Makna Nilai pada Sebuah Karya Sastra

Nilai yang dimaksud di sini adalah berupa makna atau pesan yang terkandung di dalam suatu karya. Luxemburg dkk. (1989:5) menyatakan, makna sastra bergantung kepada kebudayaan dan zaman. Dapat diartikan bahwa nilai yang dibahas oleh penulis berdasarkan isu-isu atau peristiwa dan lingkungan yang memang sedang dialami oleh penulis.

Pendekatan Sosiologi terhadap Sebuah Karya Sastra

Pendekatan yang saya lakukan adalah pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra sering kali didefinisikan sebagai salah satu pendekatan dalam kajian sastra yang memahami dan menilai karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan (sosial). Dalam sosiologi sastra, orang menelaah pembaca dari berbagai segi yang lain.

Menurut A. Teeuw dalam bukunya "Sastra dan Ilmu Sastra", kenyataan dari segi sosiologi dapat dikatakan bukanlah kenyataan yang menentukan penafsiran kita terhadap kenyataan, tetapi rangka penafsiranlah yang menentukan apakah dan bagaimanakah kenyataan yang dapat kita lihat dan pahami serta cara kita melihatnya.

Novel "Azab dan Sengsara", Sebuah Roman Karya Merari Siregar

Merari Siregar lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, 13 Juli 1896. Masa kecil yang dilalui penulis berdarah Batak ini berada di kampung halamannya. Oleh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwanya amat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok.

Saat itu, ia kerap menjumpai beberapa kepincangan, khususnya mengenai adat, salah satunya adalah kawin paksa. Setelah beranjak dewasa dan tumbuh menjadi seorang yang terpelajar, sastrawan Merari Siregar ini melihat keadaan sebagian masyarakatnya mempunyai pola berpikir yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Oleh sebab itu, ia mulai tergerak untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang dinilainya masih kolot, terutama penduduk Sipirok. Perubahan itu dilakukan dirinya lewat goresan pena. Dan novel yang berbentuk roman dengan judul "Azab dan Sengsara" menjadi karya tulisnya yang paling tersohor.

Dalam roman ini, Merari juga menyisipkan nasihat-nasihat secara langsung kepada para pembaca. Namun nasihat ini tidak ada hubungannya dengan kisah tokohnya karena maksud pengarang menyusun buku itu sebetulnya untuk menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya.

Nilai yang Terkandung pada Novel "Azab dan Sengsara" Karya Merari Siregar

Nilai Agama

Tetap bersabar dalam menghadapi cobaan hidup yang menerpa dan berusaha menghadapinya dengan tabah serta bertawakal kepada Allah. Seperti yang dilakukan Mariamin yang selalu mendapatkan sengsara karena hidupnya yang mengalami kemelaratan.

Hal itu pun digambarkan oleh tokoh Ibu dari Mariamin yang senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi suaminya Sutan Baringin yang selalu membuatnya sakit hati atas segala ucapan maupun perbuatannya yang kasar. Namun, sekali pun Ia tidak pernah untuk menyalahkan nasib.

Kemudian di akhir cerita pun terdapat nilai agama yang sangat berharga menurut saya. Nilai itu adalah mengenai kembalinya kita kepada sang pencipta yaitu Tuhan kita, bagaimanapun hidup yang telah kita jalani dalam keadaan senang ataupun susah pada akhirnya semua itu akan berakhir.

Nyawanya sudah bercerai dengan badan, daging dan tulang belulang itu busuk menjadi tanah, akan tetapi arwah yang suci itu naik ke tempat yang mahamulia, yang disediakan Tuhan seru sekalian alam untuk umatnya yang percaya kepada-Nya.

Maka di sanalah air mata itu kering karena suatu pun tak ada lagi yang menyusahkan hati. Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad badan yang kasar itu.

Nilai Sosial

Sikap tolong menolong yang sering dilakukan Aminuddin seperti saat membantu Mariamin yang berteriak meminta pertolongan karena terjatuh di sungai. Saat itu Mariamin Aminuddin sedang sedang meniti jembatan untuk menyebrangi sungai yang arusnya deras, namun tiba – tiba Mariamin terjatuh dan dengan sigap Aminuddin menolong Mariamin.

Masyarakat di sekitar desa Sipirok juga melakukan hal yang sama yaitu mereka hidup saling tolong menolong. Hal itu terjadi ketika masyarakat saling membantu walaupun dalam keadaan serba kekurangan seorang Ibu yang hendak melahirkan anaknya sendirian karena ditinggal pergi oleh suaminya.

Nilai Budaya

Adat Melayu masyarakat Sipirok waktu itu masih sangat kental. Seperti perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Aminuddin dan Aminuddin pun menerimanya. Dalam hal perjodohan ini juga masih ada aturan yang berlaku yaitu anak orang terpandang haruslah menikah dengan anak orang terpandang pula.

Kemudian ada pula nilai budaya mengenai masyarakat yang masih sangat menghormati kepala kampungnya. Kepala kampung dianggap sebagai orang yang sangat tinggi kedudukannya.

Seperti Ayah Aminuddin merupakan seorang kepala kampung yang sangat terkenal terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Sehingga masyarakat di sekitar Sipirok sangat segan dan hormat kepada keluarga itu.

Nilai Moral

Roman Azab dan Sengsara ini juga mengandung nilai moral yaitu kepatuhan anak kepada orang tuanya, seperti Mariamin yang sangat berbakti kepada ibunya. Dengan sabar dan ikhlas ia merawat ibunya yang sedang sakit parah. Tidak pernah sedikitpun ia menyakiti hati ibunya dengan memperlihatkan rasa kesedihannya karena ditinggal oleh Aminuddin.

Ada pula adik dari Sutan Baringin yang memperlihatkan nilai moral kepada kita semua, yang bernama Baginda Mulia. Ia sangat menghormati kakaknya, padahal Sutan Baringin sangat membencinya dan bahkan telah menuduhnya ingin merebut harta warisan peninggalan neneknya.

Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan yang dapat kita petik dari roman Azab dab Sengasara ini, yaitu jadi anak haruslah patuh kepada kedua orang tua dan selalu menuruti apakata mereka selama itu bukan perbuatan maksiat. Selain itu, kita juga harus belajar untuk dapat bersabar karena orang yang bersifat baik belum tentu meraskan hidup yang baik pula.

Nilai Kekeluargaan

Dalam hal pernikahan pada masyarakat Batak akan mencari jodoh pada persukuan (marga) yang lain. Peraturan  - peraturan inilah yang akan memperluas kekerabatan masyarakat Batak, dalam segi kuantitas. Jadi mereka tidak hanya mengenal sesama marga, tetapi akan berupaya mengenal masyarakat dari marga lain pula.

Hubungan pernikahan inilah yang menjadi penyambung komunikasi antara satu marga dengan marga lainnya. Masyarakat Batak akan selalu berupaya untuk menyambung tali silaturahmi.

Hubungan silaturahmi juga jelas digambarkan oleh Aminuddin yang berkunjung ke rumah Mariamin di Medan setelah mendengar kabar bahwa Mariamin telah menikah dan tinggal di Medan bersama suaminya. Aminuddin mengunjungi Mariamin karena menganggap sebagai saudara satu kampunya.

Sumber Rujukan

  • I Wayan Artika, “Teori Dalam Pengajaran Sastra”, https://TeoriSastra+jurnal.com
  • Wiyatmi, “Sosiologi Sastra”, (Yogyakarta: Kanwa Publisher, 2013)
  • Luxemburg, dkk, “Tentang Sastra”, (Jakarta: Intermasa, 1991)
  • A. Teeuw, “Sastra dan Ilmu Sastra”, (Bandung: Pustaka Jaya)
  • Merari Siregar, “Azab dan Sengsara”, (Jakarta: Balai Pustaka, 1920)