9 bulan lalu · 1250 view · 2 menit baca · Media 24380_33368.jpg
Akun IG @aktivispmii

Nissa Sabyan dan Kemelut Penggunaan Almamater PMII

Organisasi besar bukan karena berhasil merekrut seorang publik figur, tapi ketika mahasiswa masuk organisasi karena melihat kebenaran dan masa depan pada organisasi tersebut.

Siapa yang tak kenal Nissa Sabyan? Pelantun lagu Deen as-Salam cantik nan islami ini naik daun beberapa bulan ini. Itu semua berkat bakat pemilik suara merdu pembawa pesan perdamaian berhadil menghipnotis dengan suara lembutnya dan pernah menduduki trending 1 YouTube kala itu.

Namun, dari semua itu, beberapa hari kemarin, ada sebuah kemelut dengan foto Nissa Sabyan yang cukup ramai diperbincangkan.

Telah diketahui khalayak tentang status Nissa yang masih duduk di bangku sekolah, bukan duduk di Perguruan Tinggi yang notabenenya mendapat predikat sebagai mahasiswa. Nissa, dalam beberapa waktu silam, sempat memakai almamater IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul ‘Ulama), yakni sebuah organisasi pelajar NU semasa duduk di bangku sekolah. Tentu hal ini sangat baik bagi perkembangan roda organisasi tersebut.

Tetapi hal yang perlu diperbincangkan ialah saat pelantun lagu pesan perdamaian ini diedit sedemikian rupa menggunakan almamater PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang telah diketahui umum, yakni menjadi organisasi mahasiswa ekstra kampus.


Hal ini tentu perlu adanya klarifikasi. Adanya tanggapan positif dan negatif tentunya menjadi suatu hal yang perlu diambil titik temunya. Pertama tentu tanggapan negatif adanya foto tersebut, wajah organisasi tentu menjadi sedikit muram seketika ada anggota tanpa adanya keikutsertaan seorang dalam ranah kaderisasi.

Kemudian telah diketahui bahwa Nissa belum menjadi dan duduk dalam bangku perkuliahan. Organisasi didirikan bukan untuk ajang rekruitment seorang publik figur. Tapi guna tetap mendidik dan mengkader sehingga menjadi calon pemikir hebat kelak.

Organisasi besar bukan karena berhasil merekrut seorang publik figur, tapi ketika mahasiswa masuk organisasi karena melihat kebenaran dan masa depan pada organisasi tersebut. (Sumber: Akun IG @aktivispmii)

Namun juga menjadi hal yang positif sebenarnya apabila kita melihat dalam perspektif yang berbeda. PMII hari ini penulis rasa kurang mencetak kader yang seperti demikian. Padahal apabila terdapat kader PMII yang demikian, akan sangat membantu dalam kaderisasi dan konstruksi yang dilakukan.

Dengan adanya publik figur yang memiliki jumlah followers jutaan, secara sadar atau tidak dapat mengkonstruk halus masyarakat tentang suatu perdamaian dan fokus ideologi PMII sendiri yang berlandaskan Ahlu Sunnah wal Jama’ah ini.

Tentu ini juga perlu diperbincangkan dalam ranah organisasi PMII secara internal. Tentang bagaimana fokus kaderisasi dapat lebih bersinergi dan mencapai visi-misi dalam roda organisasi. Setidaknya mampu menjadi jembatan yang bukan hanya menjadi seorang pemikir hebat, namun lebih dari itu.


Tetapi yang perlu digarisbawahi, yakni terkenal dan menjadi seorang publik figur bukan tujuan, tetapi sebagai akibat atas apa yang telah kita lakukan.

Oleh sebab itu, wahai para kader-kader PMII di seluruh Indonesia, dengan rasa penuh khidmat dan kasih sayang, temukanlah hal positif dan bakat yang baik dalam individu-individu sekalian. Jadilah calon pemikir hebat yang berlandaskan pula pada hukum dan AD/ART organisasi dan juga bakat kalian. 

Dengan hal seperti ini, semoga roda organisasi yang kita geluti saat ini akan semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Artikel Terkait