumbar banyak piranti aneh sebagai senjata pun alat bertahan hidup bagi si agen rahasia berkode 007 ini.


Gaya Amerika.

Dari keseluruhan film tentang James Bond yang diperankan oleh Daniel Craig sejak tahun 2006, maka No Time To Die seolah menjadi anti klimaks dalam bingkai kisah yang saling terkait mulai dari Casino Royale (2006), Quantum of Solace (2008), Skyfall (2012) dan Spectre (2015).

Anti klimaks dalam hal tuturan berseri yang dikemas lebih mengedepankan unsur drama. Mengakomodir tautan kekerabatan dalam kehidupan James Bond pada era Daniel Craig, tak ditemui dalam kisah-kisah James Bond yang diperankan oleh aktor-aktor pendahulunya.

No Time To Die, menjadi suguhan perpaduan aksi laga berhias unsur drama dengan gaya lebih mendekati cara bertutur khas sutradara Amerika. Hingar bingar, sekaligus bersedu sedan.

Bahkan aktor sekelas Rami Malek pemeran sosok antagonis bernama Lyutsifer Safin pun terlihat sebagai pemeran latar belakang semata.

Mungkin, apabila Danny Boyle jadi membesut No Time To Die, maka sepenuhnya bakal menjadi film yang beraksen Inggris.


Benang Merah Sosok Asia.

Kualitas bertutur kisah No Time To Die juga bisa diduga pada cakupan usia layak menonton film ini, yang pasca lulus sensor adalah bagi usia 13 tahun ke atas. Kategori film untuk Remaja.

Padahal, tak sepenuhnya remaja usia 13-an tahun layak menonton No Time To Die. Terutama karena terselip adegan mesra saat James Bond begitu menggebu meluapkan hasrat bercinta bersama pasangan hidupnya.

Tak hanya itu, dalam film ini juga ditampilkan sosok Paloma, sang agen rahasia CIA Amerika yang diperankan aktris asal Kuba, Ana de Armas.

Cara berdandan Paloma begitu menggairahkan. Mengenakan pakaian hitam berbelahan dada rendah, memperlihatkan bentuk buah dada yang Ngondoy, lalu terombang ambing tak karuan saat beraksi laga. Apa daya, penonton pria bisa salah fokus dibuatnya.

Selebihnya, No Time To Die bisa menjadi benang merah awal sosok James Bond pada generasi mendatangnya, kelak.

Gaya berkisah dalam film terakhir Daniel Craig memerankan sosok James Bond ini, juga mengakomodir sensitivitas cita rasa Asia. Berhias unsur balas dendam dan romantika cinta keluarga.

Bisa menjadi dugaan awal bahwa pada masa mendatang, sosok James Bond bakal diperankan oleh aktor Inggris keturunan Asia.

Bisa dimaklumi, karena saat dunia kini cenderung didominasi oleh Ras kuning, dalam banyak bidang. Oleh karenanya, karya seni layar lebar mau tak mau juga beradaptasi menerima fakta tersebut.

Bukankah sosok penyelamat dunia juga bisa karena dia memiliki Kode Genetik Ras Asia, bukan Eropa semata?

‘Shaken, not stirred’