Hampir seminggu ini, aku tidak punya ide untuk menulis. Baik itu menulis di diari, menulis di platform, menulis paper, sampai menulis di buku anggaran pengeluaran.

Yang terakhir, bukan karena orang-orang lagi ramai membahas pengeluaran kinerja sebuah pemerintahan hanya untuk lem itu, ya. Namun, aku memang menulis pengeluaranku karena kartu atm yang kupegang sekarang milik ibuku. Secara, gaji sebagai seorang pendidik sepertiku masih seperti bunga yang kadang mekar, kadang layu. 

Padahal banyak sekali ide penulisan yang dapat kueksekusi. Dari chat-chat, japri di media sosial WhatsApp (WA) beragam tema. Setidaknya, dari sini tulisanku bisa berbagi beban pikiran atau pengalamanlah. Mulai dari diskusiku dengan ponakanku tentang status grup sebelah, si "pemegang kunci surga" yang bikin emosi melulu. Proyek bukuku yang melibatkan beberapa orang.

Tukar pendapatku pada mahasiswi farmasi yang mau membuat produk kecantikan atas penelitiannya dari bahan-bahan tradisionalnya (hari gini, punya produk skincare lebih penting daripada punya gebetan, karena langsung ditembak jadi pacar). Sampai pada curhat seorang kawan perempuan tentang cem-cemannya atau teman tapi mesranya (ttm) yang bingung dengan cara mendapatkan perhatian lebih dari sekadar teman.

Kataku pada teman yang curhat soal cem-cemannya; kalau soal ttm, gebetan, sampai cem-ceman, masalah kita sama. Kemarin, aku sudah move on dari mantan. Namun, kini harus move on dari gebetan. Baru jadi cem-ceman sudah bikin patah hati.

Tapi, kata temanku lagi; karena dia tipe pemikir, dia susah jatuh cinta. Makanya, dia bahagia sekali bisa naksir orang. Dia pikir, dia sudah mati rasa (sungguh sayang beta mati rasa, nona).

Hah? Gantian aku yang kaget.  Seserius itukah hidupmu?

Banyak Cinta, Banyak Ide

Ada yang bilang, ketika seseorang memiliki banyak cinta, dia akan memiliki banyak ide. Karena tentu saja jatuh cinta membuat seseorang jadi kreatif. 

Yang suka bikin puisi jadi tambah ekspert dengan puisinya. Dia akan punya banyak stok kata-kata memuja dan memuji. Asal jangan, yang jago gombal jadi tambah bisa menggombal yang elegan. Yang bisa melukis, akan melukis kekasih hatinya. 

Hidup juga lebih variatif, penuh warna-warni, banyak pilihan, dan yang penting tidak monoton. Misalnya, kamu punya gebetan A, B, dan C yang mempunyai karakter berbeda-beda.

Misalnya, aku pernah punya gebetan, seorang laki-laki yang auranya sangat bagus, saleh, cakep, muda, berprestasi, punya visi ke depan, bertanggung jawab, dan masa depan cerah. 

Bagaimana tidak? Hidupnya teratur dan disiplin, kuliah S1 cumlaude sampai dia mendapatkan beasiswa pendidikan lanjutan dan punya banyak kegiatan di masyarakat. Setelah kuliah S2, dia langsung jadi dosen di kampus bergengsi, PNS lagi. Namun sayang, dia sudah mengkhitbah seorang gadis, calon istrinya.

Tapi, tidak apa-apa. Selama hampir setahun aku menyukainya. Betapa beruntungnya aku mengenalnya. Aku jadi punya banyak ide dalam hidup. Bercita-cita menjadi perempuan salihah yang sangat baik, rajin tidak mau bermalas-malasan lagi, mengerjakan pekerjaan tidak setengah-setengah, dan mau berkompetisi dengan semangat.

Gebetan kedua lain lagi karakternya. Dia juga laki-laki yang cerdas, dan keren, sering menjadi pembicara di seminar-seminar. Kami akrab karena kegiatan pendidikan. Tapi, ujungnya-ujungnya, dia punya tunangan. Hikz.

Lagi-lagi, aku tidak apa-apa, kami menjadi teman baik. Kami punya ide untuk proyek bersama. Kami bekerja sama dalam hal pendidikan. Dan aku pun banyak belajar darinya. 

Jika rencana A gagal, lakukan rencana B. Jika A dan B gagal, lakukan rencana C. Ini sama dengan jika gebetan A gagal, cari gebetan B. Jika gebetan A dan B hilang, pindah lagi ke gebetan C.

Baca Juga: Pacar Gue Galak!

Gebetan C kali ini jauh dari tipeku. Jika gebetan A dan B terlihat sangat cerdas di dunia akademik, gebetan C terlihat sangat cerdas di dunia seni. Iya, dia seorang seniman. Lukisan karya-karyanya bagus sekali. Aku bertemu dengannya pertama kali di sebuah kafe yang ramai full musik, namun dia menyendiri di pojok ruangan dengan sketsanya. Kopinya hitam pekat, dan rokoknya terus mengepul.

Penampilannya juga sangat cuek, bukan tipe laki-laki seperti gebetan A dan B yang senang memakai kemeja, atau kaus yang dipadukan dengan kemeja yang kancingnya tidak dikaitkan. Aku melihat gebetan C pertama kali dengan kaos pendek berwarna hitamnya. Belum lagi soal celana; jika A dan B memakai celana kain, eh gebetan C memakai jeans. 

Jika A dan B terlihat menjaga penampilan. Gebetan B terlihat sangat apa adanya. Dia malah terlihat sangat bad boy. Ketika itu kutanyakan pada seorang kawan tentang pendapatnya bad boy. Jawabannya sungguh membuatku berpikir untuk segera mendapatkan gebetan C.

Kata temanku, bad boy itu bikin hidup lebih hidup. Laki-laki yang terlalu serius tidak dapat membuatmu menikmati hidup. Hidup juga jadi kaku, tidak lepas, bebas, dan liar. Gebetan C telah menemukan jalan hidupnya dan tetap jadi dirinya sendiri. 

Lanjutnya, laki-laki nakal terkadang lebih memahami perempuan dan bertanggung jawab.

Btw, dia senakal apa? Hanya karena cover sajakah? Dia telah melewati kehidupan ini, masa masih nakal sampai tua. Lagi pula dia terlihat baik. Buktinya, dia mau kamu ajak bekerja sama dalam pameran dan menyelesaikan penyelenggaraan pergelaran.

Aku jadi punya banyak ide untuk memberikan lebih banyak seni cinta dalam hidup ini. Apakah aku malah jatuh cinta dengan dirinya yang berbeda? No idea.