Saya mengamati kasus Nisa Sabyan yang sedang heboh baru-baru ini, kelihatannya para netizen lebih menukas si perempuan dibanding kepada si lelaki. Terlepas dari siapa yang memulai, saya pikir, tidak semua kesalahan berawal dari si perempuan, bisa jadi yang memulai memantik rasa suka hingga sampai pada perselingkuhan  berawal dari si laki-laki.

Mirisnya, jilbab yang dipakai si Nisa tersebut pun  menjadi sorotan dan bahkan dijadikan bahan bullyan oleh sebagian natizen. 

Malah ada yang mengatakan kasus Nisa Sabyan menunjukan bahwa jilbab itu hanya gaya berpakaian. Ada juga yang mengatakan ia berjilbab tapi munafik.

Begini Ferguso, bedakan dulu antara jilbab dan perilaku, sebab perilaku dan jilbab adalah dua hal yang berbeda

Mengutip wikipedia, Perilaku adalah serangkaian tindakan yang dibuat oleh individu, organisme, sistem, atau entitas buatan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri atau lingkungannya, yang mencakup sistem atau organisme lain di sekitarnya serta lingkungan fisik (mati). 

Saya memahami begini, Perilaku adalah apa yang ada pada diri yang tercermin pada sikap dan perbuatan seseorang, kita bisa menyebutkan akhlak.

Sedangkan  jilbab adalah kain lebar yang biasa dipakai perempuan muslim untuk menutup kepala, rambut, telinga hingga leher dan dada. Dan saya pikir jilbab bukan hanya dipakai perempuan musim saja, ada beberapa agama non-muslim pun, perempuannya memakai jilbab.

Jilbab seperti halnya benda lainnya, fungsinya tergantung pada penggunanya. Kita manusia yang memberi nilai pada benda atau barang.

Mungkin ada yang memahami jilbab itu berupa kain penutup meja (taplak meja), tak masalah. Akan tetapi bagi perempuan muslim jilbab taksekadar itu.

Pada pisau misalnya, ia akan menjadi buruk apabila gunakan untuk membunuh. Namun sebaliknya ia menjadi baik apalagi digunakan untuk memotong sayur, bawang dll.

Intinya, barang seperti jilbab, pisau dll;  postif dan negatifnya tergantung pada si pemakai/pengguna.

Ketika ada perempuan berjilbab membunuh, apakah kita akan menyalahkan jilbabnya? Tentu tidak, yang kita salahkan adalah orangnya.

Jilbab hanyalah sebuah barang tak bergerak. Perbuatan/perilaku seseorang yang membuat orang itu dinilai baik atau buruk.

Jadi, Jika salah seorang penguna/pemakai jilbab berprilaku negatif, bukan berarti kita lantas menyimpulkan bahwa semua pemakai jilbab otomatis berperilaku negatif. Pun apabila perilaku pemakainya negatif, tidak tepat kalau kita menyimpulkan semua yang memakai jilbab itu hanya mengikuti gaya/tren. 

Banyak perempuan muslim memakai jilbab bukan karena gaya, tetapi  karena memahami tentang pentingnya  jilbab bagi mereka. Dan banyak juga perempuan berjilbab yang sadar akan batas-batas sebagaimana laiknya perempuan berhijab, menjaga kehormatan dirinya. 

Jilbab bagi perempuan muslim bukan hanya sekedar tutup kepala, rambut, telinga, leher dan dada. Akan tetapi sebagai pelindung dan juga simbol kehormatan perempuan.

Perempuan muslim yang benar-benar tahu dan paham akan arti jilbab , akan bersikap dan bertindak sebagai mestinya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menjaga dan menghindari sikap dan perilaku yang negatif.

Seperti yang diberitakan dalam Al-quran tentang jilbab:

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur : 31)

Dalam ayat lain dalam al-quran tentang jilbab:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Sebagai manusia kita pun tak luput dari salah dan dosa. Bisa jadi kita pun memiliki banyak aib. Namun karena kasih Tuhan, ia tidak menunjukan aib-aib kita.

Mungkin terkadang tanpa sadar kita mengutuk perbuatan negatif orang lain secara terang-terangan, tetapi dalam kesendirian kita  pun kerap kelakuan hal yang negatif.

kata Imam Ali “Janganlah engkau mengecam iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya ketika dalam kesunyian”.

Maka dari itu seharusnya dalam kasus Nisa Sabyan ini menjadi pelajaran kita bersama, agar menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang mungkin itu biasa saja kita atau keluarga kita mengalami hal yang sekarang dialami Nisa Sabyan.

Bukan malah mencibir, membuly apalagi menyindir busana jilbab dan perilakunya.

Kata Bong Chandra, “Berkatalah hal yang positif tentang orang lain, karena kata-kata positif selalu kembali pada sumbernya.”