Tulisan Ninoy Karundeng berjudul "Kasihan! Grace Natalie Bukan Lagi Pemilik PSI! Ada Sunny dan Michael" dianggap mengusik. Ia akhirnya meminta maaf kepada PSI (Partai Solidaritas Indonesia) melalui video singkat yang diunggah akun Twitter PSI.

Lalu benarkah PSI bukan lagi milik Grace? Benarkah Sunny dan Michael pemilik PSI? Pada dasarnya sebuah partai politik bukanlah milik orang per orang. Semua parpol adalah aset bangsa. 

Pernyataan Ninoy benar di salah satu sisinya, Grace Natalie bukan pemilik PSI. Namun ia salah ketika mengatakan Sunny dan Michael pemilik PSI. Terkait sikap PSI yang cenderung mendukung Anies, menurut saya, tidak salah.

Selama keputusan Anies benar dan bermanfaat, mengapa harus malu mendukung? Oposisi konstruktif memang harus begitu. Setiap keputusan eksekutif yang baik harus didukung. Jangan mengedepankan ego dan emosional.

Tulisan Ninoy, menurut saya, hanya mengingatkan, sebuah kritik yang barangkali kekurangan data. Namun demikian, itu patut dijadikan diskusi bukan cacian apalagi sampai ke ranah hukum. Saya cenderung menganggap tulisan itu sebagai reflektsi agar PSI tidak ternodai.

Barangkali yang disampaikan salah, namun barangkali juga ada benarnya. Sebaliknya, tudingan kepadanya benar, namun bukan tidak mungkin ada salahnya. Subjektivitas itu yang mesti kita hidupkan. Biarkan tulisan itu dinilai publik.

Saya kira tidak semua kader atau pendukung PSI terpengaruh. Reaksi berlebihan hanya menunjukkan PSI belum terbiasa dikritik atau difitnah. Kritik, cacian, makian, hingga fitnah merupakan sajian politik. Petinggi PSI harus terbiasa dengan itu.

Jangan hanya bersemangat mengkritik tapi tidak siap dikritik. Tulisan Ninoy hanya kerikil, tak perlu berlebihan menanggapi. Harusnya kader-kader PSI rajin menulis; membalas dengan tulisan di media online, misalnya.

Saya tawarkan kader PSI menulis di sini, media yang independen dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Tradisi menjawab fitnah dengan tulisan lebih bermanfaat ketimbang ranah hukum.

Melalui jawaban yang tertulis di media, itu bukan hanya mengonfirmasi tulisan tersebut fitnah, namun PSI akan melanjutkan tradisi intelektual. Tulisan Ninoy dapat dijadikan contoh sikap fanatik berpolitik yang berakhir pada fitnah.

Melalui Ninoy, PSI setidaknya tahu bahwa mereka sedang merangkak menjadi partai "dewasa". PSI bakal menjelma menjadi partai besar andai mampu menjaga konsistensi.

Melalui konsistensinya, PSI akan menjadi harapan rakyat. PSI tak boleh tumpul berpikir meski dukung Jokowi; kelihatan diam ketika koalisi parpol Jokowi berebut kursi menteri. Harusnya PSI kritisi mereka. 

Diamnya PSI atas kelakuan parpol-parpol yang berebut kursi menteri menjadi tanya. "Apakah PSI hanya kritis menjelang Pileg?" Selepas itu, banyak diam, bahkan hanya mengurusi sebuah tulisan. 

PSI aset bangsa dan milik rakyat. Dengan demikian, PSI tak boleh diam menyaksikan 'politik dagang ayam'. PSI bukan milik Grace atau elitenya, sehingga kader PSI harusnya aktif mengkritisi perilaku parpol pendukung Jokowi yang tanpa malu berebut kursi.

PSI harus membuktikan diri sebagai parpol merdeka. Parpol yang tidak terikat oleh bohir maupun Grace serta bukan fusi dari parpol-parpol pendukung Jokowi. Bersikap kritislah seperti sebelum pileg.

Saya juga heran ketika PSI begitu peduli dengan tulisan Ninoy Karundeng. Terus terang, saya menuliskan ini dikarenakan membaca berita Ketua DPW PSI Jakarta laporkan akun FB Ninoy.

Jika berita itu benar, menurut saya, ini adalah sebuah kemunduran bagi PSI. Meski dengan alasan pencemaran nama baik, tetapi itu bukan jawaban menarik. Kenapa tidak jawab saja dengan pembuktian kinerja?

Buktikan saja bahwa Ninoy salah, PSI adalah oposisi konstruktif di Jakarta. Buktikan saja PSI merdeka dalam pemikiran dan sikap. Bila tulisan itu viral, masa sih kader-kader PSI gak mampu membalas dengan tulisan yang viral pula?

Tradisi membalas tulisan dengan tulisan memang masih langka bagi parpol kita. Membawa tulisan ke ranah hukum, termasuk akun media sosial, menjadi ngetrend akhir-akhir ini.

Bagi saya, penampakan seperti itu kurang elok. Dengannya, akan muncul ketakutan rakyat untuk menulis. Kita bakal terus disibukkan dengan fitnah melalui tulisan. 

Mengapa sih parpol seperti kering ide? Pasti jawaban elite PSI adalah arena tulisan tersebut fitnah. "Kita hendak memberi pelajaran bagi orang-orang yang suka fitnah," begitu kira-kira jawaban elite PSI atau dengan dalil kita negara hukum.

Padahal cukup katakan PSI bukan milik siapa pun, akan tetapi PSI milik rakyat!. Selesai sudah. Soal teori konspirasi yang diembuskan, cukup dibantah dengan sikap ketika nantinya wakil rakyat PSI dilantik. 

Kalau kebakaran kumis karena fitnah, bisa saja publik menilai narasi itu ada benarnya meski sedikit. Padahal banyak yang berharap PSI berbeda dengan elite politik lain dalam menghadapi fitnah.

PSI dapat lebih cerdas menghadapi fitnah. Namun bila pelaporan ke ranah hukum jadi dilakukan, tentu PSI tak jauh beda dengan elite lain. 

Bohir Politik

Biaya politik kita tidaklah murah. Mendirikan partai politik membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dugaan saya, Ninoy tergoda dengan artikel berjudul PSI Apresiasi Anies, Batal Oposisi?. Dalam artikel tersebut, dikaitkan Sunny sebagai lambang bohir politik di dalam PSI.

Politik kita memang belum bisa dipisahkan dari bohir politik. Para bohir selalu menjadikan parpol sebagai kendaraan untuk meraih yang diinginkan. Tak peduli keinginan itu merugikan rakyat bahkan negara, yang penting bohir senang.

Mahalnya ongkos politik menjadi peluang terjadinya simbiosis mutualisme jahat antara parpol dan bohir.

Pertanyaannya, benarkah PSI tidak dijadikan kendaraan oleh bohir politik? Katakanlah Ninoy fitnah soal peran Sunny, namun bagaimana dengan bohir politik lain? Terbebaskah PSI dari mereka? Jika tidak terbebas, berarti PSI bukan milik rakyat, akan tetapi milik bohir.

Jika PSI terbebas dari bohir politik dan benar-benar milik rakyat, maka PSI tak boleh diam menyaksikan politik dagang ayam. PSI harus bersuara lantang menyaksikan parpol pendukung Jokowi tanpa malu meminta jatah jabatan.

PSI harus buktikan bahwa PSI bukan milik Grace dan bohir politik, melainkan PSI adalah milik rakyat Indonesia. Apa yang PSI tanam hari ini akan dipanen di masa datang. 

Di antara parpol baru, PSI memang unik. Selain diisi anak muda, PSI juga tampak kritis. Sayang, belakangan banyak diam. Banyak isu yang kurang mendapat respons dari elite PSI. Apakah efek hasil pileg atau keinginan bohir?

Pertanyaan apakah PSI terbebas dari bohir harus dijawab. Karena jawaban itu akan menentukan siapa pemilik PSI sesungguhnya, bohir atau rakyat. Yang pasti, PSI bukan milik Grace Natalie.