Dalam hidup ini, kita tentunya mempunyai beberapa hal yang menjadi favorit kita untuk dilakukan, baik itu yang berhubungan dengan tempat, permainan, film, kegiatan, ataupun dengan makanan. Sebut saja beberapa orang mempunyai kegemaran untuk bermain sepak bola.

Di sisi lain, terdapat orang-orang yang memiliki kegemaran terhadap salah satu jenis makanan, seperti menyukai es krim. Sering kali mereka tidak akan berpikir panjang untuk menghabiskan uangnya demi makanan favoritnya tersebut. Mereka pun akan merasa sangat senang bila diberi es krim yang menjadi favorit mereka. 

Kedua hal yang telah dipaparkan sebelumnya tentu memiliki sebuah nilai bagi orang-orang tersebut. Permainan sepak bola ataupun es krim memiliki suatu nilai yang mungkin saja bagi orang lain kedua hal tersebut tidak memiliki nilai sama sekali.

Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan nilai. Nilai merupakan suatu sifat atau kualitas yang tidak nyata yang dimiliki oleh objek tertentu yang dikatakan “baik”. 

Nilai tidaklah membutuhkan suatu pengemban untuk berada. Nilai juga tidak menambah eksistensi dari benda itu sendiri. Kualitas merupakan bagian dari eksistensi sebuah objek.

Hingga sekarang ini, masih terdapat beberapa orang yang memperdebatkan permasalahan mengenai nilai. Di satu sisi, orang-orang menyebut bahwa nilai itu bersifat subjektif sedangkan di sisi lainnya beranggapan bahwa nilai itu bersifat objektif. 

Baca Juga: Apa Itu Nilai?

Bagi kaum objektivis, nilai objektif tidak bergantug pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif berada di luar naik-turunnya kesenangan yang kita alami. Bagi kaum subjektivis, nilai bergantung bergantung pada reaksi subjek itu sendiri. Subjektivisme berlindung pada pengalaman yang telah dialami oleh subjek. 

Dalam contoh yang telah diberikan sebelumnya, seseorang yang gemar bermain sepak bola tentu memiliki pandangannya akan apa yang dilakukannya tersebut. Bagi kaum subjektivis, nilai permainan sepak bola tersebut tergantung pada kenikmatan yang dialami oleh subjek ketika memainkan permainan sepak bola.  

Hal yang sama juga ditemukan pada seseorang yang menjadikan es krim sebagai makanan favoritnya. Bagi kaum subjektivis, nilai es krim tergantung pula pada kenikmatan yang dialami oleh subjek ketika ia memakan es krim.

Akan tetapi, hal tersebut dapat berubah dikarenakan oleh faktor fisiologis ataupun psikologis. Sebut saja ketika seseorang sedang dalam keadaan sakit yang dapat memengaruhinya dalam melakukan suatu hal. Ketika ia merasa lemah, maka ia tidak mempunyai semagat lagi untuk bermain sepak bola.

Faktor psikologis juga dapat memengaruhi seseorang untuk tidak merasakan suatu kenikmatan dari es krim yang dimakannya. Seseorang yang merasa sedih dapat saja kehilangan nafsu makannya terhadap apa yang menjadi favoritnya. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa ia gagal untuk merasakan kenikmatan. 

Kegagalan yang terjadi ini dapat mengakibatkan es krim itu tidak bernilai. Sama halnya dengan apa yang terjadi dengan permainan sepak bola di atas yang membuat permainan sepak bola tersebut juga tidak memiliki nilai.

Kaum objektivis sendiri menegaskan bahwa kenikmatan ataupun kesenangan itu bersifat inheren di dalam permainan sepak bola atau di dalam es krim. Jika hal ini tidaklah terjadi, maka permainan sepak bola atau es krim tersebut tidak akan menimbulkan suatu kenikmatan atau kesenangan. 

Akan tetapi, terdapat kompleksitas masalah yang muncul di antara pemikiran kaum subjektivis dan kaum objektivis. Seseorang tidak akan senantiasa menilai bermain sepak bola dengan cara yang sama. Dalam hal ini terdapat pengaruh dari aspek psikologis maupun aspek fisiologis.

Sebagai contohnya adalah ketika seseorang baru dapat bermain sepak bola lagi setelah mengalami kecelakaan. Rasa senang yang ada tentunya berbeda dengan perasaan senang yang ia rasakan sebelumnya. 

Hal serupa juga terjadi dengan orang yang memakan es krim dalam cuaca yang panas dengan memakan es krim dalam cuaca yang tidak panas. Di sisi lain, rasa nikmat yang dirasakan ketika memakan es krim tentunya berbeda ketika kita dalam suasana sedih ataupun sedang berbahagia. Semua kondisi fisiologis dan psikologis nyatanya sama-sama mempunyai pengaruh. 

Masalah kompleksitas juga ditemui di dalam objek. Ketika kita berbicara mengenai permainan sepak bola ataupun es krim, kita mempunyai pandangan bahwa objek tersebut seakan mempunyai esensi yang tidak dapat berubah. Pada kenyataannya, hal ini tidaklah sesuai.

Terdapat berbagai macam es krim yang ada di dunia ini. Jika rasa ataupun tekstur dari es krim berubah, maka rasa nikmat yang dirasakan juga berubah. Sama halnya dengan tekstur bola atau kondisi lapangan saat bermain bola juga ikut berpengaruh. 

Selain itu, faktor sosial budaya pun ikut memengaruhi. Kita dapat melihat perasaan senang yang dialami seseorang ketika bermain dengan sahabat-sahabatnya akan berbeda ketika ia bermain sepak bola dengan orang yang tidak dekat dengannya.

Oleh sebab itu, situasi dikenakan pada kompleks unsur dan suasana individual, sosial, budaya, dan sejarah. Nilai memiliki keberadaan dan makna hanya di dalam situasi yang konkret dan tertentu.