Peneliti
1 bulan lalu · 136 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 31393_90248.jpg

Nilai Hidup

Aku heran melihat orang yang habis makan bisa seenaknya saja pergi meninggalkan piring kotor dan sampah di tempatnya tadi tanpa mau mengurus dan memungutnya lagi.

Kalau di warung makan, atau restoran sih, tidak apa-apa. Memang bukan keharusan membereskan hasil memamah biak kita. Namun, ini banyak terjadi di sekitar kita, rumah misalnya. 

Di rumah tanteku. Ia yang sangat mengabdi pada konsep patriarki. Tanteku yang hidup sendiri ini sejak suaminya meninggal sangat menghormati anak laki-lakinya. 

Sebelum makan, piring khusus untuk mereka sudah ia siapkan di meja makan. Ketika selesai makan, mereka, sepupuku dengan tenang melenggang pergi. Tanpa mengangkat piring kotor itu terlebih dahulu.

Atau contoh lain, di suatu tempat, acara ziarah. Tradisi orang Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) ketika menziarahi suatu tempat biasanya makam atau rumah orang yang dihormati, annangguru (kiai) kami membawa makanan yang akan "dibaca", ikut dibacakan doa agar mendapat keberkahan. Maksudnya, sebagai wujud rasa syukur, makanan itu dibawa juga ikut serta dalam ritual ziarah. 

Namun, di tempat-tempat ini, lagi, banyak orang yang tidak peduli setelah membaca doa dan makan bersama. Mereka bisa pulang dengan sampah yang berserakan di mana-mana.

Contoh lagi, ketika aku masih berstatus mahasiswa dulu. Ketika aku dan teman-temanku mengikuti suatu pelatihan 'Keindonesiaan' dengan menginap beberapa hari di sebuah penginapan tradisional di atas gunung yang dingin.

Saat itu, pemateri Keindonesiaan sekaligus pemilik pondokan dibantu warga kampung dalam hal menyediakan konsumsi. Jadi kami tinggal mengikuti pelatihan tersebut. 

Baca Juga: Apa Itu Nilai?

Pelatihan itu sangat padat. Dimulai dari pagi sampai larut malam. Di malam hari, di mana orang kampung sudah tidur, kami masih saja disediakan kudapan berat seperti jagung, kacang, gorengan, dan teh hangat yang sudah siap sedia di meja makan.

Saat itu, aku sangat salut dengan seorang teman. Dia Ellen, perempuan cantik yang berhati baik. Di saat kami pergi tidur di malam hari, dia mengumpulkan piring dan gelas yang kotor dan mencucinya. Sendirian. 

Ketika aku bertanya padanya, mengapa mau repot dengan mencuci piring, bukankah sudah ada yang punya tugas? Dia menjawabnya sambil tersenyum dengan berkata, "Saya tidak repot kok. Saya sendiri yang mau membantu. Lagi pula, mengapa kita tidak mau berbuat baik untuk kebaikan kita sendiri dan orang kain?"

Esok malamnya, kak Ellen ke dapur lagi. Aku menemani Kak Ellen di di dapur. Kak Ellen tidak mengeluh, capek, atau mengantuk. Dia mencuci piring-piring itu dengan bahagia. Dia bernyanyi. Kak Ellen bilang, "Apa pun yang kita lakukan, harus dengan hati gembira." 

Alangkah tulusnya dirimu Kak Ellen. Aku tidak hanya melihat kecantikan fisiknya, tapi jiwanya. Dia yang bermata sayu, berhidung mancung, dan berkulit putih terlihat bersinar. Pancaran jiwa yang baik, dan suci. 

Malam berikutnya, bukan cuma aku, dan kak Ellen yang ada di dapur itu di larut malam. Ada dua tambahan personel. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Mereka ikut bergabung karena melihat kak Ellen bergerak. Ternyata, mereka termotivasi dari perilaku baik kak Ellen, cakep deh.

Perempuan Cantik dan Laki-Laki Tampan

Ada seorang ibu yang mengeluh kepadaku. Dia mengeluh melihat perilaku anak perempuannya yang ketika keluar rumah tampil cantik bak Syahrini dengan dandan habis-habisan. Namun, ketika di rumah malas banget membereskan kamarnya, apalagi untuk mencuci piring.

Aku hanya bisa tersenyum. Banyak dari kita yang seperti ini. Mengapa kita lebih suka terlihat keren tanpa benar-benar menjadi keren yang sebenarnya? dengan mau membantu orang tua. Minimal mau mengurus diri kita sendiri. 

Hal ini tidak hanya berlaku buat perempuan. Tapi, buat laki-laki juga. Lelaki yang biasanya terlihat tampan, cool di luar rumah harusnya begitu juga ketika di rumah. Mau membantu orang tuanya, di dapur misalnya. 


Kan' tidak salah, kalau membantu ibu di dapur untuk mencuci piring atau memasak. Walau bagi sebagian laki-laki, kata dapur itu milik perempuan. Mau kan dipuji dengan kalimat: "Anak gagahnya ibu." karena telah membantu ibu. Bukan dengan kalimat "Anak mama" karena malasnya.

Perilaku Hidup Kita

Terkadang, kita bersikap masa bodoh pada hal-hal yang kita anggap sepele, kecil, atau dan tidak penting. Misalnya, mengangkat piring kotor kita tadi atau membuang sampah kita yang pada tempatnya. Karena menganggap bukan tugas dan kewajiban kita.

Padahal, dari hal-hal sepele, kecil, atau dan mungkin tidak penting tadi mencerminkan perilaku kita yang juga hidup seenaknya. Hidup yang tidak mempunyai rasa peduli, bahkan mungkin empati pada keberadaan orang lain. Perilaku ini, menurutku, mencerminkan nilai-nilai yang kita anut sebagai manusia.

Nilai yang mengatur kita sebagai manusia yang berbudaya, beretika, bernorma, dan beradab. Apakah kita sudah menjadi manusia yang bernilai bagi manusia lainnya?

Artikel Terkait